Home / Warta / Cover Story / Kiprah Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia: 59 Tahun Mengabdi

Kiprah Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia: 59 Tahun Mengabdi

nidaulquran.id-Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) secara resmi memasuki usia ke-59 tahun pada 26 Februari 2026. Organisasi yang didirikan oleh tokoh-tokoh besar bangsa ini tetap konsisten pada jalur dakwah, pendidikan, dan sosial kemanusiaan. Sebagai salah satu lembaga dakwah paling berpengaruh di Indonesia, DDII terus memperkuat perannya dalam mencetak kader ulama dan menyebarkan syiar Islam hingga ke pelosok Nusantara.

Jejak Sejarah: Dari Masyumi ke Menara Dakwah

Dewan Da’wah didirikan pada 17 Dzulqa’idah 1386 H atau bertepatan dengan 26 Februari 1967. Pendirian organisasi ini tidak lepas dari dinamika politik nasional pada masa itu.

Setelah Partai Masyumi dibubarkan dan upaya rehabilitasinya ditolak oleh pemerintah, para tokohnya tidak berhenti berjuang. Mereka memilih jalur baru untuk mengabdi kepada bangsa, yakni melalui jalur dakwah.

Tokoh utama di balik berdirinya DDII adalah Dr. Mohammad Natsir, yang merupakan Perdana Menteri pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan mantan pemimpin Partai Masyumi. Beliau tidak sendirian; sejumlah tokoh founding fathers lainnya turut membidani lahirnya lembaga ini, seperti Mr. Mohamad Roem, Mr. Syafruddin Prawiranegara, Prof. Dr. HM Rasjidi, Mr. Burhanuddin Harahap, dan Prawoto Mangkusasmito.

Pertemuan perdana para ulama dan zu’ama ini berlangsung di Masjid Al-Munawarah, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Fokus utama mereka adalah membentengi akidah umat dan membangun kekuatan moral melalui pendidikan dan pencerahan agama. Sejak saat itu, DDII memantapkan prinsip “Berpolitik dengan Dakwah”, sebuah visi yang menekankan bahwa aspirasi politik umat harus didasari oleh nilai-nilai dakwah yang kokoh.

Transformasi dan Kontribusi Pendidikan

Selama hampir enam dekade, Dewan Da’wah telah bertransformasi menjadi institusi yang memiliki jaringan luas di 32 provinsi dan lebih dari 200 daerah di seluruh Indonesia. Fokus utamanya tidak hanya pada khotbah di mimbar, tetapi juga pada pembangunan sumber daya manusia melalui lembaga pendidikan formal.

Baca juga: Cegah Darurat Moral, Dewan Dakwah Kirim Ratusan Guru Ngaji ke Pelosok Negeri

Salah satu pilar utama DDII adalah Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah (STID) Mohammad Natsir. Kampus yang berlokasi di Jakarta ini telah meluluskan ribuan alumni yang kini tersebar di berbagai wilayah, termasuk daerah terpencil, perbatasan, dan rawan pangan. Selain STID, DDII juga mengembangkan Akademi Dakwah Indonesia (ADI) yang tersebar di belasan kota untuk mempercepat proses kaderisasi dai di tingkat daerah.

Program unggulan lainnya adalah Kaderisasi Seribu Ulama (PKSU). Program ini berhasil melahirkan ratusan intelektual Muslim bergelar magister dan doktor yang aktif dalam pemikiran Islam kontemporer. Upaya ini dilakukan untuk menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks, mulai dari isu sekularisme hingga penguatan ekonomi umat.

Menyongsong Masa Depan: Politik Melalui Dakwah

Memasuki usia ke-59, Dewan Da’wah di bawah kepemimpinan Dr. Adian Husaini (sejak 2020) terus beradaptasi dengan kemajuan teknologi tanpa meninggalkan jati dirinya. Organisasi ini mengelola ribuan masjid, pesantren, dan unit pendidikan yang menjadi basis pembinaan umat.

DDII tetap memegang teguh independensi politiknya dengan menjaga jarak yang sama terhadap semua kekuatan politik, namun tetap vokal dalam isu-isu kebangsaan. Sebagaimana sikap Mohammad Natsir yang ditulis dalam buku Politik Melalui Jalur Dakwah,

“Bagi saya, politik dan dakwah tidak bisa dipisahkan. Seperti dua sisi dari keping uang yang sama. Kalau kita berdakwah, dengan membaca Qur’an dan Hadits—itu berpolitik. Jadi, dulu berdakwah lewat politik, sekarang berpolitik melalui jalur dakwah… Saya merasa bahwa DDII tidak lebih rendah daripada politik. Politik tanpa dakwah hancur. Lebih dari itu saya tidak bisa mengambil sikap diam.”

Markas besarnya di Gedung Menara Dakwah, Jakarta, tidak hanya menjadi pusat administrasi, tetapi juga pusat multimedia dan literasi Islam. Dengan koleksi perpustakaan yang unik, termasuk koleksi pribadi Prof. HM Rasjidi, DDII menjadi rujukan bagi peneliti sejarah dan pemikiran Islam di Indonesia.

Melalui peringatan Milad ke-59 ini, Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia menegaskan kembali komitmennya untuk menjadi penjaga gawang akidah dan mitra pemerintah dalam membangun moralitas bangsa. Dengan ribuan dai yang aktif bergerak di lapangan, DDII membuktikan bahwa dakwah adalah instrumen utama dalam menjaga keutuhan Indonesia dan meningkatkan kesejahteraan umat secara berkelanjutan.

Tag: