Beranda / Sastra Islam / Cahaya yang Singgah di Linimasa

Cahaya yang Singgah di Linimasa

nidaulquran.id-Layar ponsel itu menyala di tengah gelap kamar kontrakan, satu-satunya cahaya di antara tumpukan baju kerja yang belum sempat dilipat. Arya berbaring miring, ibu jarinya menggulir tanpa arah, seperti yang ia lakukan setiap malam setelah pulang dari bongkar muat di pelabuhan Batam. Tubuhnya lelah, tapi matanya belum mau terpejam.

Video itu muncul begitu saja—tak dicari, tak diundang. Seorang lelaki mengenakan gamis putih, duduk bersila, membaca sesuatu dengan nada yang naik turun seperti ombak yang tak tergesa. Arya tidak mengerti artinya. Tapi ada sesuatu dalam suara itu yang membuatnya berhenti menggulir. Ia menekan tombol putar ulang, lalu sekali lagi.

Malam itu ia tidur dengan telinga yang masih menyimpan lantunan yang tak ia pahami, tapi entah mengapa terasa dikenal—seolah ia pernah mendengarnya jauh sebelum ada dalam hidupnya.


Arya besar di Desa Sonde, di pesisir Meranti yang dikelilingi air payau dan pohon sagu. Keluarganya menganut Buddha, seperti kebanyakan tetangga dari suku Akit di kampung itu. Ia tidak sempat menamatkan sekolah lanjutan; selepas SD ia sudah ikut ayahnya mencari nafkah dari laut, lalu ketika usia memberi keberanian, ia merantau ke Batam—kota yang katanya punya lebih banyak peluang daripada kampung halaman.

Di sanalah, di antara jam kerja yang panjang dan kamar sempit yang disewa berdua dengan temannya, telepon genggam menjadi satu-satunya jendela dunia. Dan dari jendela itu, sedikit demi sedikit, sesuatu masuk tanpa permisi: ayat yang dibaca pelan, azan yang berkumandang di ujung video pendek, potongan ceramah tiga puluh detik tentang sabar, tentang rezeki, tentang pulang.

Ia tidak menceritakannya pada siapa pun. Bukan karena malu, tapi karena ia sendiri tidak tahu harus menyebutnya apa. Rasa ingin tahu yang tumbuh diam-diam itu ia simpan seperti biji yang disembunyikan dari angin, takut layu sebelum sempat berakar.

Berbulan-bulan berlalu. Setiap kali pulang kerja, ia mencari lagi video-video serupa. Kadang ia menonton sampai larut, mengulang satu ayat yang dibaca seorang qari hingga hafal iramanya, meski tak paham satu kata pun artinya. Ada malam-malam ketika ia bertanya dalam hati—kepada siapa, ia sendiri tak yakin—apakah boleh seorang seperti dirinya, yang lahir jauh dari itu semua, merasa rindu pada sesuatu yang belum pernah ia miliki.


Ketika akhirnya ia kembali ke Sonde, sesuatu dalam dirinya sudah berubah bentuk, meski dari luar ia tampak sama: kulit yang lebih gelap karena matahari Batam, badan yang lebih kekar karena kerja kasar. Tapi di dalam, ada yang mengganjal dan minta dikeluarkan.

Ia menunggu waktu yang tepat—entah kapan itu, sebab tak ada waktu yang benar-benar terasa tepat untuk mengucapkan hal seperti ini kepada keluarga sendiri. Sampai suatu sore, di depan orang tuanya, dengan suara yang lebih pelan dari biasanya, ia berkata bahwa ia ingin memeluk Islam.

Tidak ada yang berteriak. Tidak ada pintu yang dibanting. Hanya diam yang panjang, lalu anggukan kecil dari ibunya—anggukan yang menyimpan seribu hal yang tidak diucapkan: kekhawatiran, juga penerimaan yang datang perlahan, seperti pasang yang naik tanpa suara.


Kabar itu sampai lebih cepat dari yang Arya duga, melalui jalur yang bahkan tak ia ketahui ada. Seorang pengurus lembaga dakwah di kampungnya menyampaikan pesan itu kepada seorang da’i muda yang baru saja beberapa hari menjejakkan kaki di Meranti sebagai penugasan pertamanya.

Da’i itu—sebut saja Ustaz Lukman—baru selesai membereskan barang-barangnya di rumah singgah ketika telepon itu berdering, menjelang salat Jumat. Ia mendengarkan kabar tentang seorang pemuda yang telah memantapkan hati, dan dalam hitungan hari, jadwal pun disusun.

Ia sempat merenung sejenak setelah menutup telepon. Baru beberapa hari ia tiba di wilayah dakwah ini, dan hidayah sudah mengetuk lebih dulu daripada yang ia kira. Ada rasa syukur yang bercampur dengan tanggung jawab yang tiba-tiba terasa nyata: seseorang sedang menunggu bimbingan, dan ia yang dikirim untuk itu.


Siang Jumat itu, matahari Meranti terik seperti biasa. Selepas jamaah bubar dari masjid, beberapa orang masih tinggal—duduk melingkar di teras, menunggu sesuatu yang tidak biasa terjadi di kampung mereka. Arya duduk di tengah, mengenakan baju yang paling rapi yang ia punya, tangannya sedikit gemetar bukan karena gugup semata, tapi karena ia tahu kalimat yang akan ia ucapkan akan mengubah cara ia menyebut dirinya sendiri seumur hidup.

Ustaz Lukman membimbingnya perlahan, kata demi kata. Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah.

Arya mengulanginya, dan pada kalimat kedua suaranya nyaris pecah. Bukan karena tidak lancar mengucapkan, tapi karena ada sesuatu yang runtuh dan sesuatu yang lain berdiri di tempatnya secara bersamaan. Sesaat setelah kalimat itu selesai, hening yang datang terasa berbeda dari hening-hening sebelumnya dalam hidupnya. Hening itu terasa penuh.


Ia pulang ke rumah sore itu sebagai orang yang sama namun tidak sama. Orang tuanya tidak lantas berubah keyakinan, tapi mereka mulai mengubah dapur—tidak lagi memasak yang haram baginya di rumah, memilih membelinya jika perlu di luar. Perubahan kecil itu, bagi Arya, terasa lebih besar daripada yang tampak: itu adalah cara keluarganya berkata, kami masih di sini untukmu, meski jalan mereka kini berbeda arah.

Ia belum lancar wudu. Belum hafal urutan gerakan salat. Belum bisa mengeja huruf-huruf Al-Qur’an yang dulu hanya ia dengar lewat layar, kini harus ia pelajari lewat mata. Tapi setiap kali Ustaz Lukman datang untuk mengajarinya, ada satu hal yang ia rasa pasti: video yang dulu lewat begitu saja di linimasanya, ternyata sedang menuntunnya pulang—pulang ke sesuatu yang bahkan tidak pernah ia tahu bahwa ia rindukan.


“Dan barangsiapa berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali Imran: 101)

📝 Catatan Penulis Cerpen ini terinspirasi dari kisah nyata seorang mualaf berinisial Arya di Desa Sonde, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, yang mengikrarkan syahadat pada 4 September 2026 dibimbing oleh da’i Dewan Da’wah

Tag: