Beranda / Hikmah / Tarikh / Rahmah El Yunusiyyah dan Jalan Sunyi Menuju Pahlawan Nasional

Rahmah El Yunusiyyah dan Jalan Sunyi Menuju Pahlawan Nasional

NidaulQuran.ID–Pada pagi yang berkabut di Padang Panjang, sekelompok gadis muda berdiri dengan rapi di halaman sekolah. Di antara mereka, terdapat seorang perempuan yang mengenakan sarung songket dan kebaya sederhana. Suaranya tegas, matanya tenang, dan langkahnya penuh keyakinan. Dia adalah Rahmah El Yunusiyyah, seorang tokoh yang menjadi pelopor dalam pendidikan perempuan Islam jauh sebelum isu emansipasi dan kesetaraan gender menjadi perbincangan global. Pada 10 November 2025, dia salah satu tokoh yang memperoleh pengakuan atas gelar Pahlawan Nasional.

Rahmah El Yunusiyyah lahir pada 26 Desember 1900 di Padang Panjang, dalam sebuah keluarga yang memiliki latar belakang keagamaan yang kuat di Minangkabau. Kakaknya, Zainuddin Labay El Yunusy, dikenal sebagai pendiri Diniyah School, salah satu institusi pendidikan Islam modern pertama di Nusantara. Namun, Rahmah memiliki visi yang lebih luas: ia ingin memastikan bahwa pendidikan tidak hanya diperuntukkan bagi kaum laki-laki. Pada tahun 1923, ia mendirikan Madrasah Diniyah Puteri, lembaga pendidikan pertama di dunia Islam yang secara khusus ditujukan untuk perempuan (Furoidah, 2019).

Melawan Tradisi dan Mengubah Nasib

Pada masa itu, banyak perempuan Minangkabau yang terjebak dalam pendidikan yang terbatas pada ranah domestik dan norma-norma adat yang kaku. Rahmah menolak untuk menerima takdir tersebut. Ia berkeyakinan bahwa perempuan tidak seharusnya dipinggirkan, melainkan diberdayakan untuk berpikir dan berkontribusi dalam pembangunan peradaban.

Dalam kurikulumnya, Rahmah mengintegrasikan ilmu agama, pengetahuan umum, dan keterampilan praktis—sebuah pendekatan yang revolusioner untuk zamannya. Ia mengajarkan kepada murid-muridnya keterampilan memasak, menjahit, berpidato, serta manajemen administrasi dan keuangan lembaga. “Perempuan harus memiliki akal yang kuat, hati yang lembut, dan keterampilan yang terampil,” ungkapnya dalam salah satu pidato saat mendirikan sekolah, sebagaimana dikutip oleh Mighfaza & Huriani (2023) dalam Jurnal Iman dan Spiritualitas.

Model pendidikan yang ia usung kemudian dikenal sebagai pendidikan integral, yang menyeimbangkan dimensi aqliyah (intelektual), ruhiyah (spiritual), dan jasmaniyah (praktikal). Pemikiran ini menjadikan Rahmah sebagai sosok yang melampaui zamannya; bahkan Universitas Al-Azhar di Kairo mengakui gagasannya sebagai referensi dalam pendirian Kulliyat al-Banat (fakultas perempuan) pada tahun 1950-an (Furoidah, 2019).

Syaikhah dari Padang Panjang

Pengakuan global terhadap Rahmah terjadi pada tahun 1955, ketika Al-Azhar memberikan gelar kehormatan “Syaikhah al-Islamiyyah” kepadanya—sebuah penghargaan yang belum pernah diberikan kepada seorang perempuan sebelumnya. Pengakuan ini bukan sekadar simbol kehormatan, melainkan juga merupakan penegasan bahwa pengetahuan dan visi seorang perempuan dari tanah Minangkabau telah memberikan kontribusi signifikan terhadap arah pendidikan Islam di tingkat internasional (Jurnal Al-Fikra, UIN Suska Riau, 2021).

Karya intelektual Rahmah melampaui sekadar pendirian sekolah. Ia aktif menulis, mengajar, dan berdakwah dengan gagasan yang progresif: pendidikan seharusnya bersifat membebaskan, bukan membatasi. Dalam naskah-naskah pidato yang tersimpan di arsip Diniyah Puteri, ia sering menekankan bahwa kemajuan umat Islam hanya dapat dicapai jika perempuan mendapatkan pendidikan dan diberdayakan—karena merekalah pendidik pertama dalam lingkungan keluarga.

Perjuangan Rahmah tidak terbatas pada dunia pendidikan. Ia juga terlibat aktif dalam organisasi perempuan Minangkabau dan kemudian bergabung dengan Partai Masyumi. Pada Pemilu 1955, Rahmah terpilih sebagai anggota Konstituante. Di lembaga tersebut, ia memperjuangkan pengakuan terhadap pendidikan Islam dan hak-hak perempuan dalam konstitusi negara. Dalam sidang-sidang Konstituante, Rahmah dikenal sebagai sosok yang vokal dan kritis, namun tetap menunjukkan sikap santun—memperlihatkan keseimbangan antara ketegasan intelektual dan kelembutan moral (Historia, UIN Sunan Gunung Djati, 2022).

Warisan yang Hidup

Hampir satu abad setelah pendirian Diniyah Puteri, semangat Rahmah masih dapat dirasakan di setiap sudut asrama dan ruang kelas sekolah tersebut. Para murid tidak hanya diajarkan untuk membaca Al-Qur’an dan berhitung, tetapi juga diberikan pendidikan mengenai kepemimpinan, nilai-nilai sosial, dan etika modern. Banyak di antara mereka yang kemudian berperan sebagai tokoh pendidikan, aktivis sosial, dan pemimpin komunitas perempuan di Indonesia.

Penelitian yang dilakukan oleh Mighfaza dan Huriani (2023) menunjukkan bahwa gagasan Rahmah tetap sangat relevan dalam menghadapi tantangan pendidikan Islam kontemporer, terutama dalam konteks pemberdayaan perempuan dan integrasi nilai-nilai Islam di era digital.

Di sisi lain, studi oleh Furoidah (2019) menegaskan bahwa konsep Rahmah mengenai “pendidikan sepanjang hayat” sejalan dengan teori pendidikan modern yang dikemukakan oleh Paulo Freire, yang menekankan pembebasan melalui pendidikan, meskipun keduanya berasal dari konteks yang berbeda. Perbedaan tersebut terletak pada fakta bahwa pemikiran Rahmah berakar kuat pada nilai-nilai spiritual dan komunitas, bukan pada ideologi politik.

Dalam sejarah pendidikan Islam, nama Rahmah sering kali tidak mendapatkan perhatian yang semestinya. Namun, saat kita menelusuri jejaknya, kita menemukan sesuatu yang lebih signifikan daripada sekadar biografi seorang tokoh. Kita menemukan sebuah gagasan yang hidup: bahwa perempuan merupakan pusat peradaban, bukan sekadar pelengkap.

Ketika dunia Islam masih ragu untuk mengakui hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan, Rahmah telah mendidik mereka untuk menjadi guru bagi bangsa mereka. Dan pada hari ini, ketika dunia modern berusaha mencari makna pendidikan yang memanusiakan manusia, gagasan Rahmah tetap bergetar dengan kuat: “Pendidikan Islam bukan untuk mengekang perempuan dalam ruang sempit, tetapi untuk membuka pintu menuju langit.” []

Tag: