Beranda / Hikmah / Insight / Overconfidence, ketika Yakin menjadi Fakta

Overconfidence, ketika Yakin menjadi Fakta

“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…” (QS. Al-Ḥujurāt: 6)

NidaulQur’an.ID–Ada sesuatu yang menarik dari cara manusia memperlakukan informasi: kita sering merasa sudah mengetahui sesuatu jauh sebelum benar-benar memeriksanya. Sebuah video berdurasi tiga puluh detik, potongan pernyataan, judul yang meyakinkan, atau cerita yang terdengar masuk akal dapat segera berubah menjadi “kebenaran” di kepala. Daniel Kahneman dalam bukunya Thinking, Fast and Slow (2011) menunjukkan bahwa pikiran manusia memiliki kecenderungan mengandalkan penilaian cepat dan intuitif, sementara pemeriksaan secara lambat dan analitis membutuhkan perhatian serta usaha lebih besar.

Di sinilah narrative fallacy (kekeliruan narasi) bekerja. Manusia menyukai cerita yang utuh: ada sebab, akibat, tokoh, konflik, lalu kesimpulan. Masalahnya, kehidupan nyata sering jauh lebih berantakan daripada cerita yang kita bangun, tetapi pikiran justru cenderung merapikannya menjadi rangkaian sebab-akibat yang terasa masuk akal. Di media sosial, potongan informasi yang terpisah-pisah dengan mudah dirangkai menjadi sebuah cerita yang tampak lengkap, meskipun sebagian mata rantainya belum pernah diverifikasi.

Dari sana muncul illusion of understanding (ilusi pemahaman). Kita merasa memahami suatu persoalan karena mampu menjelaskan ceritanya, padahal mengetahui alur cerita tidak sama dengan mengetahui seluruh fakta yang menopangnya. Kahneman menunjukkan bahwa rasa memahami sering kali muncul karena sebuah penjelasan terasa koheren, bukan karena seluruh informasi yang diperlukan benar-benar tersedia

Media sosial menyediakan kondisi yang sangat subur bagi ilusi tersebut. Di Indonesia, 64% responden dalam Digital News Report 2026 mengatakan memperoleh berita melalui WhatsApp, YouTube, Facebook, dan TikTok. WhatsApp sendiri digunakan oleh 56% responden untuk mendapatkan berita. Pada saat yang sama, tingkat kepercayaan terhadap berita secara keseluruhan di Indonesia turun menjadi 32%, sementara Reuters Institute (2026) juga mencatat persoalan “homeless media”, yakni situs atau akun yang mengambil berita dari sumber lain lalu memuat ulang atau membuatnya lebih sensasional sehingga akurasinya dapat berubah (Reuters Institute.

Kemudian datang illusion of validity (ilusi validitas): perasaan bahwa sebuah penilaian pasti benar hanya karena bukti yang kita lihat tampak konsisten. Kita melihat beberapa komentar yang sependapat, beberapa video dengan narasi serupa, atau sejumlah akun yang mengulang klaim yang sama, lalu menganggap pengulangan sebagai konfirmasi. Padahal, sepuluh akun yang mengutip sumber yang sama tetap hanya menghasilkan satu sumber awal, bukan sepuluh bukti independen.

Kondisi ini kemudian mudah melahirkan overconfidence (kepercayaan diri berlebihan). Penelitian Lyons et al. (2021) menemukan bahwa tiga dari empat responden Amerika Serikat melebihkan kemampuan mereka dalam membedakan berita benar dan palsu; rata-rata mereka menempatkan kemampuan dirinya sekitar 22 persentil lebih tinggi daripada kemampuan aktualnya. Individu yang lebih overconfident juga lebih mungkin mengunjungi situs yang tidak tepercaya, gagal membedakan klaim benar dan palsu, serta bersedia menyukai atau membagikan informasi palsu di media sosial.

Yang menarik, persoalannya bukan berarti manusia sama sekali tidak mampu membedakan kebenaran dan kebohongan. Meta-analisis Pfänder dan Altay (2025), yang menggabungkan 303 ukuran efek dari 67 artikel eksperimental dengan 194.438 peserta di 40 negara, menemukan bahwa secara umum peserta mampu menilai berita benar lebih akurat daripada berita palsu. Artinya, persoalan informasi bukan hanya kemampuan mengenali kesalahan, tetapi juga kapan seseorang mau berhenti, memeriksa, dan memberi kesempatan kepada bukti untuk berbicara.

Ada pula hindsight bias (bias melihat ke belakang). Setelah sebuah peristiwa terjadi, kita sering merasa bahwa hasil tersebut sebenarnya sudah dapat diprediksi sejak awal: “Saya sudah tahu itu akan terjadi.” Media sosial memperkuat ilusi ini karena setelah suatu peristiwa viral, ribuan unggahan lama dapat dipilih, disusun ulang, lalu digunakan untuk membangun kesan bahwa tanda-tandanya sejak awal sudah jelas. Padahal, mengetahui hasil akhir membuat rangkaian kejadian masa lalu tampak lebih teratur daripada ketika keputusan itu benar-benar harus dibuat.

Lalu bagaimana dengan expert judgment (penilaian pakar)? Keahlian tetap penting, tetapi gelar, jabatan, atau popularitas tidak otomatis membuat setiap penilaian benar; kualitas expert judgment sangat bergantung pada pengalaman, lingkungan yang memungkinkan pola dipelajari, serta adanya umpan balik yang cukup. Dalam ekosistem digital, seseorang dapat terlihat seperti pakar karena memiliki jutaan pengikut, tetapi jumlah pengikut bukan ukuran validitas pengetahuan.

Masalah menjadi lebih rumit ketika semua bias itu bekerja sekaligus. Sebuah cerita yang menarik menciptakan narrative fallacy, cerita tersebut membuat kita merasa memahami melalui illusion of understanding, konsistensi informasi memberi illusion of validity, hasil akhirnya kemudian terasa “sudah jelas” melalui hindsight bias, dan seluruh proses ditutup oleh overconfidence. Pada titik itu, orang tidak lagi sekadar menerima informasi; ia merasa memiliki kepastian tentang informasi tersebut.

Karena itu, tabayyun bukan sekadar anjuran moral, tetapi juga kebiasaan epistemik yang relevan dengan cara kerja pikiran manusia. Perintah Al-Qur’an untuk meneliti berita sebelum bertindak memiliki relevansi kuat dengan ekosistem informasi ketika berita bergerak lebih cepat daripada proses pemeriksaan. Di tengah lingkungan digital yang pada 2026 secara global membuat media sosial dan jaringan video menjadi sumber akses berita online paling banyak digunakan sebanyak 54% responden, sementara 62% menyatakan khawatir mengenai berita palsu atau menyesatkan, jeda sebelum percaya justru menjadi semakin berharga (Reuters Institute, 2026).

Pada akhirnya, masalah kebenaran informasi bukan semata-mata tentang siapa yang paling banyak membaca atau siapa yang paling cepat menemukan informasi. Tantangan yang lebih dalam adalah kemampuan mengatakan, “Saya belum tahu,” ketika bukti belum cukup. Kebenaran tidak menjadi benar karena sebuah cerita terdengar meyakinkan, karena banyak orang mengulanginya, atau karena kita sangat yakin kepadanya; kebenaran menuntut bukti yang dapat diperiksa. Di zaman ketika setiap orang dapat menjadi penyebar informasi, kerendahan hati intelektual mungkin justru menjadi bentuk literasi yang paling penting.[]

Tag: