Beranda / Warta / Profil KH Aunur Rafiq bin Ghufron: Ulama Sederhana Penulis Kitab Al-Mukhtarot

Profil KH Aunur Rafiq bin Ghufron: Ulama Sederhana Penulis Kitab Al-Mukhtarot

Mukhtarot Qowa’id Lughoh Al-Arabiyyah

nidaulquran.id-Nama Al-Ustadz KH Aunur Rafiq bin Ghufron, Lc., mungkin tidak selalu menghiasi panggung-panggung besar berskala nasional. Namun, di dunia pendidikan Islam, sosoknya adalah tokoh sentral yang telah menerangi jalan ribuan penuntut ilmu di berbagai penjuru Indonesia.

Beliau dikenal luas sebagai pendiri Pondok Pesantren Al-Furqon Al-Islami di Gresik, penulis muqarrar (kitab panduan) tata bahasa Arab yang legendaris, serta inisiator Majalah Al-Furqon. Sepanjang hidupnya hingga beliau berpulang pada Jumat (8/5/2026), KH Aunur Rafiq mendedikasikan seluruh waktunya dengan prinsip yang teguh: ilmu yang tidak disebarkan adalah amanah yang terbengkalai.

Kiprahnya membangun pondok, menulis kitab, dan menerbitkan majalah tidak pernah ditujukan untuk mencari popularitas, melainkan semata-mata untuk memberikan manfaat seluas-luasnya bagi umat Islam.

Kemandirian dalam Menuntut Ilmu

Lahir dari pasangan Ghufron dan Marfu’ah di Desa Srowo, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik pada 1 September 1956, KH Aunur Rafiq adalah anak sulung dari lima bersaudara. Semangat belajarnya telah terlihat sejak menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyyah Sidayu, berlanjut ke PGA Muhammadiyah Sidayu, hingga PGA Muhammadiyah Karang Asem Lamongan di bawah bimbingan KH Abdurrahman Syamsuri.

Pada tahun 1974, berkat keuletannya, beliau berhasil melanjutkan studi ke Universitas Islam Imam Ibnu Su’ud di Riyadh, Arab Saudi, dengan mengambil jurusan Ushuluddin.

Masa pendidikan di Timur Tengah ini dilaluinya dengan perjuangan finansial yang berat. Ia sering kali memakan sisa makanan yang masih layak, serta rela bekerja sebagai juru masak hingga kuli bangunan saat musim liburan untuk menyambung hidup dan membiayai studinya hingga lulus pada 1982.

“Ustadz Aun memang orang yang semangat sejak dulu. Jika dia memiliki suatu keinginan dan cita-cita, maka dia akan berjuang sekuat tenaga untuk menggapainya,” ujar Ustadz Muhammad Abid Rodhi, rekan masa kecil beliau, memberikan kesaksian.

Bertahan di Tengah Ancaman dan Intimidasi

Perjalanan dakwah KH Aunur Rafiq tidak berjalan mulus. Usai menamatkan studi di Arab Saudi, beliau sempat ditugaskan oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) ke Pontianak selama dua tahun. Setelah itu, beliau membuka lahan dakwah di Kediri, Jawa Timur.

Di Kediri, beliau menghadapi ujian berat berupa berbagai intimidasi selama tujuh tahun, yang memaksanya kembali ke kampung halaman. Namun, rintangan itu tidak menyurutkan langkahnya. Pada tahun 1989, berbekal tanah dari orang tuanya dan sistem gotong royong bersama masyarakat, beliau mendirikan Pondok Pesantren Al-Furqon.

Bahkan di tempat kelahirannya, ujian terus mendera. Pada tahun 1994, sebuah insiden kesurupan berujung pada perusakan makam keramat oleh seorang oknum, yang memicu demonstrasi besar-besaran. Pondoknya nyaris ditutup, santri-santrinya dipulangkan, dan beliau harus berhadapan dengan aparat.

Selain itu, kendaraannya pernah dirusak, ia kerap menerima fitnah, hingga diancam akan dibunuh. Alih-alih membalas, KH Aunur Rafiq meredam semua fitnah tersebut dengan kesabaran, serta menyibukkan diri mengajar para santrinya. Kini, pesantren tersebut telah berkembang pesat menjadi markas ilmu bagi sekitar 1.500 penuntut ilmu.

Warisan Literasi Nasional: Kitab Al-Mukhtarot

Dalam dunia literasi dan akademik, warisan terbesar KH Aunur Rafiq adalah kitab Mukhtarot Qowa’id Lughoh Al-Arabiyyah. Buku kaidah bahasa Arab ini telah menjadi jembatan utama bagi ribuan santri untuk memahami kitab-kitab ulama klasik.

Saat ini, Al-Mukhtarot diadopsi secara resmi sebagai kurikulum panduan di berbagai lembaga pendidikan, pesantren, dan majelis taklim di Indonesia. Selain itu, beliau secara konsisten mengisi rubrik Tafsir serta Pendidikan Anak dan Keluarga di Majalah Al-Furqon dan Majalah Al-Mawaddah setiap bulannya.

Baca juga: PP Muhammadiyah Buka Seleksi Beasiswa Al-Azhar Mesir 2026

Keteladanan Sikap Zuhud dan Tawadhu

Meski memiliki keilmuan yang tinggi dan ribuan pengikut, KH Aunur Rafiq adalah sosok yang sangat bersahaja dan menjauhi kemewahan dunia (zuhud). Beliau dikenal pantang merepotkan panitia saat bersafari dakwah, tak segan tidur di dalam mobil atau masjid dengan alas seadanya, serta tidak mau mengambil gaji tetapnya dari pesantren secara penuh.

Sikap tawadhunya juga terlihat dari kebiasaannya memperbaiki kerusakan mobilnya sendiri, hingga rela ikut bergotong royong di tengah hujan saat pembangunan pondok. Beliau sangat terbuka terhadap kritik dan kerap kali meminta santrinya untuk menegurnya jika ia berbuat salah.

“Saya sangat mencintai beliau. Pertama kali aku bertemu dengannya, langsung tertanam rasa cinta dan takzim kepada beliau,” ungkap Syaikh Walid bin Saif, salah seorang ulama asal Timur Tengah, saat mendeskripsikan sosok beliau.

Semangat dakwahnya tidak pernah padam oleh usia maupun penyakit. Dedikasi luar biasa ini berhasil mencetak ulama-ulama penerus yang kini tersebar di seluruh Indonesia. Beberapa murid terkemukanya antara lain Dr. Abdullah Roy, pengajar di Masjid Nabawi; Ustadz Aris Sugiyantoro; Ustadz Arif Fathul Ulum; hingga Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf.

Tag: