Beranda / Kajian / Menjadikan Rasulullah Saw. sebagai Teladan Nyata di Tengah Tantangan Zaman

Menjadikan Rasulullah Saw. sebagai Teladan Nyata di Tengah Tantangan Zaman

nidaulquran.id-Di tengah laju zaman yang terus berubah, seringkali muncul pertanyaan: bagaimana menjadikan sosok yang hidup 14 abad lalu sebagai teladan yang nyata dan relevan? Bagi seorang muslim, meneladani Nabi Muhammad Saw. adalah pilar keimanan. Namun, proses ini menuntut lebih dari sekadar nostalgia sejarah. Ia menuntut pemahaman terhadap sebuah metodologi yang telah digariskan Al-Qur’an untuk menyambungkan diri dengan sang teladan. Metodologi ini berdiri di atas tiga pilar: memahami statusnya sebagai uswatun hasanah (teladan terbaik), menggali sumber karakternya yaitu khuluqin ‘azhim (akhlak agung), dan menyadari hikmah di balik sisi basyarun mitslukum (manusia biasa seperti kita).

Keagungan figur beliau tidak hanya diakui dari internal muslim saja. Sejarawan non-muslim Michael H. Hart dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History menempatkan Nabi Muhammad Saw. di peringkat pertama orang paling berpengaruh dalam sejarah. Alasannya unik, karena beliau adalah “satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih kesuksesan luar biasa baik dalam level agama maupun sekuler” (Michael H. Hart, The 100). Pengakuan objektif ini menjadi pengantar bagi kita untuk menyelami lebih dalam sumber keteladanan yang tak lekang oleh waktu ini.

Status Uswatun Hasanah

Perintah untuk meneladani Rasulullah Saw. bukanlah anjuran biasa, melainkan sebuah fondasi utama dalam beragama. Allah Swt berfirman dalam Surah Al-Ahzab, ayat 21:

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…”

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebut ayat ini sebagai “landasan agung (ashlun kabir) dalam meneladani Rasulullah Saw, baik dalam ucapan, perbuatan, maupun keadaannya.” Menariknya, Ibnu Katsir menggarisbawahi bahwa konteks utama turunnya ayat ini adalah saat Perang Ahzab (Perang Khandaq), sebuah krisis eksistensial bagi kaum muslimin. Saat itu, Madinah dikepung dari segala penjuru, kaum munafik menebar kepanikan, dan hati orang-orang beriman diguncang dengan hebat.

Di tengah situasi genting itulah, Allah memerintahkan kaum muslimin yang saat itu merasa cemas, gelisah, dan terguncang untuk meneladani Nabi mereka untuk mencontoh kesabarannya, keteguhannya, kegigihannya dalam menjaga pertahanan, dan keyakinan penuhnya akan datangnya pertolongan Allah (Ibn Katsîr, 6/350). Ini menunjukkan bahwa uswatun hasanah bukanlah sekadar teladan di masa lapang, melainkan sebuah model kepemimpinan dan ketahanan yang teruji di tengah krisis paling dahsyat.

Akhlak Agung Bernama Al-Qur’an

Jika statusnya sebagai teladan telah ditetapkan, dari manakah sumber akhlaknya yang agung itu berasal? Allah Swt. memberikan sertifikasi langsung dari langit dalam Surah Al-Qalam, ayat 4:

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung (khuluqin ‘azhim).”

Ibn Ashur menjelaskan bahwa khuluqin ‘azhim bukanlah sekadar “akhlak yang baik”, melainkan akhlak yang telah mencapai “puncak kesempurnaan yang terpuji dalam tabiat manusia.” Ini adalah level akhlak tertinggi yang bisa dicapai oleh seorang insan. Lantas, apa wujud dari akhlak agung tersebut dalam kehidupan sehari-hari?

Sayyidah Aisyah R.A. memberikan jawaban yang menjadi kunci bagi seluruh umat. Ketika ditanya tentang akhlak Nabi, beliau menjawab, “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an” (Kana khuluquhul Qur’an). Ibn Ashur menguraikan bahwa jawaban singkat ini memiliki makna yang sangat dalam, Nabi Muhammad Saw. adalah manifestasi hidup dari seluruh keutamaan yang diperintahkan Al-Qur’an dan penjauhan diri dari seluruh larangannya. Lebih jauh, Aisyah R.A. bahkan memberikan contoh dengan berkata, “Tidakkah engkau membaca (awal Surah) Al-Mu’minun?”, merujuk pada ayat-ayat yang memaparkan sifat-sifat orang beriman yang sukses, seperti khusyuk dalam salat, menjauhi perkataan sia-sia, dan menunaikan zakat (Ibnu ’Âsyûr, 29/64).

