nidaulquran.id-Hidup di dunia yang penuh ketidakpastian, membuat kita menginsafi bahwa tidak ada manusia yang benar-benar terbebas dari kemungkinan terluka. Adakalanya hidup menghanyutkan kita dalam kehilangan, kekecewaan, kegagalan, dan rasa sakit hingga kita teringkus dalam kesedihan.
Ironisnya, di tengah rasa sakit yang sedang dialami, manusia seringkali masih dibebani tuntutan untuk segera pulih. Bahwa air mata harus segera berhenti, hati harus segera pulih, dan iman seharusnya membuat kita tegar dalam keadaan apapun.
Barangkali salah satu kesalahpahaman terbesar tentang iman adalah anggapan bahwa iman membuat seseorang selalu kuat dan kebal terhadap kesedihan. Seolah-olah orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan tidak seharusnya terlalu larut dalam kesedihan.
Dukanya Para Nabi: Bukti Bahwa Kesedihan Bukanlah Dosa
Kali ini, mari mengeja dengan lebih jujur bahwa sebenarnya, agama tidak pernah menuntut manusia untuk tidak merasa sedih. Luka kehidupan akan tetap terasa menyakitkan, bahkan bagi seorang nabi sekalipun.
Nabi Ya’qub, dalam kisahnya tentang kehilangan putra tercintanya, Yusuf, ia tidak menyembunyikan kesedihannya. Nabi Ya’qub tidak berpura-pura baik-baik saja, tidak pula memaksa dirinya untuk segera melupakan duka yang menghinggapinya. Kesedihan itu bahkan berlangsung begitu lama hingga penglihatannya memudar.
وَتَوَلّٰى عَنْهُمْ وَقَالَ يٰٓاَسَفٰى عَلٰى يُوْسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنٰهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيْمٌ
Artinya: Dia (Ya‘qub) berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, “Alangkah kasihan Yusuf,” dan kedua matanya menjadi putih karena sedih. Dia adalah orang yang sungguh-sungguh menahan (amarah dan kepedihan). (Q.S. Yusuf ayat 84)
Perhatikan bagaimana Al-Qur’an menceritakan kisah ini. Allah tidak menghapus bagian ketika Nabi Ya’qub menangis. Yang kita temukan justru pengakuan bahwa seorang nabi pun dapat merasakan kehilangan yang begitu dalam dan kesedihan yang begitu panjang hingga berdampak pada fisiknya: “kedua matanya menjadi putih karena sedih.”
Manfaat Menangis Secara Biologis dan Psikologis
Kesedihan bukanlah kesalahan yang harus disembunyikan. Kesedihan merupakan emosi dasar yang dimiliki oleh setiap manusia. Jika kesedihan adalah emosi yang hadir dalam hati, maka menangis adalah cara tubuh mengekspresikannya. Sebagaimana senyum dan tawa yang kerap mengiringi kebahagiaan, maka air mata menjadi bahasa yang membersamai kesedihan.
Menariknya, menangis adalah salah satu cara paling unik yang Allah anugerahkan kepada manusia. Secara biologis, menangis membantu tubuh melepaskan endorfin, hormon antinyeri alami yang membantu mengurangi rasa sakit dan memberikan efek menenangkan. Pada saat yang sama, air mata juga berfungsi sebagai sinyal sosial yang paling jujur untuk memberitahu orang lain bahwa kita sedang terluka dan membutuhkan pertolongan.
Bahkan, sejak detik pertama kelahiran, menangis adalah pertanda kehidupan. Tangisan pertama seorang bayi menjadi pertanda bahwa napas kehidupan telah memenuhi paru-parunya. Itulah mengapa ketika seorang bayi lahir tanpa menangis, justru yang muncul bukanlah rasa lega, melainkan kegelisahan. Setiap orang yang menyambut kelahirannya akan diliputi perasaan cemas.
Sayangnya, sesuatu yang pada awal kehidupan dianggap sebagai pertanda bahwa semuanya baik-baik saja, justru sering kita anggap sebagai tanda kelemahan saat kita dewasa. Kita diajarkan untuk menahan tangis, memendam luka, dan tetap terlihat kuat, seolah air mata adalah bukti lemahnya hati.
