nidaulquran.id-Dunia Islam kembali berduka atas wafatnya salah satu pilar keilmuan kontemporer, Syekh Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitou. Ulama terkemuka asal Suriah yang lama menetap di Kuwait ini meninggal dunia pada usia 83 tahun. Kepergian beliau meninggalkan lubang besar bagi umat Islam, khususnya para pengkaji mazhab Syafi’i dan ilmu ushul fiqh di seluruh dunia yang selama ini menjadikan karya-karya beliau sebagai rujukan utama.
Profil dan Perjalanan Intelektual Syekh Hasan Hitou
Syekh Hasan Hitou lahir di Damaskus, Suriah, pada tahun 1943. Sejak usia muda, beliau telah menunjukkan kecerdasan luar biasa dan minat yang mendalam pada ilmu-ilmu syariah. Meskipun pada awalnya sempat memiliki ketertarikan pada bidang sains dan matematika, jalan hidup membawanya untuk mendalami agama secara mendalam di pusat-pusat keilmuan Islam paling berpengaruh.
Kelahiran dan Pendidikan di Suriah hingga Mesir
Beliau menyelesaikan pendidikan dasarnya di Damaskus sebelum memutuskan untuk melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir. Di universitas tertua tersebut, beliau mendalami berbagai disiplin ilmu, termasuk logika (mantiq) dan hukum Islam. Pendidikan di Al-Azhar membentuk fondasi berpikirnya yang kritis namun tetap berpegang teguh pada tradisi turats atau kitab kuning. Setelah menyelesaikan studinya di Mesir, beliau kembali ke Suriah dan meraih gelar sarjana dari Universitas Damaskus pada tahun 1973.
Pada pertengahan 1980-an, tepatnya tahun 1985, Syekh Hasan Hitou mulai mengabdikan dirinya sebagai tenaga pendidik di Universitas Kuwait. Di sana, beliau menjadi profesor yang sangat dihormati dan memberikan kontribusi besar dalam pengembangan kurikulum hukum Islam. Beliau dikenal sebagai guru yang disiplin dan memiliki kedalaman analisis, terutama dalam membedah teks-teks klasik ushul fiqh untuk relevansi zaman modern.
Kontribusi Keilmuan dan Karya Monumental
Sepanjang hayatnya, Syekh Hasan Hitou dikenal sebagai penulis yang sangat produktif. Karya-karyanya menjadi rujukan penting di berbagai pesantren dan universitas Islam, termasuk di Indonesia, karena ketajaman argumen dan kejernihan bahasanya.
Kitab Fiqh Shiyam: Panduan Komprehensif Ibadah Puasa
Salah satu karya beliau yang paling fenomenal dan eksis hingga saat ini adalah kitab Fiqh Shiyam. Kitab ini dianggap sebagai salah satu karya terbaik yang membahas masalah puasa secara komprehensif. Dalam buku tersebut, beliau tidak hanya menjelaskan hukum-hukum praktis, tetapi juga memaparkan sejarah puasa, ketetapan awal Ramadan (tsubut ramadhan), hingga perbandingan pendapat para ulama dengan argumentasi yang sangat kuat. Kitab ini menjadi bukti kepiawaian beliau dalam menyederhanakan masalah yang kompleks bagi masyarakat luas.
Fokus pada Ushul Fiqh dan Tradisi Syafi’i
Meskipun menguasai berbagai bidang, spesialisasi utama beliau terletak pada ilmu ushul fiqh. Karya monumental lainnya seperti Al-Wajiz fii Ushul at-Tasyri dan Al-Hadits al-Mursal Hujjiyatuhu wa Atsaruhu fii al-Fiqhi al-Islami menunjukkan dedikasinya dalam menjaga metodologi pengambilan hukum dalam Islam. Sebagai penganut mazhab Syafi’i, beliau sangat teguh dalam menjaga tradisi keilmuan mazhab tersebut, namun tetap terbuka terhadap perbandingan mazhab yang objektif.
Warisan Pemikiran dan Akhir Hayat Sang Ulama
Syekh Hasan Hitou bukan sekadar seorang akademisi, melainkan juga seorang pendidik jiwa. Salah satu pesan bijak beliau yang sering dikutip oleh para santri dan mahasiswa adalah, “Yang menjadi penentu kesuksesan adalah siapa yang bersungguh-sungguh, bukan siapa yang lebih dulu.” Pesan ini menekankan pentingnya istiqamah dan kerja keras dalam menuntut ilmu.
Akhir Hayat dan Duka Dunia Islam
Kabar wafatnya Syekh Hasan Hitou di Kuwait memicu gelombang duka dari berbagai tokoh agama dan lembaga Islam dunia, termasuk Nahdlatul Ulama (NU) di Indonesia. Beliau dikenal sebagai sosok yang moderat dan jauh dari pemikiran radikal, selalu menekankan pentingnya pemahaman fiqh yang berbasis pada dalil yang kuat dan konteks yang tepat. Warisan intelektualnya berupa puluhan kitab dan ribuan murid akan terus menjadi amal jariyah yang menerangi jalan umat Islam di masa depan.