Ini sejalan dengan misi utama beliau sendiri, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Baihaqi No. 20782). Dengan demikian, untuk meneladani beliau secara nyata, seorang muslim harus kembali kepada Al-Qur’an, karena di sanalah cetak biru dari karakter agung beliau tertera.

Sisi Manusiawi Sang Teladan

Kesempurnaan akhlak Rasulullah terkadang bisa terasa begitu jauh dan sulit digapai. Di sinilah pilar ketiga memainkan perannya, yaitu sisi kemanusiaan beliau. Allah memerintahkannya untuk menegaskan hal ini dalam Surah Al-Kahfi, ayat 110:

“Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu…’”

Al-Maraghi menjelaskan bahwa perintah ini adalah sebuah deklarasi kerendahan hati. Maknanya: “Aku adalah manusia biasa seperti kalian, aku tidak mengklaim mengetahui segalanya, aku hanya mengetahui apa yang Tuhanku ajarkan kepadaku” (Al-Marâghî, 16/29). Sisi manusiawi inilah yang menjadi jembatan. Karena beliau adalah manusia, beliau merasakan lapar, letih, sedih atas kematian orang yang dicintai, dan menghadapi ujian-ujian berat. Kemampuannya untuk tetap memanifestasikan khuluqin ‘azhim di tengah ujian-ujian kemanusiaan inilah yang membuat keteladanannya relevan dan inspiratif.

Ulama besar Qadi ‘Iyad dalam kitabnya, Asy-Syifa’, menggarisbawahi hikmah lain. Allah berfirman bahwa Rasul diutus “dari kalanganmu sendiri” (min anfusikum). Ini berarti, beliau adalah sosok yang dikenal betul oleh kaumnya: nasabnya, kejujurannya, dan amanahnya. Mereka tidak bisa menuduhnya sebagai orang asing atau pendusta (Asy-Syifa’,1/50-55). Keterhubungan sebagai sesama manusia inilah yang membuat pesannya lebih mudah diterima dan keteladanannya lebih mungkin untuk diikuti, bukan sebagai figur mitologis yang tak tersentuh.

Menjadikan Rasulullah sebagai teladan nyata di tengah tantangan zaman menuntut sebuah pemahaman yang utuh. Ia dimulai dari keyakinan pada statusnya sebagai uswatun hasanah yang teruji di tengah krisis; dilanjutkan dengan menggali sumber akhlaknya yang tak lain adalah Al-Qur’an itu sendiri; dan disempurnakan dengan menyadari sisi manusiawinya yang membuat beliau begitu dekat, relevan, dan mungkin untuk diteladani.

Sebagaimana diakui oleh sejarawan, keagungan pengaruhnya tak tertandingi. Namun bagi seorang mukmin, meneladani beliau bukanlah sekadar mengagumi figur sejarah, melainkan sebuah proses menghidupkan kembali “Al-Qur’an yang berjalan” dalam setiap langkah kehidupan.

Referensi:
Al-Marâghî, A. bin M. (1431). Tafsîr al-Marâghî (Vol. 16). Maktabah wa Maṭba‘ah Mustafâ al-Bâbî al-Halabî wa Awlâduh.
Ibn Katsîr, A. al-F. I. bin ’Umar. (1998). Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm (Vol. 6). Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah.
Ibnu ’Âsyûr, M. al-Thâhir. (1431). Al-Tahrîr wa al-Tanwîr (Vol. 29). Al-Dâr al-Tûnisiyyah li al-Nasyr.
Qāḍī ʿIyāḍ ibn Mūsā ibn ʿIyāḍ ibn ʿAmrūn al-Yaḥṣubī al-Sabtī, A. al-Faḍl. (1987). Al-Shifāʾ bi-Taʿrīf Ḥuqūq al-Muṣṭafā (2 ed., Vol. 1). Dār al-Fayḥāʾ.

Tag: