Beranda / Quranic / Tadabbur Quran / Teologi Petani: Manusia Menanam, Allah Menumbuhkan

Teologi Petani: Manusia Menanam, Allah Menumbuhkan

teologi petani

nidaulquran.id-Petani barangkali termasuk manusia yang paling akrab dengan batas ikhtiar. Ia bisa memilih benih, membalik tanah, mengatur air, menjaga tanaman dari hama, dan menunggu musim dengan sabar. Tetapi setelah semua dilakukan, ia tetap tidak bisa memaksa benih hidup.

Di tangan manusia, tanah diolah. Di hadapan Allah, benih ditumbuhkan.

Al-Qur’an mengajak manusia memperhatikan kenyataan sederhana ini. Bukan dari langit yang jauh, melainkan dari tanah yang setiap hari dipijak. Allah berfirman:

أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَحْرُثُونَ، أَأَنْتُمْ تَزْرَعُونَهُ أَمْ نَحْنُ الزَّارِعُونَ

“Maka, pernahkah kamu memperhatikan apa yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkan?” (QS. al-Wāqi‘ah [56]: 63–64).

Ayat ini tidak sedang berbicara tentang pertanian dalam arti teknis. Ibn ‘Āsyūr menempatkannya dalam rangkaian argumen Al-Qur’an tentang kuasa Allah, terutama untuk membantah pengingkaran terhadap kebangkitan. Setelah manusia diajak melihat penciptaan dirinya, Al-Qur’an mengalihkan perhatian kepada tumbuhnya tanaman sebagai bentuk lain dari penciptaan setelah ketiadaan (Ibnu ’Âsyûr, 1431, hlm. 319).

Namun, justru karena ayat ini memakai pengalaman bertani, ia menyimpan pelajaran yang sangat dekat dengan hidup manusia. Ada kerja yang manusia lakukan. Ada hasil yang tidak sepenuhnya manusia kuasai.

Manusia Mengolah, Allah Menumbuhkan

Al-Qurṭubī menjelaskan bahwa ayat ini menjadi hujjah lain tentang kuasa Allah. Manusia memang membajak tanah dan meletakkan benih. Tetapi apakah mereka yang menumbuhkan benih itu hingga menjadi tanaman, memiliki bulir, dan memberi hasil? Jawabannya dikembalikan kepada Allah. Menurut al-Qurṭubī, manusia hanya melakukan penaburan benih dan pembelahan tanah, sedangkan keluarnya bulir dari biji bukan berada di tangan mereka (Al-Qurthubî, 1432, hlm. 217).

Di sinilah perbedaan antara ḥarth dan zar‘ menjadi penting. Al-Qur’an menyandarkan ḥarth kepada manusia melalui frasa mā taḥruthūn, apa yang kamu olah atau tanam. Tetapi ketika berbicara tentang tumbuhnya tanaman, Al-Qur’an bertanya, a-antum tazra‘ūnahū am naḥnu al-zāri‘ūn, apakah kamu yang menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkan?

Al-Qurṭubī menegaskan bahwa ḥarth adalah perbuatan manusia dan berjalan menurut pilihan mereka, sedangkan zar‘ adalah perbuatan Allah dan tumbuh menurut kehendak-Nya, bukan menurut kehendak manusia (Al-Qurthubî, 1432, hlm. 218).

Maka, ayat ini tidak menghapus peran manusia. Ia justru mengakuinya. Manusia tetap menanam. Manusia tetap mengolah tanah. Manusia tetap bekerja. Tetapi ayat ini juga menahan manusia agar tidak merasa menjadi pemilik penuh atas hasil.

Petani tahu hal itu dengan sangat nyata. Ia bisa bekerja sungguh-sungguh, tetapi hujan, tanah, hama, angin, panas, dan rahasia kehidupan pada benih tidak seluruhnya tunduk kepada keinginannya.

Bukan Alasan untuk Pasif

Ayat ini mudah disalahpahami jika dibaca secara fatalistik. Karena Allah yang menumbuhkan, lalu manusia merasa cukup menunggu. Padahal, ayat ini tidak berkata, “Jangan menanam.” Ayat ini justru dimulai dari kerja manusia: mā taḥruthūn, apa yang kalian olah.

Yang dikritik bukan kerja manusia, melainkan klaim manusia yang merasa hasil sepenuhnya lahir dari kuasanya sendiri. Al-Qur’an tidak sedang meniadakan ikhtiar. Ia sedang mengembalikan ikhtiar kepada tempatnya.

Ibn ‘Āsyūr membaca mā taḥruthūn bukan sekadar tanah yang dibajak, tetapi tanaman yang menjadi tujuan dari kerja mengolah tanah. Menurutnya, pertanyaan a-antum tazra‘ūnahū adalah pertanyaan pengingkaran. Maksudnya, manusia bukan penumbuh sejati. Allah-lah yang menumbuhkan, sementara kerja manusia tidak cukup untuk menjelaskan munculnya kehidupan dari biji (Ibnu ’Âsyûr, 1431, hlm. 320).

Dari sini, teologi petani bukan teologi pasif. Ia bukan ajaran untuk duduk menunggu hasil tanpa kerja. Ia justru mengajarkan dua kesadaran sekaligus. Pertama, manusia harus bekerja pada wilayah yang memang diserahkan kepadanya. Kedua, manusia tidak boleh sombong terhadap hasil yang pada akhirnya tetap berada dalam kuasa Allah.

