nidaulquran.id-Buya Hamka dalam Pandangan Hidup Muslim menyebutkan bahwa sumber cahaya manusia itu ada dua. Pertama, cahaya dari langit. Kedua, cahaya dari bumi. Orang shalih yang kuat hubungannya dengan Allah akan memperoleh cahaya dari langit. Sedangkan orang berpangkat yang kuat hubungannya dengan orang yang berkuasa akan memperoleh cahaya dari bumi. Kedua cahaya itu akan redup atau bahkan padam manakala hubungan antara yang memberi cahaya dan yang diberi cahaya terputus (Hamka, 2016).
Tak bisa dimungkiri bahwa banyak orang hidup adalah untuk mencari cahaya, baik itu cahaya dari langit ataupun cahaya dari bumi. Banyak orang yang berlomba-lomba berburu cahaya dari bumi hingga melupakan cahaya dari langit.
Cahaya dari bumi itu seperti status sosial, pangkat, jabatan, kekayaan, dan lain-lain. Selama cahaya ini masih melekat pada pemiliknya, mau tak mau orang-orang yang memiliki kepentingan dan butuh dengannya harus hormat kepadanya.
Apabila suatu saat nanti cahaya dari bumi mulai meredup atau padam, yakni status sosial, kekayaan, pangkat, dan jabatan itu sudah tak lagi melekat, orang-orang tak akan lagi menaruh hormat kepadanya.
Cahaya dari langit, cahaya ini berasal dari Allah Yang Maha Kuasa. Seseorang yang hatinya tulus dan mulia sikapnya akan mendapatkan cahaya ini. Tak peduli bagaimana status sosialnya, tak peduli seberapa harta kekayaan yang ia punya, cahaya ini akan memancar menerangi sekelilingnya.
Orang-orang akan menaruh hormat kepadanya lantaran kejernihan hatinya, ketakwaannya kepada Rabbnya menjadikan ia bercahaya. Cahaya dari langit tidaklah diberikan kepada orang yang berpura-pura mencarinya. Allah Maha Mengetahui apa-apa yang tersembunyi di hati.
Orang-orang yang membenarkan segala cara untuk mendapatkan cahaya dari bumi adalah orang yang lupa. Mereka lupa bahwasannya hidupnya di bumi tidaklah kekal.
Apabila ada orang-orang yang mendapatkan cahaya dari bumi ini dengan jalan yang benar, tak seharusnya mereka berlaku semena-mena. Mereka mendapatkan cahaya dari bumi ini adalah lantaran bantuan orang lain pula.
Amanah Harus Dijaga
Menjadi pemimpin atau pejabat di negeri ini merupakan sebuah amanah besar dari rakyat yang harus ditunaikan dengan penuh tanggung jawab. Amanah-amanah yang diemban sudah semestinya dipergunakan untuk berbagai kemaslahatan.
Sudah delapan puluh tahun Indonesia merdeka dari penjajah asing. Kini tinggal kita mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang berguna bagi kemajuan bangsa.
Para pejabat yang diberi kesempatan untuk memimpin bangsa ini hendaklah memimpin dengan benar dan amanah. Berbagai pemberitaan negatif mengenai pejabat yang menyalahgunakan kewenangannya, menilep uang negara, tidak melaksanakan tugas dengan tanggung jawab, dan berbagai perbuatan negatif lainnya sudah semestinya disudahi. Negeri ini harus segera pulih.
Berbagai sikap arogan yang kian hari kian marak dipertontonkan pejabat terhadap rakyatnya merupakan alamat begitu rendahnya nilai pribadi. Banyak di antara mereka yang lupa bahwa usia hanya sementara. Setelah hidup di dunia ini akan ada lagi kehidupan akhirat tempat di mana setiap perbuatan manusia akan dimintai tanggung jawab dengan adil.
Setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemimpin akan selalu dikenang oleh rakyatnya meski sudah berlalu beberapa generasi. Sekarang, kalau kita berkata di tengah-tengah masyarakat tentang seorang pemimpin yang disebut Fir’aun maka masyarakat akan terbayang bagaimana Fir’aun memimpin rakyat di masanya.
Meski era kepemimpinan Fir’aun sudah berlalu sekian lama, masyarakat di jaman ini masih bisa mengerti ceritanya. Kisah mengenai Fir’aun akan terus dibicarakan dari generasi ke generasi untuk diambil pelajarannya.
Adapula kisah kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz yang dengan penuh amanah menjalankan tugasnya akan selalu dikenang dan diceritakan dari generasi ke generasi untuk diteladani. Pemimpin yang amanah akan meninggalkan jejak kebaikan yang akan selalu dikenang sepanjang masa.
Rakyat Mendukung dan Mengawal
Berbagai kebijakan pemimpin mustahil akan terlaksana dengan baik apabila tidak mendapat dukungan dari rakyat.
Berbagai program baik yang sudah digagas oleh pemimpin haruslah dikawal oleh rakyat sebagai bentuk dukungan penuh guna mencapai kemaslahatan bersama. Oleh karena itu kebijakan-kebijakan yang disusun oleh pemimpin sudah semestinya berpihak untuk rakyat.
Jika negeri ini ingin menjadi lebih baik maka rakyat dan pemimpin harus menjadi lebih baik pula. Orang kaya tidak boleh berpura-pura miskin demi mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah. Biarlah bantuan sosial hanya untuk orang-orang miskin yang membutuhkannya.
Apabila ada satu atau beberapa kebijakan pemimpin negeri ini yang tidak berpihak bagi rakyat, sudah semestinya rakyat mengingatkan dengan cara-cara yang legal. Pemimpin dan rakyat harus menyatu demi terwujudnya kemajuan negeri.
Para pemimpin dan rakyat hendaklah berlaku jujur dalam kehidupan bernegara. Jika sekarang para pemimpin sedang menikmati cahaya dari bumi karena jabatannya, jangan lupakan cahaya dari langit yang hanya bisa diraih dengan ketakwaan pada Rabb semesta alam. Jadilah rakyat dan pemimpin yang bertakwa.












