oleh: Mizanul Akrom
(Peminat Kajian Keislaman dan Mahasiswa Pascasarjana UNU Surakarta)
nidaulquran.id-Saya tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan istilah tahlilan, yasinan, selametan, dan pengajian kampung. Dulu, semua itu terasa begitu biasa, bahkan nyaris taken for granted.
Baru ketika saya beranjak dewasa, membaca sejarah, dan menyaksikan dinamika keislaman di ruang publik, saya menyadari tradisi-tradisi yang tampak sederhana itu sesungguhnya adalah manifestasi dari kerja panjang Nahdlatul Ulama (NU) dalam merawat Islam, Indonesia, dan kemanusiaan.
Lalu, apa yang membuat praktik keagamaan yang sederhana itu bukan sekadar bertahan, tetapi justru menjadi fondasi kuat bagi cara berislam masyarakat Indonesia hingga hari ini?
NU tidak lahir dari ruang kosong. Ia hadir dari kegelisahan para ulama terhadap kolonialisme, ketercerabutan budaya, dan ancaman terhadap keberagamaan masyarakat Nusantara. Karena itu, sejak awal berdirinya pada 1926, NU tidak sekadar memikirkan soal fikih ibadah, tetapi juga memikirkan masa depan umat dan bangsa.
Satu abad perjalanan NU adalah kisah tentang bagaimana agama tidak menjauh dari realitas sosial, tetapi justru membimbingnya.
NU dan Fondasi Kemerdekaan
Ketika Indonesia memperjuangkan kemerdekaan, NU berada di barisan terdepan. Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 bukan hanya dokumen sejarah, melainkan penegasan teologis bahwa membela tanah air adalah bagian dari iman.
Dari pesantren-pesantren sederhana, para kiai menggerakkan santri dan masyarakat untuk mempertahankan kemerdekaan yang masih rapuh.
Bagi NU, kemerdekaan bukan tujuan akhir, melainkan pintu masuk menuju cita-cita yang lebih besar: kehidupan yang bermartabat, adil, dan beradab. Karena itu, setelah Indonesia merdeka, NU tidak larut dalam romantisme kemenangan.
Ia memilih jalan sunyi: merawat umat dari bawah, menjaga tradisi, dan memastikan Islam tetap menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Islam Nusantara: Jalan Tengah yang Membumi
Dalam perjalanan pribadi saya menekuni kajian keislaman, saya sering menjumpai perdebatan tajam tentang “Islam yang murni” versus “Islam yang kontekstual.” Di titik inilah saya menemukan relevansi Islam Nusantara, sebuah cara berislam yang tidak tercerabut dari akar budaya, tetapi juga tidak kehilangan orientasi normatifnya.
Islam Nusantara bukan Islam yang lemah, apalagi kompromistis. Islam Nusantara justru kuat karena mampu berdialog dengan realitas. NU mengajarkan bahwa agama tidak harus selalu hadir dalam wajah yang keras untuk menjadi otentik. Kesantunan, kearifan lokal, dan tradisi justru menjadi medium efektif untuk menyemai nilai-nilai tauhid, keadilan, dan kemanusiaan.
Dalam konteks Indonesia yang majemuk dengan perbedaan suku, agama, budaya, dan pandangan politik, Islam Nusantara menjadi fondasi penting bagi kohesi sosial.
Ia berperan sebagai penyangga moral agar keberagamaan tidak tergelincir menjadi alat konflik identitas, melainkan berfungsi sebagai sumber etika publik yang enumbuhkan toleransi, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Gus Dur dan Warisan Peradaban
Sulit membicarakan NU tanpa menyebut Gus Dur. Bagi saya, Gus Dur adalah wajah paling jujur dari Islam yang diperjuangkan NU: Islam yang membela yang lemah, melindungi minoritas, dan berani berbeda demi kemanusiaan.
Gus Dur mengajarkan bahwa agama tidak boleh menjadi penjara nurani. Ia harus menjadi energi pembebasan. Dalam berbagai sikap dan pemikirannya, Gus Dur kerap tampak kontroversial, tetapi justru di situlah keberaniannya: menempatkan kemanusiaan di jantung keberagamaan.
Warisan Gus Dur tidak berhenti pada gagasan pluralisme dan demokrasi semata, melainkan juga keberanian moral yang konsisten untuk berdiri di sisi kebenaran walau berisiko tidak populer. Di tengah menguatnya politisasi agama, teladan Gus Dur terasa semakin penting dan relevan bagi kehidupan berbangsa di Indonesia.
Abad Kedua NU: Tanggung Jawab Peradaban
Memasuki abad kedua, tantangan NU tidak lagi sama. Kolonialisme telah pergi, tetapi kolonialisasi baru hadir dalam bentuk ekstremisme, disinformasi, dan krisis etika di ruang digital. Indonesia memang merdeka secara politik, tetapi perjuangan menuju peradaban mulia masih panjang.
Di sinilah NU kembali diuji, mampukah ia tetap setia pada khittahnya sebagai penjaga Islam moderat, sekaligus adaptif terhadap perubahan zaman?
Bagi saya, jawabannya terletak pada konsistensi NU merawat akar sambil menatap masa depan: menguatkan pesantren, memperluas literasi digital, dan meneguhkan etika keislaman di ruang publik.
Merawat Harapan
Satu abad NU adalah kisah tentang kesabaran sejarah yang panjang. Perjalanannya tidak selalu gemerlap, sering kali sunyi, namun tetap konsisten. NU mengawal Indonesia bukan lewat slogan kosong, melainkan melalui kerja kebudayaan yang tekun, berlapis, berkelanjutan, dan kerap melelahkan.
Sebagai bagian dari generasi yang menikmati hasil dari perjuangan itu, saya merasa memiliki tanggung jawab moral. Menjaga agar NU tetap menjadi rumah besar Islam yang ramah, berakar, dan berorientasi pada peradaban mulia. Sebab Indonesia yang merdeka sejatinya bukan hanya bebas dari penjajahan, tetapi juga merdeka dalam berpikir, beragama, dan memanusiakan manusia.
Di abad kedua NU ini, pertanyaan paling mendesak bukan lagi apa yang telah NU berikan kepada Indonesia, melainkan: masihkah kita setia menjadikan Islam sebagai jalan peradaban, atau justru membiarkannya menyempit menjadi sekadar identitas, simbol, dan alat kepentingan sesaat?













