nidaulquran.id-Rencana pembangunan Kampung Haji Indonesia di Mekkah menjadi salah satu agenda utama Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kenegaraannya ke Arab Saudi pekan ini. Dalam pertemuan dengan Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), Presiden Prabowo menyampaikan langsung gagasan besar tersebut, yang disambut positif oleh pemerintah Saudi.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan bahwa rencana ini mencerminkan langkah strategis pemerintah dalam menjawab kebutuhan jangka panjang jemaah haji dan umrah Indonesia. “Setiap tahun, sekitar 1,5 juta umat Muslim Indonesia menunaikan umrah dan lebih dari 220 ribu berhaji. Sudah saatnya kita memiliki pusat layanan terintegrasi di Tanah Suci,” ujar Nasaruddin di Jeddah, Kamis (3/7/2025).
Kampung Haji nantinya dirancang sebagai kawasan pemukiman dan layanan terpadu bagi jemaah Indonesia di Mekkah, dengan tujuan mempermudah logistik, akomodasi, hingga layanan kesehatan dan spiritual. Meskipun detail proyek ini belum disampaikan ke publik, Nasaruddin memastikan bahwa pembahasan lanjutan akan dilakukan secara internal sebelum diumumkan secara resmi oleh Presiden.
Kepala Badan Penyelenggara Haji (BPH), Mochamad Irfan Yusuf, menambahkan bahwa pemerintah Indonesia dan Arab Saudi akan segera membentuk tim bersama untuk mengkaji berbagai kemungkinan teknis dan hukum yang diperlukan dalam realisasi proyek ini. “Ini masih dalam tahap awal, tapi semangat kerja sama dari kedua pihak sangat kuat,” katanya.
Menko Perekonomian sekaligus utusan khusus dalam kunjungan tersebut, Zulkifli Hasan, turut menyatakan optimismenya. “Insya Allah, Kampung Haji akan terealisasi di masa pemerintahan Pak Prabowo,” ujarnya singkat namun penuh keyakinan.
Selain membahas rencana pembangunan Kampung Haji, Menag Nasaruddin juga mengungkap bahwa penyelenggaraan haji oleh Indonesia mendapat apresiasi tinggi dari pemerintah Saudi. Wakil Menteri Urusan Haji Kerajaan Arab Saudi, dalam kunjungannya ke Kantor Urusan Haji Indonesia di Mekkah, memuji ketertiban dan kesiapan jemaah Indonesia, yang dinilai sebagai salah satu yang paling baik dalam merespons perubahan regulasi haji.
Kerja sama bilateral ini diharapkan tak hanya memperkuat pelayanan jemaah, tapi juga menjadi simbol eratnya hubungan diplomatik keagamaan antara dua negara. “Ini bukan sekadar fasilitas fisik, tapi representasi kehadiran Indonesia yang aktif, tertib, dan visioner di pusat peradaban Islam,” tutup Nasaruddin.













