Home / Kajian / Tarbawi / Pentingnya Self Leadership dan Self Discipline

Pentingnya Self Leadership dan Self Discipline

nidaulquran.id-Dr. Muhammad Syafi’i Antonio, M.Ec mengawali pembahasan pentingnya self leadership dengan sebuah pertanyaan; “Mengapa leadership sangat kaya teori dan konsep, sementara sangat miskin dalam penerapannya? Ratusan buku dan model leadership mengajukan berbagai cara terbaik menjadi seorang leader, akan tetapi ketika diminta untuk menyebutkan nama seorang leader yang dapat dijadikan role model mereka sulit menyebutkannya”. 

Sesungguhnya ini menjadi otokritik untuk seorang leader di keluarganya, seorang leader di tengah-tengah masyarakat atau leader dalam struktur level organisasi atau  negara saat ini. Dalam mindset orang-orang beriman pasti menjadikan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai teladan yang baik. Sebagaimana Allah sebutkan dalam surat al-Ahzab ayat 21:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا

Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Pertanyaan berikutnya, apakah setiap diri kita sudah berusaha belajar dan merealisasikan kearifan leadership dan manajemen Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam bisnis dan kewirausahaan, kehidupan berumah tangga, dakwah, tatanan sosial dan politik, sistem hukum, pendidikan, dan strategi militer?

Sesungguhnya setiap mukmin pasti sangat memahami dengan baik ayat di atas, bahkan hafal di luar kepala. Akan tetapi yang kurang adalah keberanian untuk mewujudkan kaidah quraniyyah ini dalam amal yang nyata.

Ilmu yang menjadi amal shalih. Keberanian yang mencapai level tingkat sadar diri. Sadar dalam memahami diri sendiri. Hal inilah yang menjadi syarat awal dalam mengembangkan kompetensi diri dalam memimpin orang lain.

Itulah refleksi awal dari kesadaran spiritual dan sosial bahwa perubahan sejati bermula dari individu. Bila setiap orang memulai perbaikan dari dirinya, lalu membawa nilai-nilai itu ke dalam keluarganya, lalu ke masyarakat, hingga meluas ke bangsa dan negara, maka akan tercipta peradaban yang unggul dan bermartabat.

Inilah pesan fundamental dalam proses tarbiyah Islamiyah, yang dimulai dari perbaikan individu (islah an-nafs), pembentukan keluarga islami, pembangunan masyarakat yang shalih, hingga terwujudnya kepemimpinan Islami yang membawa rahmat bagi semesta alam.

Dalam bukunya The Super Leader Super Manager, Dr. Muhammad Syafi’i Antonio, M.Ec., menguraikan pentingnya self leadership dan self discipline sebagai fondasi dasar dalam kepemimpinan dan manajemen.

Self leadership adalah kemampuan seseorang untuk memimpin dirinya sendiri sebelum ia memimpin orang lain. Sementara self discipline adalah kemampuan untuk menahan diri, mengelola hawa nafsu, dan tetap konsisten pada nilai-nilai dan prinsip, meskipun dalam kondisi yang menantang.

Kedua konsep ini senada dengan filosofi Islam yang sangat menekankan pada muhasabah (introspeksi) dan mujahadah (perjuangan melawan hawa nafsu). Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab oleh Allah Subhanahu Wata’ala.” ( HR. Tirmidzi).

Hadis ini menekankan pentingnya evaluasi diri sebagai bentuk kepemimpinan terhadap diri sendiri. Ironisnya, kita sering tajam dalam mengkritik orang lain, namun begitu tumpul dalam mengkritik diri kita sendiri.

Kita sering menetapkan standar tinggi bagi orang lain, tetapi memaklumi kesalahan sendiri dengan berbagai pembenaran (self excuse) dan tidak memberikan hukuman moral (self punishment) atas kegagalan pribadi.

Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam teladan tertinggi dalam Self Leadership. Rasulullah Muhammad ﷺ Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah contoh paripurna dalam kepemimpinan diri. Sebelum beliau memimpin umat, beliau telah menaklukkan dirinya sendiri.

Beliau tidak akan menyuruh para sahabat melakukan sesuatu hal sebelum dirinya memulai melakukan sesuatu itu. Juga beliau tidak akan pernah melarang sesuatu kecuali beliaulah orang yang pertama meninggalkan sesuatu yang dilarang itu.

