Mohammad Rifa’i
(Tenaga Pendidik di Pondok Pesantren Modern Al Umanaa, Sukabumi)
“Seringkali kita mengutuk diri sebab sesuatu yang tak mampu kita lakukan. Ketakutan, kegelisahan, ketidaktentraman, kemarahan, kebencian, dendam datang bergantian membuat jiwa yang koyak penuh kebobrokan. Adakah yang perlu disalahkan saat keinginan tak selaras dengan kemampuan?
Kita sering berspekulasi tentang banyak hal. Spekulasi. Ya, hanya spekulasi. Tanpa bukti. Berbicara ini dan itu tanpa mau disebut cerewet dan tak tahu malu. Ah, dalam keadaan begini, kadang kita tidak bisa membedakan antara “tahu diri” dan “percaya diri.” Semuanya tentang kemampuan. Ah, lagi-lagi.”
***
Tulisan di atas adalah statement yang pernah saya post di akun facebook saya beberapa tahun lalu. Statement ini melahirkan diskusi kecil antara saya dan teman saya di kolom komentar. Begini:
Teman: Kita sesungguhnya tahu mana jalan terbaik bagi kita, namun kita hanya mengikuti jalan yang biasa (Paulo Coelho)
Saya: Bagaimana jalan yang tidak biasa itu?
Teman: Berubah selagi tumbuh. Bukan baru berubah saat terkapar dirajam krisis (Renald Kasali)
Saya: Tapi kapan hal itu bisa disadari? Adakah 5 dari 10 orang yang demikian? Bukankah banyak dari kita melakukan perubahan saat situasi memang benar-benar terjepit?
***
Kita semua sudah paham betul tentang: “semua keinginan tidak akan pernah tercapai jika tidak ada kemauan untuk merealisasikannya.” Maka, kata hanyalah kata, niat hanyalah niat. Tidak akan berubah menjadi apapun jika kita tidak bergerak.
Jika kita tidak melakukan action atas apa yang kita niatkan. Semua keinginan, harapan dan cita-cita yang pernah kita ucapkan tidak akan berarti apa-apa. Itu hanya akan menjadi omong kosong yang menguap di udara dan terbang entah kemana.
Semua yang kita diskusikan, semua yang kita musyawarahkan hanyalah membuang-buang waktu, tidak ada pelajaran, tidak ada manfaat yang didapat. Jangan salahkan keinginan yang tak selaras dengan kemampuan.
Sebab, masalahnya bukan kita tidak mampu, melainkan kita cenderung tidak mau belajar mampu. Percayalah, semua masalah pasti ada solusinya. Masalah apa saja, termasuk tentang ketidakmampuan atau tentang keinginan yang sulit tercapai.
Tidak dapat dipungkiri bahwa hidup di dunia ini pasti berurusan dengan masalah. Silahkan ambil sikap setenang mungkin, tarik nafas dalam-dalam, jernihkan pikiran. Jangan salahkan Nabi Adam dan Siti Hawa yang terusir dari surga yang kemudian hidup di dunia yang “sarat akan masalah.”
Bukankah mereka diusir ke bumi untuk menjadi khalifah? Bahkan malaikat pun iri pada mereka, iri pada kita sebagai manusia (QS. Al-Baqarah: 30).
Itu artinya, manusia memiliki banyak kelebihan, dan Allah memang menciptakannya begitu, laqad khalaqna al-insaana fii ahsani taqwiim. Allah mempercayakan dunia ini pada kita, sebab Allah percaya bahwa kita mampu menanganinya.
Kita tahu, dalam hidup, Allah telah memberikan kita dua jalan; jalan kebaikan dan jalan keburukan, fa alhamahaa fujuuraha wa taqwaaha (QS. As-Syams; 8). Kita tinggal memilih mana jalan yang akan kita tempuh.
Apapun jalan yang kita ambil, ingat, kita akan tetap kembali pada Allah, innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Hanya saja yang perlu digarisbawahi adalah jalan mana yang akan kita tempuh untuk kembali pada Allah.
Maka dari itu, Allah memberikan tiga kelebihan khusus bagi manusia sebagai bekal dan panduan dalam menjalani hidup di dunia; hati yang selalu mendorong pada kebaikan, nafsu yang cenderung mengajak pada keburukan, dan akal sebagai penimbang antara keduanya.
Poinnya adalah, bagaimana manusia menggunakan tiga kelebihan ini. Menyikapi berbagai problema kehidupan yang sarat akan emosi. Tentu kita semua berharap selalu melakukan kebaikan, condong pada hati.
Dari tiga kelebihan inilah kemudian muncul pilihan-pilihan atas segala hal. Memilih taat apa tidak? Mau belajar apa tidak? Mau menulis apa tidak? Mau berteman apa tidak? Dan seterusnya dan seterusnya. Dan jawabannya adalah tentu hasil dari pertimbangan akal.
Saat akal memilih hal yang sudah jelas baik, berarti ia condong pada hati. Kalau memilih jelek, buruk (haram, syubhat, makruh dan semacamnya), berarti ia condong pada nafsu.
Kita bebas memilih jalan mana yang mesti kita tempuh. Yang jelas, sekalipun kita diciptakan dalam keadaan sempurna, kita pula yang menentukan apakah kita tetap layak menjadi sempurna saat kembali pada Allah? Hidup memang pilihan.
Pilihan-pilihan yang muncul dalam hidup boleh kita terima atau kita tolak. Itu hak prerogatif kita. Tidak ada paksaan dalam hal ini, bahkan dalam beragama sekalipun, laa ikraaha fi ad-diini.
Misalnya, saat kita diminta seseorang untuk menjadi penanggung jawab ini dan itu, kita berhak menolaknya, toh itu sebuah pilihan, sekalipun itu sesuai dengan kemampuan yang kita miliki, apalagi tidak sesuai.
Mari kita kesampingkan sifat malas. Berubahlah selagi tumbuh, meski sulit. Jangan takut salah selagi kita yakin apa yang kita lakukan adalah benar. Ingat, belajarlah menggunakan ilmu yang kita miliki dengan proporsional. Dengan wajar. Jangan berlebihan.
Terakhir, apa yang kita inginkan, apa yang kita cita-citakan, yang kita niatkan akan tercapai jika kita “mau” mewujudkannya sekalipun “kita tidak mampu.”












