nidaulquran.id-Amina, 34 tahun, berdiri lama di depan jendela rumahnya di pinggiran Sydney. Ada rasa gelisah yang sulit ia tepis. Sejak insiden kebencian di lingkungannya makin sering terjadi, rutinitas kecil seperti merapikan hijab sebelum keluar rumah terasa jauh lebih berat. Ada beban emosional yang ikut menempel. “Dulu saya selalu merasa Sydney itu rumah yang aman,” katanya pelan. “Sekarang, setiap tatapan orang asing di transportasi umum rasanya seperti ancaman.”
Apa yang dialami Amina bukan cerita tunggal. Pengalamannya mencerminkan kenyataan pahit yang dihadapi banyak Muslim di New South Wales. Laporan menunjukkan insiden Islamofobia melonjak lebih dari 200 persen. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia hadir sebagai tangan seorang ibu yang bergetar, takut anaknya menjadi sasaran vandalisme atau pelecehan hanya karena identitas mereka.
Di Balik Tirai Prasangka dan Ancaman Keamanan
Meningkatnya sentimen anti Muslim di Sydney menciptakan suasana tegang yang menyesakkan. Vandalisme di Masjid Minto, serangan fisik terhadap para imam, semuanya membuat komunitas Muslim merasa terus diawasi, seolah hidup di bawah sorotan kebencian. Data dari Islamophobia Register Australia memperkuat gambaran ini. Perempuan Muslim menanggung dampak paling berat, hampir tiga perempat dari total korban berasal dari kelompok ini.
Bagi Amina, fakta itu berarti kewaspadaan ekstra setiap kali ia berada di ruang publik. Ia harus selalu siap, selalu waspada. “Kami hanya ingin hidup tenang, ikut berkontribusi, dan membesarkan anak anak kami tanpa rasa takut,” ujarnya, matanya berkaca kaca.
Kini, banyak keluarga Muslim memilih membatasi aktivitas harian mereka. Sebagian meningkatkan keamanan di pusat komunitas, sebagian lain memilih lebih sering tinggal di rumah. Namun, di balik bayang bayang intimidasi itu, muncul kesadaran bersama. Tembok kecurigaan tidak akan runtuh dengan bersembunyi. Mereka menolak membiarkan kebencian menentukan cara mereka hidup berdampingan.
Menjawab Kebencian dengan Keterbukaan: Victorian Mosque Open Day 2026
Berbeda dengan ketegangan di Sydney, Victoria mengambil langkah yang berani dan terbuka lewat program Victorian Mosque Open Day 2026. Pada Sabtu, 7 Februari 2026, lebih dari 30 masjid dan pusat Islam di seluruh Victoria, dari Brunswick hingga Geelong, membuka pintu secara serentak untuk masyarakat umum.
Inisiatif ini mendapat dukungan dari Pemerintah Allan Labor dan dirancang untuk melawan narasi kebencian melalui dialog langsung. Pengunjung diajak masuk ke dalam masjid, melihat suasana ibadah, dan berbincang langsung dengan para jemaah. Tidak ada jarak. Tidak ada perantara.
Hari Terbuka Masjid bukan sekadar tur bangunan. Berbagai kegiatan digelar untuk mencairkan suasana, mulai dari tutorial hijab, seni henna, hingga mencicipi makanan tradisional. Masjid berubah menjadi ruang pertemuan budaya yang hangat dan ramah.
“Ini kesempatan bagi tetangga kami yang mungkin belum pernah masuk masjid untuk bertanya apa saja, tanpa rasa canggung,” kata seorang relawan. Dengan dukungan dana pemerintah sebesar 400.000 dolar, program ini menjadi salah satu benteng melawan Islamofobia. Pesannya jelas, pendidikan dan pertemuan antar manusia adalah penawar paling ampuh bagi rasisme.
Memilih Harapan, Bukan Ketakutan
Bagi Amina dan ribuan Muslim lainnya di Australia, inisiatif seperti Hari Terbuka Masjid menjadi secercah harapan di tengah situasi yang belum sepenuhnya aman. Ancaman di Sydney masih terasa nyata. Namun, keberanian komunitas di Victoria untuk tetap membuka diri menunjukkan satu hal penting. Mereka menolak didefinisikan oleh rasa takut.
Dengan membuka pintu masjid, mereka juga membuka hati masyarakat Australia. Di balik perbedaan pakaian atau cara berdoa, ada nilai kemanusiaan yang sama. Lewat senyuman, percakapan ringan, dan secangkir teh di hari terbuka itu, jembatan baru sedang dibangun. Sebuah langkah kecil menuju masa depan Australia yang lebih inklusif, tempat setiap orang merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri.












