nidaulquran.id-Dahulu banyak orang kota beranggapan bahwa hidup di perkampungan kecil akan terasa lebih tenang, nyaman, dan jauh dari gengsi yang menguras mental. Tetapi seiring dengan kemajuan teknologi dan informasi anggapan bahwa hidup di perkampungan kecil lebih aman dari gengsi menjadi tidak sepenuhnya benar.
Pada zaman ini kebanyakan orang yang hidup di kampung tidak lagi terisolasi dari dunia digital. Hiruk pikuk kehidupan di dunia maya dapat diikuti oleh sebagian besar masyarakat lewat handphone yang mereka genggam.
Hadirnya berbagai media sosial yang mudah diakses dan digunakan oleh banyak orang tidak dapat lagi disanggah telah sedikit demi sedikit mengubah gaya hidup sebagian besar masyarakat. Perubahan gaya hidup bisa menuju ke arah yang baik ataupun sebaliknya.
Ada sebagian masyarakat yang bertambah menjadi baik, wawasannya semakin luas, hidupnya semakin tertata, dan berbagai perubahan positif lainnya akibat pengaruh konten di media sosial. Di sisi yang lain ada pula sebagian masyarakat yang hidupnya semakin berantakan akibat tidak bisa membatasi dan memfilter pengaruh konten di media sosial.
Kesulitan ekonomi yang melanda masyarakat sejak masa pandemi Covid-19 hingga saat ini ternyata telah dimanfaatkan oleh banyak pihak untuk meraup keuntungan dengan cara tidak baik. Hadirnya berbagai pinjol (pinjaman online) yang ditawarkan oleh pihak tertentu melalui aplikasi di media sosial seakan menawarkan solusi bagi masyarakat yang kesulitan ekonomi.
Alih-alih mendapatkan solusi, masyarakat yang terjerat pinjaman online justru perekonomiannya semakin tercekik karena bunga (riba) cicilan pinjaman online yang sangat tinggi dan memberatkan. Tidak sulit kita temukan berita-berita mengenai dampak negatif pinjaman online.
Ada yang bunuh diri karena tidak kuat mentalnya menghadapi penagih yang selalu mengancam, ada yang mencuri harta orang lain untuk membayar pinjaman online, dan berbagai hal negatif lainnya akibat efek berantai dari jeratan pinjaman online.
Masyarakat yang kurang terdidik ditambah terhimpit kesulitan ekonomi menjadi sasaran empuk oleh pihak tertentu untuk dijerat pinjaman online. Tidak hanya pinjaman online, masyarakat yang tidak bisa mengalahkan gengsinya dalam hidup juga menjadi mangsa menggiurkan oleh penjual yang menawarkan sistem pay later (bayar belakangan).
Orang yang tidak bisa mengalahkan gengsinya untuk pamer kepada tetangga dan teman-temannya bisa terpeleset akibat ulahnya sendiri. Rasa haus akan validasi untuk dianggap sebagai orang yang mapan dan sukses ekonominya yang dianut sebagian besar masyarakat telah menjadikan hidup semakin terasa sesak.
Berbagai konten pamer kekayaan dan pencapaian yang tersebar di media sosial ternyata telah banyak diikuti oleh masyarakat baik itu yang hidup di kota maupun di perkampungan. Mungkin tidak terlalu menjadi masalah di kehidupan pribadi orang tersebut apabila orang yang mengikuti tren pamer kekayaan itu benar-benar memiliki kemampuan secara finansial.
Tetapi sebaliknya, tren pamer kekayaan akan menjadi masalah besar apabila diikuti oleh masyarakat yang kondisi ekonominya sangat terbatas. Masyarakat yang suka ikut-ikutan tren pamer kekayaan di media sosial tanpa berkaca pada kemampuan finansialnya sangat berpotensi terjerat pinjaman online atau pay later.
Pada akhirnya kondisi ekonomi yang sulit akan menjadi semakin sulit. Orang yang tidak mampu membedakan dan mengatur hal-hal apa saja yang masuk kebutuhan dan keinginan akan selalu mengalami kesulitan dalam hidupnya.
Kita hidup di zaman yang hampir semua serba online benar-benar membutuhkan kemampuan untuk berfikir jernih agar bisa memilih mana hal-hal yang penting dan mana hal-hal yang perlu diabaikan. Sikap qana’ah yang diajarkan dalam Islam harus mulai belajar kita ejawantahkan dalam keseharian.
Buya Hamka dalam buku Tasawuf Modern menjelaskan bahwa qana’ah adalah menerima dan cukup. Qana’ah mengandung lima perkara; Menerima dengan rela akan apa yang ada, memohon pada Allah tambahan yang pantas dengan selalu berusaha, menerima dengan sabar akan ketentuan Allah, bertawakal, dan tidak tertarik pada tipu daya dunia (Hamka: 2017).
Qana’ah bukan berarti bersikap malas-malasan, membenci dunia, tidak mau berusaha atau bekerja. Buya Hamka menegaskan bahwa qana’ah yang diajarkan agama adalah qana’ah hati, bukan qana’ah ikhtiar. Oleh karenanya di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam terdapat sahabat-sahabat yang kaya raya, hartanya banyak, ternaknya banyak, bahkan ada yang berniaga hingga keluar negeri dan hati mereka tetap qana’ah.
Islam mendorong pengikutnya mencari sukses dalam hidup, menyuruh umatnya maju, tampil ke muka perjuangan dengan gagah perkasa.
Orang-orang yang menginginkan hidupnya tenang sudah semestinya bekerja sungguh-sungguh, sabar, dan mensyukuri hasil yang dicapai. Tidak mudah tertipu dengan ikut-ikutan tren pamer kekayaan yang sedang viral di media sosial hanya demi menuruti gengsi pada orang lain. Pandai-pandai mengatur keuangan (pendapatan dan pengeluaran) dengan sebagus mungkin agar tidak menyesal di kemudian hari.