Beliau dijuluki al-Amin karena integritas dan kedisiplinannya jauh sebelum diangkat sebagai nabi. Bahkan dalam menghadapi tekanan, penolakan, dan hinaan dari kaumnya, beliau tetap menunjukkan konsistensi sikap, kesabaran luar biasa, dan pengendalian emosi yang luar biasa.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga menunjukkan self discipline dalam ibadah. Qiyamul lail, shaum sunnah, dzikir, dan kebiasaan menjaga kesucian hati serta keikhlasan adalah cerminan dari keteguhan spiritual yang tidak goyah meski kondisi sosial dan politik sangat menekan.

Teringat konsep tarbiyah Islamiyah saat halqoh tarbawiyah bahwa perubahan dan pembangunan dilakukan secara bertahap:

  1. Tazkiyyah wa Tarbiyah; menyucikan diri dari penyakit hati dan menanamkan akidah yang benar.
  2. Islah al-Fard; memperbaiki diri sebagai pondasi karakter.
  3. Bina al-Usrah ; membentuk keluarga islami sebagai unit terkecil masyarakat.
  4. Islah al-Mujtama’ ;  membangun lingkungan yang baik dan beradab.
  5. Iqamat ad-Daulah ; menegakkan masyarakat madani dan pemerintahan Islami.
  6. Syumuliyat al-Islam; menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Semua ini bermula dari perbaikan diri pribadi, bukan dari paksaan terhadap orang lain. Di sinilah pentingnya membangun kesadaran diri kolektif.

Bila setiap individu sadar bahwa ia punya tanggung jawab untuk menjadi lebih baik, maka akan lahir masyarakat yang kuat dari dalam. KH. Dr. Mu’inuddinillah rahimahullahu rahmatan wasi’ah sering mengungkapkan dalam pembinaan rabu pagi dengan ungkapan tarbiyah dzatiyah.

Seringkali kita memaafkan kesalahan diri sendiri dengan berbagai alasan: lelah, sibuk, tidak sempat, atau sekadar “manusiawi”. Ini membentuk budaya self excuse yang kronis. Kita membiarkan kemalasan, emosi, dan kesalahan pribadi tanpa ada bentuk tanggung jawab atau hukuman batin (self punishment). Padahal, musuh utama perubahan bukanlah orang lain, tapi diri sendiri yang tidak disiplin.

Jika kita seorang pemimpin negara, institusi, pengurus masjid, pegawai, guru, santri, atau bahkan anggota keluarga biasa, kita tetap bisa melakukan perubahan lewat kepemimpinan diri:

  1. Membangun rutinitas disiplin: memulai dari hal- hal kecil tapi konsisten, seperti shalat tepat waktu, membaca Al-Qur’an setiap hari, atau menjaga lisan.
  2. Meningkatkan kualitas muhasabah: Evaluasi diri setiap malam, mencatat kemajuan dan kekurangan.
  3. Menetapkan target spiritual dan pribadi: menjadikan visi akherat lebih bermakna daripada sekadar pencapaian duniawi.
  4. Menjaga keikhlasan dan selalu memperbaharui niat: Niat yang benar akan meluruskan langkah dan menguatkan motivasi.
  5. Berani mengakui kesalahan diri dan belajar memperbaikinya, bukan hanya menyalahkan kondisi atau orang lain.

Self leadership dan self discipline bukan hanya konsep motivasi modern, tetapi bagian dari ajaran Islam yang agung. Rasulullah ﷺ telah memberi contoh sempurna bagaimana menata diri adalah kunci untuk menata umat.

Mari berhenti menuntut dunia berubah sebelum kita sendiri mau berubah. Sebab, peradaban besar selalu dibangun dari individu-individu kecil yang besar jiwanya. Ibdak binafsik.

Semoga Allah Subhaanaahu wata’ala senantiasa membimbing kita menjadi pribadi-pribadi yang berani memulai memperbaiki diri dan memperbaiki kedisiplinan dalam setiap hal.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ…

Artinya: “ ….Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri “ (QS. Ar Ra’du: 11).

Perubahan sejati dimulai dari kepemimpinan dan disiplin diri sebelum memimpin orang lain. Ketika setiap individu memperbaiki dirinya dengan ikhlas, maka masyarakat dan bangsa pun akan berubah menjadi lebih baik secara kolektif.

Referensi

Antonio, M.S (2009). Ensiklopedia Leadership dan Manajemen Muhammad SAW “the Super Leader Super Manager”. Tazkia Publishing.
https://tafsirweb.com/7633-surat-al-ahzab-ayat-21.html
https://tafsirweb.com/3971-surat-ar-rad-ayat-11.html
https://www.hadits.id/hadits/tirmidzi/2383

Tag: