هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya: “Dialah yang Maha Hidup, tidak ada tuhan selain Dia. Maka sembahlah Dia dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” (QS. Ghafir: 65)
Istilah “ikhlas” sering kita dengar dan kita jumpai saban hari. Adapun makna ikhlas ada beberapa pendapat dan opini dari berbagai kalangan kelas pemeluk Islam. Ikhlas merujuk pada ungkapan ‘pasrah’ dalam diri seseorang. Pengertian berpasrah tentu sangat berbeda dengan menyerah. Pasrah yaitu suatu tindakan atau aktivitas seseorang terhadap kenyataan hidup yang diterimanya. Menerima dengan perasaan legowo dan lapang dada tentang kenyataan hidup yang tidak sesuai dengan harapan.
Kehidupan ini bersifat sangat dinamis dan fana, terkadang sedih, juga senang. Kejadian-kejadian yang kita alami dalam kehidupan kita hanyalah bersifat sementara. Tidak ada yang abadi di dunia ini, pun juga tentang semua peristiwa yang menimpa kehidupan kita.
Ikhlas biasanya lebih diaplikasikan untuk hal-hal atau kejadian yang menimpa kita, yaitu hal-hal yang mengarah ke ujian kesedihan. Kita tentu pernah mengalami kesedihan yang menimpa kehidupan kita. Mulai dari mendapatkan nilai yang buruk, kehilangan pekerjaan, kehilangan harta benda, kehilangan kesempatan, keterhambatan dalam melakukan rencana, dan sebagainya.
Pelbagai hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi atau harapan, maka akan menimbulkan masalah. Masalah adalah adanya suatu kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Dan hidup ini merupakan suatu rentetan masalah yang tak kunjung usai selama ruh masih dalam kandungan badan.
Dalam menghadapi hiruk-pikuknya masalah, penulis mengamati terdapat beberapa tahapan seseorang untuk memaknai setiap peristiwa yang dianggapnya sebagai masalah. Pun juga setiap orang memiliki kadar masalah ‘pembuat stres’ yang berbeda-beda. Cara menyelesaikan dan menghadapi stres pun demikian majemuk yang tidak dapat disamaratakan setiap orang.
“Suatu aksi akan menimbulkan reaksi,” kata Albert Einstein. Dalam konteks ini, penulis mengibaratkan ‘aksi’ adalah suatu permasalahan hidup yang diterima seseorang. Sedangkan, ‘reaksi’ adalah pola dan strategi seseorang untuk menghadapi dan menyelesaikan permasalahan. Suatu masalah bersifat relativism, artinya permasalahan dalam hidup seseorang kemungkinan bisa menjadi suatu hal yang berpengaruh besar maupun kecil terhadap kehidupannya. Ada dua skema seseorang tentang reaksinya dalam menghadapi masalah :
- Skema pertama : mendapat masalah – stres – depresi – suicidal (bunuh diri).
- Skema kedua : mendapat masalah – stres – pasrah – ikhlas.
Skema pertama berlaku untuk seseorang yang mengalami permasalahan di dalam hidupnya, yang kemudian menjadikannya stres. Ketika seseorang mengalami stres dan tidak lantas mencari solusi untuk permasalahannya, maka akan sangat bisa mengakibatkan suatu kondisi depresi. Kondisi depresi yang tidak berujung bisa berakibat suicidal atau bunuh diri.
Di agama apapun tentu sangat terang dan jelas melarang aktivitas “bunuh diri” ini. Bunuh diri adalah suatu kegiatan yang bertentangan dengan anjuran agama. Namun, di dalam tulisan ini, penulis ingin mengarahkan bahwa suicidal atau bunuh diri tidak serta merta membunuh dalam artian mencabut nyawa diri sendiri dengan paksa. Istilah bunuh diri disini mengarah pada tindakan keputus-asaan seseorang. Seseorang yang mengalami putus asa secara tidak langsung akan membunuh semua potensi yang ada di dalam dirinya. Putus asa membuat aktifitas seseorang terhenti beberapa kurun waktu dalam tempo singkat maupun lama.
Contoh kasus (mohon maaf) orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan (orang gila) adalah orang yang secara tidak langsung membunuh dirinya sendiri melalui keputusasaan akan memori kenangan masa lalu yang terus-menerus berputar dalam pikirannya. Adanya hal ini mengakibatkan terputusnya kehidupan orang akan asa yang masih bisa diperjuangkan.
Dalam ilmu psikiatri terdapat beberapa faktor yang menyebabkan seseorang bisa terkena gangguan kejiwaan: biologis (gen/keturunan), psikologis (sosialisasi dari orang tua), dan lingkungan. Pada faktor lingkungan, gangguan jiwa bisa disebabkan karena suatu keadaan sosial yang mengarahkan seseprang cenderung mengalami permasalahan. Misalnya, seseorang yang mengalami mobilitas vertikal sinking atau mobilitas sosial ke bawah (kebangkrutan, pencabutan jabatan, dan berbagai musibah yang lainnya)
Skema kedua, yaitu seseorang yang mengalami permasalahan di dalam hidupnya dan menimbulkan stres. Kemudian dia menenangkan dirinya dengan sikap berpasrah kepada Allah Swt. bahwa semua kejadian yang menimpanya adalah efek dari sistem semesta yang berjalan. Dia mengilhami di balik setiap kejadian menimpa ada hikmah yang dapat diambil. Akhirnya, dia bisa menerima setiap kejadian dengan rasa ikhlas. Dia menyadari bahwa semua yang berlalu di dunia ini hanyalah sementara. Dengan rasa ikhlas, dia bisa berpikir tenang dan positif untuk kembali bangkit berjuang meraih asa.
Penulis ingat ketika sedang melakukan halaqah di tempat bekerja yang diisi oleh Ustaz Wulan Pintoko B.Ed, beliau mengungkapkan tentang tahapan ikhlas dalam diri seseorang. Terdapat tiga tahapan ikhlas, yaitu :
- Ikhlas pertama, adalah ikhlas yang tidak berharap akan sesuatu. Jadi, setiap tindakan yang dilakukan tidak berpikir akan pamrih dan berekspektasi apapun. Apapun itu, hanya Allah Swt. yang tahu dan menilai setiap perbuatan yang dilakukan. Misal, seseorang yang melakukan ibadah atau perbuatan entah itu baik atau buruk tidak mempedulikan imbal hasil yang diperoleh.
- Ikhlas kedua, adalah rasa ikhlas yang berekspektasi tentang kehidupan setelah dunia (akhirat). Dia bertindak dan berperilaku atas dasar imbalan yang diperoleh berupa pahala sebagai modal untuk kehidupan di akhirat.
- Ikhlas ketiga, yaitu ikhlas yang berharap hubungan timbal balik dalam kehidupan duniawi. Orang tersebut bertindak ikhlas dengan pamrih akan hal-hal yang berbalas kepadanya untuk urusan keduniawiannya. Misal, orang tua yang menyekolahkan anaknya di pondok mempunyai tujuan untuk mendapatkan beasiswa hafiz Qur’an.
Ikhlas setiap orang tidak bisa ditebak dan diketahui secara pasti. Karena rasa ikhlas hanya dapat diaplikasikan dan dirasakan imbasnya untuk diri pribadi orang itu sendiri. Semoga kita bisa menjalani setiap liku kehidupan ini dengan rasa ikhlas agar bisa meraih asa kehidupan. Aamiin, wallahu a’lam.[]
Redaktur: Lutfi Nur Azizah












