Oleh:
Supriyanto, S.T., M.Sc., M.Eng., Ph.D. (Dosen Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta)
nidaulquran.id-Bulan Ramadan yang memotivasi diri kita untuk menjadi orang yang bertakwa, yaitu orang yang senantiasa berusaha untuk berbuat kebaikan, telah berlalu. Setelah itu, kita berhadapan dengan bulan-bulan lain yang akan menguji konsistensi kita dalam berbuat kebaikan.
Allah SWT mencintai orang-orang yang berbuat baik, dan hal itu disebutkan dalam firman-Nya Q.S. Ali Imran ayat 133–134. Dalam ayat tersebut, Allah memberikan petunjuk tiga perilaku yang dicatat sebagai kebaikan di sisi-Nya. Amal tersebut adalah berinfak saat lapang dan sempit, mengendalikan amarah, dan memaafkan kesalahan orang lain. Barang siapa yang mengerjakan tiga kebaikan ini, Allah akan mengampuni dan memberikan surga untuknya.
“Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q.S. Ali Imran: 133–134)
1. Berinfak di Saat Lapang dan Sempit
Berinfak adalah memberikan harta atau barang berharga yang dimiliki kepada orang lain yang membutuhkan karena Allah. Jadi, amalan ini sifatnya satu arah, yaitu dari pemberi ke penerima, dan tidak sebaliknya. Kita biasanya lebih mudah berinfak saat lapang, namun terasa berat saat kita dalam keadaan sempit, apalagi saat uang atau harta kita sedikit.
Rasulullah memberikan solusi supaya kita bisa terus berinfak, yaitu melakukannya secara rutin walaupun sedikit .
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta‘ala adalah amalan yang kontinu (rutin), walaupun itu sedikit.” (HR. Muslim No. 783 & Bukhari No. 6464).
Infak bisa disalurkan melalui lembaga pengelola dana sosial yang amanah, ke masjid, atau langsung kepada orang yang membutuhkan untuk kebutuhan pangan, biaya pendidikan, atau biaya kesehatan.
Berdasarkan penelitian terbaru (Xi dkk., 2025), kebiasaan beramal terbukti mampu menurunkan tingkat depresi pada lansia hingga 43 persen. Ini adalah temuan yang signifikan, mengingat depresi merupakan gangguan psikologis serius—ditandai dengan rasa sedih mendalam dan putus asa selama minimal dua minggu—yang bahkan bisa memicu pikiran untuk bunuh diri.
Lebih hebatnya lagi, kita tidak perlu menunggu kaya untuk mendapatkan manfaat psikologis ini. Penelitian lain (Zhang dkk., 2025) membuktikan bahwa donasi harian, sekecil apa pun nominalnya, tetap memiliki dampak nyata dalam menurunkan gejala depresi.
2. Mengendalikan Amarah
Mengendalikan amarah adalah kemampuan mengelola emosi sehingga kita bisa menahan lisan, tindakan fisik, hingga bahasa tubuh agar tidak melukai orang lain saat sedang emosi.
Saat kita berinteraksi dengan orang lain—mulai dari pasangan, anak, orang tua, hingga kolega, bisa jadi berbuah kebaikan, namun rentan juga memicu gesekan negatif seperti saling merendahkan, mengadu domba, atau ghibah (membicarakan keburukan orang lain).
Satu hal penting yang harus kita sadari: kita tidak bisa mengendalikan pikiran atau tindakan orang lain. Orang-orang di sekitar kita tidak selalu bersikap sesuai dengan ekspektasi atau keinginan kita. Kegagalan menyadari hal ini sering kali memicu ledakan amarah, yang pada akhirnya menorehkan luka batin (atau bahkan fisik) yang akan diingat seumur hidup oleh orang yang kita sakiti. Ironisnya, korban dari amarah ini sering kali adalah orang-orang terdekat kita sendiri.
Selain merusak hubungan sosial, amarah yang tidak terkendali sangat berbahaya bagi tubuh. Berdasarkan penelitian (Titova dkk., 2022), orang dengan tingkat amarah yang tinggi memiliki risiko 20-30% lebih besar terkena penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah).
Mengejutkannya lagi, penurunan fungsi pembuluh darah ini bisa langsung terjadi hanya dalam waktu 8 menit saat emosi kita sedang memuncak (Shimbo dkk., 2024). Artinya, setiap kali kita meledak dalam amarah, kita sedang merusak tubuh kita sendiri secara instan.
Meredam amarah jelas bukan hal yang mudah; ini adalah keterampilan yang harus terus dilatih seumur hidup. Karena tingkat kesulitannya yang tinggi, Islam sangat memuliakan orang-orang yang mampu melakukannya. Menahan amarah adalah perintah Allah sekaligus tanda keimanan seseorang.
Rasulullah ﷺ bahkan mendefinisikan ulang makna kekuatan yang sesungguhnya melalui sabda beliau:
“Orang kuat bukanlah yang jago bergulat, akan tetapi orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari No. 6114 & Muslim No. 2609).