Pelajaran dari Surah Maryam: Menghadapi Titik Terendah dalam Hidup
Al-Qur’an memberi ruang yang begitu luas bagi air mata dan kesedihan. Kitab suci ini tidak pernah menghapus air mata dari kisah orang-orang pilihan-Nya. Allah tidak menyunting bagian ketika mereka berada di titik paling rapuh. Sebaliknya, Allah mengabadikannya agar manusia tahu bahwa menjadi dekat dengan Allah tidak berarti berhenti menjadi manusia. Salah satu potret itu dapat kita temukan dalam kisah Maryam.
Bayangkan, seorang perempuan yang sedang menahan rasa sakit persalinan seorang diri. Tubuhnya nyaris kehabisan tenaga, sementara hatinya dipenuhi kekalutan tentang apa yang akan terjadi setelah bayi itu lahir. Di tengah rasa sakit yang semakin menyeruak dan bayang-bayang masa depan akan tuduhan dan fitnah yang menyesakkan dada, Maryam hampir putus asa, bahkan mengaduh berharap mati saja.
Di saat tubuhnya hampir menyerah, Allah tidak membiarkan Maryam sendirian. Allah berbicara padanya. Bukan dengan teguran karena ia sempat mengaduh, justru Allah menenangkan, menguatkan, dan memberinya harapan. Lalu datanglah sebuah perintah yang sekilas terdengar tak masuk akal:
وَهُزِّيْٓ اِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّاۖ
Artinya: “Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menjatuhkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam ayat 25)
Bayangkan sejenak keadaan Maryam saat itu. Seorang perempuan yang baru saja melewati rasa sakit persalinan, tubuhnya lemah, tenaganya nyaris habis, bahkan beberapa saat sebelumnya ia mengharap kematian. Namun, justru dalam keadaan paling rapuh itulah Allah memintanya menggoyangkan pohon kurma. Secara manusiawi, goyangan seorang perempuan yang baru melahirkan hampir mustahil mampu menjatuhkan buah-buahnya.
Padahal, bukankah Allah Mahakuasa? Bisa saja Allah menjatuhkan kurma itu tanpa perlu digoyangkan. Bahkan bisa saja Allah mengenyangkan Maryam tanpa sedikitpun usaha darinya. Namun, ternyata Allah tidak memilih cara itu. Secara fisik, goyangan itu tidak cukup untuk menjatuhkan apapun. Bukan. Allah tidak sedang menilai hasil. Allah sedang mendidik hati.
Para mufasir menjelaskan peristiwa ini sebagai ta’lim lil-asbab, yaitu pendidikan agar manusia tidak meningggalkan sebab dan ikhtiar, meskipun Allah Mahakuasa melakukan segala sesuatu tanpa perantara. Tawakal bukanlah menunggu keajaiban sambil berpangku tangan. Tawakal adalah tetap melangkah, meski rapuh belum reda dan langkah tak seberapa.
Menjadi Hamba Tanpa Harus Berhenti Menjadi Manusia
Barangkali, itulah pesan yang ingin disampaikan kepada kita. Allah tidak selalu menghilangkan rasa sakit seketika. Allah tidak selalu mengangkat beban kita dalam sekejap. Namun, Dia tidak pernah meninggalkan hamba-Nya berjalan sendirian. Di tengah tubuh yang lemah, hati yang letih, dan keadaan yang terasa mustahil, Allah seakan meyakinkan, “Lakukan bagianmu, sekecil apa pun. Selebihnya, biar Aku yang menyempurnakan.”
Dari kisah ini kita belajar bagaimana Al-Qur’an memandang luka dan kesedihan. Al-Qur’an tidak pernah meminta manusia untuk berpura-pura kuat. Bahwa air mata pernah mengalir dari pelupuk seorang nabi, pun keluh kesah tetap terucap dari lisan seorang perempuan terpuji. Allah tidak meniadakan kesedihan mereka, tetapi hadir di dalamnya. Sebab sejatinya, menjadi dekat dengan Allah tidaklah berarti berhenti menjadi manusia.