Dalam konteks inilah gagasan “teologi petani” menjadi menarik. Wardani, dalam pembahasan tentang Islam dan pengentasan kemiskinan, menyebut perlunya teologi aktivisme, yaitu pandangan keagamaan yang tidak jatuh pada fatalisme dan angan-angan. Ia juga menyinggung “teologi pekerja, seperti teologi para petani” dengan bertolak dari ayat “apakah kalian tidak memperhatikan apa yang kalian tanam?” Teologi semacam ini tidak hanya memberi dasar bagi aktivitas sehari-hari, tetapi juga menekankan aktivisme (Wardani, 2011, hlm. 90).

Dengan kata lain, petani tidak boleh berhenti bekerja atas nama takdir. Tetapi petani juga tidak boleh menuhankan kerja atas nama produktivitas.

Adab Menyebut Hasil

Al-Qurṭubī mengutip riwayat dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. melarang seseorang berkata, “Aku menumbuhkan,” dan mengarahkan agar ia berkata, “Aku mengolah.” Abu Hurairah lalu mengaitkannya dengan firman Allah, a-antum tazra‘ūnahū am naḥnu al-zāri‘ūn. Al-Qurṭubī menjelaskan bahwa larangan itu adalah larangan bimbingan dan adab, bukan larangan haram (Al-Qurthubî, 1432, hlm. 218).

Catatan ini penting. Islam tidak sedang mempermasalahkan istilah sehari-hari secara kaku. Orang tetap bisa disebut petani atau penanam dalam bahasa umum. Namun, ayat ini mendidik kesadaran batin agar manusia tidak keliru membaca hasil.

Ada perbedaan antara berkata, “Aku bekerja,” dan berkata dalam hati, “Semua ini murni karena aku.” Yang pertama adalah pengakuan atas ikhtiar. Yang kedua adalah kesombongan halus yang lupa kepada Allah.

Al-Qurṭubī bahkan mengutip ucapan jangan hanya berkata “aku mengolah lalu berhasil,” tetapi katakan, “Allah menolongku, lalu aku mengolah; Allah memberiku dengan karunia-Nya apa yang aku peroleh” (Al-Qurthubî, 1432, hlm. 218).

Kalimat itu sangat dekat dengan hidup petani, tetapi juga berlaku untuk semua pekerja. Guru mengajar, tetapi tidak menciptakan hidayah pada muridnya. Pedagang berusaha, tetapi tidak menggenggam seluruh sebab rezeki. Penulis menulis, tetapi tidak menentukan sepenuhnya apakah tulisannya akan menyentuh hati orang lain. Manusia bergerak pada wilayah ikhtiar, sedangkan hasil tetap berada dalam jaringan sebab yang lebih luas dan dalam kuasa Allah.

Melawan Dua Ekstrem

QS. al-Wāqi‘ah [56]: 63–64 melawan dua ekstrem sekaligus.

Ekstrem pertama adalah fatalisme. Ini muncul ketika manusia berlindung di balik kalimat “Allah yang menentukan” untuk membenarkan kemalasan, ketidakseriusan, atau keengganan memperbaiki keadaan. Padahal ayat ini tetap menyebut kerja manusia. Tanah tetap harus diolah. Benih tetap harus ditanam. Usaha tetap harus dilakukan.

Ekstrem kedua adalah kesombongan produktivitas. Ini muncul ketika manusia merasa semua hasil berada di bawah kendalinya. Ia lupa bahwa tubuh yang kuat, tanah yang menerima benih, air yang turun, matahari yang menyinari, dan kehidupan yang tumbuh bukan ciptaan dirinya.

Teologi petani berdiri di antara keduanya. Ia mengajarkan kerja tanpa kesombongan dan tawakal tanpa kemalasan.

Petani menanam karena ia percaya bahwa ikhtiar bermakna. Ia berdoa karena ia tahu bahwa hasil tidak seluruhnya berada di tangannya. Ia merawat tanaman karena ia bertanggung jawab. Ia menerima hasil dengan syukur atau sabar karena ia sadar ada wilayah yang tidak bisa dipaksa.

Itulah sebabnya ayat ini sangat dekat dengan problem manusia modern. Banyak orang cemas karena ingin mengendalikan semua hasil. Banyak pula yang pasif karena merasa hasil tidak bisa dikendalikan sama sekali. Al-Qur’an mengembalikan keseimbangan itu: kerjakan bagianmu, tetapi jangan merasa menjadi Tuhan atas hasilmu.

Teologi petani adalah teologi kerja yang rendah hati. Ia lahir dari kesadaran bahwa manusia memang diberi ruang untuk berusaha, tetapi tidak diberi kuasa penuh atas hasil.

QS. al-Wāqi‘ah [56]: 63–64 tidak mengajarkan manusia meninggalkan ladang. Ia justru mengajak manusia melihat ladang dengan iman. Ada tanah yang dibelah, benih yang diletakkan, tangan yang bekerja, dan tubuh yang lelah. Tetapi ada pula kehidupan yang tumbuh, yang tidak bisa diciptakan manusia dari dirinya sendiri.

Manusia menanam. Allah menumbuhkan.

Di antara dua kalimat itu, iman bekerja. Bukan untuk membuat manusia berhenti berusaha, tetapi agar manusia bekerja tanpa lupa kepada Allah. Wallāhu a‘lam.

Daftar Pustaka

Al-Qurthubî, A. ‘Abdillâh M. bin A. al-Anshârî. (1432). Al-Jâmi‘ li Aḥkâm al-Qur’ân (2 ed., Vol. 17). Dâr al-Kutub al-Mishriyah.
Ibnu ’Âsyûr, M. al-Thâhir. (1431). Al-Tahrîr wa al-Tanwîr (Vol. 27). Al-Dâr al-Tûnisiyyah li al-Nasyr.
Wardani, W. (2011). AGAMA DAN KEMISKINAN (hlm. 85–108).

Tag: