oleh: Ana Fitri Aulia, S.Psi
Peminat Kajian Keislaman dan Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Diponegoro
nidaulquran.id-Sorotan terhadap kepemimpinan kerap berhenti pada angka kemenangan, perluasan wilayah, atau nama besar yang diabadikan ke dalam sejarah. Padahal, yang paling menentukan kemenangan kerap tersembunyi di balik layar.
Bagaimana keputusan lahir saat keadaan genting? Bagaimana sikap ujian dan godaan ketika kekuasaan datang? Bagaimana seorang pemimpin menempatkan dirinya sebagai penguasa atau sebagai penjaga amanah?
Pada titik inilah, perbedaan cara pandang muncul. Perbedaan pendapat merupakan sebuah keniscayaan yang terjadi di tengah kehidupan manusia, di setiap zaman dan generasi. Bahkan di zaman Rasulullah dan para sahabat, perbedaan pendapat tak dapat terhindarkan.
Saat Rasulullah masih hidup, beliau menjadi rujukan utama. Namun setelah wafatnya, para sahabat harus meneruskan kepemimpinan itu di tengah ragam pandangan yang ada.
Namun, sebagaimana disabdakan bahwa sahabat Rasulullah merupakan umat terbaik, para sahabat memiliki cara yang indah untuk menyikapi berbagai perbedaan pendapat yang ada.
Mari memikat hikmah dari salah satu kisah sahabat Rasulullah; Abu Bakar ash Shiddiq dan Umar bin Khattab, dalam hal kepemimpinan Khalid bin walid sebagai panglima perang kaum muslimin.
Khalid bin Walid dikenal sebagai panglima besar dalam sejarah Islam. Ia dijuluki Saifullah al-Maslul (Pedang Allah yang Terhunus). Di bawah komandonya, berbagai peperangan berhasil dimenangkan secara gemilang, menjadikan namanya bersinar dalam sejarah militer Islam.
Pada masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq, Khalid bin Walid dipercaya untuk memegang tampuk komando panglima perang kaum muslimin. Rekam jejak militernya telah teruji sejak masa Rasulullah—tajam dalam strategi. di bawah komando Khalid, pasukan muslimin berhasil meraih kemenangan demi kemenangan.
Strategi perangnya yang brilian mampu mematahkan tombak-tombak musuh, sementara keberhasilan itu disambut umat dengan rasa syukur dan penuh kebanggaan.
Namun, situasi berubah ketika Umar bin Khattab menggantikan Abu Bakar sebagai khalifah.
Umar tidak serta-merta melanjutkan kebijakan Abu Bakar sebelumnya. Ia justru mengambil keputusan yang mengejutkan yaitu mencopot Khalid dari jabatan panglima perang. Bukan karena Khalid kalah perang, bukan pula karena pengkhianatan.
Umar lebih memilih untuk membuka peluang kepada sahabat yang lain untuk tampil sebagai panglima perang yang menurutnya tak kalah hebat dengan Khalid.
Sekilas, keputusan Abu Bakar dan Umar tampak berlawanan. Padahal, keduanya merupakan ekspresi dari kebijaksanaan kepemimpinan yang sama, yang lahir dari konteks dan pertimbangan yang berbeda.
Abu Bakar sadar betul, pertempuran yang besar membutuhkan pemimpin yang besar dan tegas. Khalid hadir dengan ketegasan yang tak tergoyahkan dan memiliki rekam jejak tanpa cela. Di bawah komandonya, kemenangan seolah telah tertulis bahkan sebelum pedang terhunus. Kejayaan ini akan terus menguatkan rasa percaya diri yang menembus relung jiwa kaum muslimin sebagai bekal untuk menghadapi musuh selanjutnya.
Sedangkan Umar, bukan tak merasa senang atau iri dengan seluruh kemenangan yang diraih Khalid. Namun ia menyadari bahwa, kekaguman yang berlebih seperti pedang bermata dua.