3. Memaafkan Kesalahan Orang Lain
Secara harfiah, memaafkan berarti dengan ikhlas melepaskan hak kita untuk membalas perbuatan buruk orang lain dan memilih untuk tidak menyimpan dendam. Pada kenyataannya, mengakui kesalahan dan meminta maaf sering kali terasa jauh lebih mudah dibandingkan harus memaafkan luka yang ditorehkan orang lain kepada kita.
Lalu, bagaimana cara menumbuhkan jiwa pemaaf? Langkah pertamanya adalah empati. Cobalah posisikan diri kita: ketika kita melakukan kesalahan, tentu kita sangat berharap orang lain mau memberikan maafnya, bukan?
Memaafkan bukan sekadar anjuran moral, tetapi juga terapi kesehatan yang nyata. Sebuah penelitian (Mroz & Kaleta, 2023) membuktikan bahwa memaafkan kesalahan orang lain memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap peningkatan kesehatan fisik dan mental seseorang.
Secara lebih spesifik, melepaskan rasa dendam terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan hidup secara keseluruhan, sekaligus memangkas tingkat depresi dan kecemasan secara drastis (Bechara dkk., 2024). Dengan kata lain, saat kita menolak memaafkan, kita sebenarnya sedang meracuni tubuh dan pikiran kita sendiri.
Ada satu pemahaman penting yang sering disalahartikan: memaafkan tidak selalu harus diikuti dengan rekonsiliasi atau kembali berteman akrab seperti sedia kala.
Kita sepenuhnya berhak untuk memaafkan seseorang demi melepas beban di hati, namun di saat yang sama tetap memberikan batasan tegas (boundaries) atau menjaga jarak darinya. Langkah ini sangat wajar dan dibenarkan demi menjaga ketenangan batin dan keamanan diri kita agar tidak kembali tersakiti di masa depan.
Dari sudut pandang agama, memaafkan adalah jalan untuk membersihkan penyakit hati yang paling berbahaya: sifat sombong dan merasa diri paling benar. Islam menjanjikan balasan yang luar biasa bagi mereka yang berlapang dada.
Hal ini tergambar indah dalam sabda Rasulullah ﷺ:
“Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang bertawadhu (rendah hati) karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim No. 2588).
Penutup
Tindakan kebaikan adalah tindakan positif yang dapat dimulai dari hal kecil dan dapat dilakukan oleh siapa saja serta kapan saja. Perilaku kebaikan yang dimulai dari diri sendiri dapat menciptakan hubungan sosial yang positif. Puji syukur, Allah selalu memberikan kesempatan kepada manusia untuk terus memperbaiki diri dengan berbuat baik secara berkelanjutan. Semoga kita diberikan kemudahan dan kelancaran untuk selalu berbuat kebaikan di jalan Allah. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.
Referensi
– Bechara, A.O., Chen, Z.J., Cowden, R.G., Worthington Jr, E.L., Toussaint, L., Rodriguez, N., Murillo, H.G., Ho, M.Y., Mathur, M.B. and VanderWeele, T.J., 2024. Do forgiveness campaign activities improve forgiveness, mental health, and flourishing?. International Journal of Public Health, 69, p.1605341. https://doi.org/10.3389/ijph.2024.1605341
– Mróz, J. and Kaleta, K., 2023. Forgive, let go, and stay well! The relationship between forgiveness and physical and mental health in women and men: The mediating role of self-consciousness. International Journal of Environmental Research and Public Health, 20(13), p.6229. https://doi.org/10.3390/ijerph20136229
– Titova, O.E., Baron, J.A., Michaëlsson, K. and Larsson, S.C., 2022. Anger frequency and risk of cardiovascular morbidity and mortality. European heart journal open, 2(4), p.oeac050. https://doi.org/10.1093/ehjopen/oeac050
– Shimbo, D., Cohen, M.T., McGoldrick, M., Ensari, I., Diaz, K.M., Fu, J., Duran, A.T., Zhao, S., Suls, J.M., Burg, M.M. and Chaplin, W.F., 2024. Translational research of the acute effects of negative emotions on vascular endothelial health: findings from a randomized controlled study. Journal of the American Heart Association, 13(9), p.e032698. https://doi.org/10.1161/JAHA.123.032698
– Xi, Y., Mielenz, T.J., Andrews, H.F., Hill, L.L., Strogatz, D., DiGuiseppi, C., Betz, M.E., Jones, V., Eby, D.W., Molnar, L.J. and Lang, B.H., 2025. Prevalence of depression in older adults and the potential protective role of volunteering: Findings from the LongROAD study. Journal of the American Geriatrics Society, 73(4), pp.1041-1048. https://doi.org/10.1111/jgs.19349
– Zhang, Y., Jiang, Q., Luo, Y. and Liu, J., 2025. Can One Donation a Day Keep Depression Away? Three Randomized Controlled Trials of an Online Micro-Charitable Giving Intervention. Psychological Science, 36(2), pp.102-115. https://doi.org/10.1177/09567976251315679













