nidaulquran.id-Rangkaian kampanye internasional “Al-Aqsa Calls for Help” resmi ditutup melalui sebuah acara puncak dan seminar internasional di Istanbul, Turki. International Union of Muslim Scholars (IUMS) memimpin pertemuan ini dengan menghadirkan para cendekiawan, pemimpin pemikiran, dan ulama dari berbagai negara untuk merumuskan strategi perlindungan Masjid Al-Aqsa.
Fokus utama dalam pertemuan ini adalah mengonsolidasikan dukungan global serta mempertegas tanggung jawab moral para ulama dalam menghadapi ancaman terhadap situs suci di Palestina. Isu Palestina dinilai bukan sekadar masalah politik, melainkan kewajiban agama yang fundamental bagi seluruh umat Islam.
“Ulama adalah pewaris nabi dan pemimpin spiritual masyarakat. Suara mereka harus menjadi penggerak bagi solidaritas umat Islam di seluruh dunia untuk membela hak-hak warga Palestina,” ujar Ali al-Qaradaghi, Sekretaris Jenderal IUMS, dalam pidatonya pada acara tersebut.
Asisten Sekretaris Jenderal IUMS, Jamal Abdul Sattar, turut menambahkan bahwa umat Islam memiliki kekuatan besar untuk berkorban. Namun, potensi tersebut sangat membutuhkan persatuan yang nyata di bawah panji dan jalan yang jelas.
Desakan Langkah Nyata Melawan Yudaisasi
Dalam sesi diskusi, para peserta menyoroti eskalasi dan kebijakan pihak pendudukan yang semakin agresif melakukan yudaisasi di wilayah Yerusalem. Ketua Komite Yerusalem dan Palestina di IUMS, Marwan Abu Ras, menekankan bahwa kejahatan terhadap Masjid Al-Aqsa tidak cukup hanya ditanggapi dengan kecaman.
Marwan mendesak adanya tindakan lebih lanjut yang melampaui pernyataan verbal guna merebut kembali hak-hak yang dirampas. Ia mengingatkan bahwa keberadaan warga Palestina di Yerusalem merupakan garis pertahanan pertama yang harus didukung penuh.
Selain isu tempat suci, penderitaan para tahanan Palestina di penjara pendudukan juga menjadi sorotan tajam. Ruang tahanan dinilai telah menjadi tempat isolasi yang merampas hak-hak dasar manusia.
“Penolakan kunjungan dan perawatan medis bagi para tahanan menjadikan cobaan mereka sebagai ujian berat bagi hati nurani umat di tengah bungkamnya dunia internasional,” ujar Mahmoud Shreiteh, Insinyur yang memaparkan isu tahanan, dalam forum tersebut.
Rekomendasi dan Keberlanjutan Kampanye
Seminar dan acara penutupan ini menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis bagi dunia Islam. Salah satunya adalah desakan kepada pemerintah di negara-negara Islam untuk mengambil tindakan diplomatik dan politik yang lebih tegas di kancah internasional.
Para ulama juga menyepakati pentingnya literasi sejarah mengenai Yerusalem bagi generasi muda agar ingatan kolektif umat tetap terjaga. Dukungan finansial yang berkelanjutan melalui optimalisasi lembaga zakat dan wakaf turut dinilai krusial untuk membantu keteguhan penduduk Yerusalem.
Kampanye “Al-Aqsa Calls for Help” yang mobilisasinya berlangsung hingga 9 April ini diharapkan bertransformasi menjadi aksi nyata yang berkesinambungan. Sinergi seluruh elemen umat Islam diharapkan mampu menciptakan tekanan global untuk mengakhiri krisis komprehensif di tanah Palestina.