Jika umat islam percaya bahwa kemenangan hanya bisa diraih saat Khalid memimpin, maka umat muslim nantinya akan kalah secara mental sebelum berperang tanpa dirinya. Karena bagaimanapun Khalid adalah manusia biasa, yang tak terlepas dari kemungkinan sakit, dan tidak hidup selamanya.
Umar menyadari akan hal tersebut dan ia membangun sistem di mana setiap prajurit adalah pahlawan, sehingga kejayaan Islam akan terus berdiri kokoh meski sang legenda tak lagi di dalam barisan depan.
Umar tidak ingin jika kaum muslimin berpandangan bahwa kejayaan Islam berada di tangan Khalid, tanpa Khalid umat Islam akan mendapati kekalahan. Sedangkan pada kenyataannya, kemenangan hanya milik Allah, dan kemenangan umat Islam adalah karunia serta janji yang diberikan-Nya.
Siapapun panglimanya, jika Allah mengizinkan, Islam akan menang.
Pada keputusannya menggantikan posisi Khalid sebagai panglima, Umar menyampaikan:
إني لم أعزل خالداً عن سخطة أو خيانة، ولكن الناس فُتنوا به فخشيت أن يُوكَلوا إليه ويُبتلوا، فأحببت أن يعلموا أن الله هو الصانع وأن لا يكونوا بعُرْضِ [بطريق] فتنة
“Aku tidak memberhentikan Khalid karena marah atau karena pengkhianatan. Tapi karena banyak orang yang terlalu mengaguminya, aku khawatir mereka akan menggantungkan harapan sepenuhnya padanya dan akhirnya justru menjadi ujian bagi mereka. Maka aku ingin mereka tahu bahwa Allah-lah yang mengatur segalanya, agar mereka tidak terjerumus dalam fitnah.”
Yang paling menarik adalah sikap Khalid bin Walid sendiri.
Bayangkan posisi Khalid saat itu. Namanya dielu-elukan, jasanya tak terbantahkan, dan ia dicopot bukan karena kesalahan. Jika ia ingin marah, kecewa, atau menarik diri, semua orang akan memakluminya.
Namun, Khalid tidak melakukan itu. Khalid menerima keputusan Umar dengan lapang. Khalid berkata:
اني لا اقاتل من اجل عمر انما اقاتل من اجل رب عمر
“Aku tidak berperang demi Umar, tapi aku berperang demi Tuhan-nya Umar.”
Kalimat tersebut bukan sekadar ungkapan kepatuhan, tetapi cermin kejernihan jiwa. Khalid memahami bahwa jabatan hanyalah sarana, bukan tujuan. Bahwa nilai seorang pejuang tidak ditentukan oleh posisi struktural, melainkan oleh niat dan kesetiaannya pada Allah.
Meski tak lagi sebagai komando, semangatnya pun tidak pernah redup. Ia merasa bahwa sebagai panglima bukan untuk dipuji, melainkan sebagai hamba yang berserah diri serta menjadikan jihad sebagai panggilan jiwa. Ia tetap berada di barisan depan, tetap mempertaruhkan segenap jiwa dan raga, untuk panji Islam.
Apa yang terjadi antara Umar dan Khalid bukan merupakan perkara pribadi. Jiwa mereka sejatinya selalu terhubung satu sama lain. Khalid memahami betul apa yang dilakukan Umar tak lain adalah untuk kebaikan kaum muslimin. Khalid sendiri yang menyatakan bahwa Umar merupakan pemimpin yang sangat adil.
Begitu pula Umar, ia menurunkan Khalid bukan karena iri atau dendam pribadi, melainkan murni karena profesionalitasnya sebagai Amirul Mukminin.
Sejatinya Umar sangat mencintai Khalid. Umar bahkan menjadi orang yang paling terpukul ketika mendengar kabar mengenai wafatnya Khalid, karena begitu dalam dan tulusnya cinta Umar kepada Khalid, sahabat kecilnya itu.
Dari kisah ini, kita belajar bahwa perbedaan pandangan di antara para sahabat tidak selalu lahir dari konflik dan ego. Perbedaan pandangan justru tumbuh dari kejernihan niat dan kedalaman tanggung jawab.













