nidaulquran.id– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap masih menjadi ancaman nyata di berbagai wilayah Indonesia. Merespons situasi tersebut, Humanitarian Forum Indonesia (HFI), Forum Zakat (FOZ), dan Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) menggelar Diskusi Publik bertajuk “Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan yang Komprehensif” di Gedung Filantropi Dompet Dhuafa, Jakarta, Senin (26/10/2026).
Diskusi berlangsung secara hybrid, dengan sebagian narasumber hadir langsung dan sebagian lain bergabung secara daring melalui Zoom. Acara dimulai pukul 13.00 WIB dan dipandu Syamsul Ardyansyah, Senior Officer Alliance Dompet Dhuafa.
Ribuan Titik Panas, Musim Hujan Belum Merata
Berdasarkan data SiPongi per 19 Oktober 2026, tercatat 4.520 titik panas di berbagai wilayah Indonesia. Musim hujan diperkirakan baru datang secara bertahap pada November hingga Desember. Selama masa peralihan itu, karhutla dan kabut asap masih berpotensi mengancam kesehatan, ekonomi, dan pendidikan masyarakat.
Dampak kabut asap kini meluas ke sejumlah daerah, antara lain Kalimantan, Sumatra, hingga Jawa Timur. Dalam diskusi disebutkan bahwa Presiden Prabowo Subianto mengategorikan pelaku pembakaran hutan berskala besar sebagai pelaku “terorisme ekologi” karena dampaknya terhadap kesehatan jutaan orang. Karhutla di Indonesia sendiri diketahui melibatkan pelaku perorangan maupun korporasi yang sengaja membuka lahan dengan cara dibakar.
Narasumber dari Lembaga Kebencanaan hingga Pegiat Lingkungan
Sejumlah tokoh hadir sebagai narasumber, di antaranya Ahmad Juwaini (Ketua Yayasan Dompet Dhuafa), Romi Ardyansyah (Direktur Operasional Inisiatif), Sonny Sukada (Direktur Eksekutif Filantropi), Udhi Trikurniawan (Sekretaris Umum Forum Zakat), Umi Marufah (Tim Kampanye Eksekutif WALHI), dan Victor Rembeth (Dewan Pengarah BNPB RI). Bilgis Habiba, perwakilan juru bicara Greenpeace Indonesia, menyampaikan paparan secara daring. Dari unsur lembaga zakat nasional, BAZNAS juga turut menjadi narasumber.
Dompet Dhuafa bertindak sebagai tuan rumah, dan sejumlah lembaga kemanusiaan serta filantropi turut hadir dalam forum ini.
Kalimantan Barat Jadi Sorotan
Dalam paparannya, Victor Rembeth menyoroti Kalimantan Barat sebagai titik api dengan kondisi yang sangat serius. Menurutnya, dampak di provinsi itu terlihat lebih parah dibandingkan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Ia mengungkapkan bahwa relawan Dompet Dhuafa dan Muhammadiyah sudah diterjunkan ke lokasi.
Victor juga menyoroti minimnya perhatian pemerintah pusat terhadap wilayah yang kaya sumber daya alam itu. Ia mencontohkan bantuan dana desa yang menurutnya hanya sekitar Rp2 miliar, jumlah yang dinilai sangat kecil. Ia menyebut Presiden telah meninjau langsung kondisi di Kalimantan Barat.
Lima Poin Utama Pembahasan
Diskusi merumuskan beberapa poin penting dalam penanggulangan karhutla:
- Tata kelola. Koordinasi antarlembaga, kejelasan peran, dan anggaran mitigasi menjadi pekerjaan rumah utama.
- Pencegahan lebih awal. Intervensi perlu dimulai sebelum titik api muncul, termasuk di tingkat desa.
- Pendekatan lanskap. Kesehatan masyarakat, ekosistem gambut, dan pemulihan pascakebakaran harus dipandang sebagai satu kesatuan.
- Keadilan dan penegakan hukum. Hak masyarakat adat dan lokal harus dilindungi, sementara pihak yang merusak lingkungan perlu bertanggung jawab.
- Pembiayaan. Peserta mengusulkan pembentukan haze fund untuk memberdayakan desa rawan kebakaran, serta pemetaan kebutuhan biaya restorasi lahan bekas terbakar.
Dorong Task Force dan Rencana Aksi Bersama
Forum ini mendorong pembentukan task force sebagai ruang koordinasi bersama untuk mengawal rencana aksi dan advokasi kebijakan. Dua keluaran yang ditargetkan adalah Dokumen Respon Karhutla 2026 dan Draft Rencana Aksi Kolaboratif.
Para peserta mengakui tantangan yang dihadapi cukup nyata: sumber daya terbatas, dukungan lintas sektor belum optimal, dan koordinasi perlu diperkuat. Karena itu, kolaborasi antara asosiasi kemanusiaan, zakat, dan filantropi dipandang sebagai kunci. Kehadiran di akar rumput, terutama bagi kelompok rentan, perlu berjalan seiring dengan advokasi kebijakan yang berpihak pada pencegahan.
Penyelenggara menyampaikan terima kasih kepada para narasumber dari BNPB, BAZNAS, Greenpeace Indonesia, dan WALHI, kepada Dompet Dhuafa sebagai tuan rumah, serta kepada seluruh lembaga yang hadir.













