Beranda / Khutbah / Khutbah Idul Adha / Khutbah Idul Adha 1446 H: Belajar dari Keluarga Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam

Khutbah Idul Adha 1446 H: Belajar dari Keluarga Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam

Khutbah Pertama

الله أكبر 9x  

لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ ، الله أكبر ،  وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ  .الَّذِى هَدَانَا إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَبِيْنَ . اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصّادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنُ،  اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.  

فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin Jamaah Idul Adha Yang Dimuliakan Allah..

Segala puji bagi Alah Ta’ala yang telah melimpahkan kepada kita anugerah iman, kesempatan hidup, dan keberkahan waktu, hingga kita dipertemukan kembali dengan hari-hari yang paling agung dalam sepanjang perjalanan tahun ini, hari-hari yang penuh limpahan berkah, karunia, dan pahala dari Rabbul ‘Alamin.

Inilah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, yang di dalamnya terdapat amal yang lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari lainnya. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah ﷺ dalam haditsnya, bahwa “Tidak ada amal shaleh yang lebih dicintai Allah daripada amal yang dilakukan pada hari-hari ini.”  Para sahabat pun bertanya, “Tidak juga jihad fi sabilillah?” Rasulullah menjawab: “Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan sesuatu pun dari keduanya.”

Dan puncaknya adalah hari ini, tanggal 10 Dzulhijjah, di mana kaum muslimin di seluruh penjuru dunia menegakkan syiar penghambaan melalui ibadah Idul Adha dan penyembelihan hewan qurban, sebuah simbol ketaatan total, cinta yang tulus, dan ketundukan mutlak kepada perintah Allah.

Hadirin Jamaah Idul Adha yang Dirahmati Allah

Di hari yang agung ini, kita kembali menghidupkan ruh penghambaan dan ketundukan, melalui kumandang takbir, tahlil, dan tahmid yang menggema dari bibir umat Islam di seluruh dunia. Hari ini, kita mengembalikan jiwa kepada fitrahnya, untuk senantiasa bertauhid, bersyukur, dan berserah diri hanya kepada Allah semata.

Sementara itu, di Tanah Haram, di Makkah, Arafah, Mina, dan Muzdalifah, kaum muslimin menunaikan ibadah haji dengan khusyuk sambil mengumandangkan talbiyah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ

Melalui takbir, kita mengakui bahwa segala keagungan hanya milik Allah.

Melalui tahlil, kita perbarui janji untuk tidak menyekutukan-Nya.

Melalui tahmid, kita sampaikan rasa syukur atas nikmatNya yang tak terhingga.

Melalui talbiyah, kaum muslimin menyatakan kesiapan memenuhi panggilan-Nya—dengan seluruh jiwa, raga, dan kehidupan.

Hari ini bukan sekadar hari besar Islam, tapi inilah hari memomentum penyadaran diri sebagai hamba, momentum penguatan keluarga, sekaligus momentum pelajaran berharga tentang pengabdian, pengorbanan, dan ketundukan, sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim, Hajar, dan Ismail ‘alaihimussalam.

Hadirin Jamaah Idul Adha Yang Berbahagia

Hari yang mulia ini, adalah hari yang tepat untuk melihat dan mengevaluasi kembali orientasi perjalanan keluarga kita, dengan berkaca dan mengambil teladan dari kehidupan Nabi Ibrahim alaihissalam. Nabi Ibrahim dan keluarganya adalah teladan sempurna, dalam penyerahan diri kepada Allah, dan contoh yang agung tentang kesungguhan dalam menjalankan dan mendakwahkan ajaran-ajaran islam.

Keluarga adalah pondasi bangsa. Keluarga adalah madrasah pertama kehidupan, tempat iman ditanamkan, akhlak dibentuk, dan masa depan bangsa disiapkan. Namun sayangnya, banyak keluarga di negeri ini yang sedang goyah, bahkan nyaris runtuh tanpa disadari.

Dari berbagi sumber kita mendapatkan informasi bahwa terdapat ratusan ribu perceraian suami istri terjadi pada tahun 2024, terdapat ribuan kasus kekerasan terhadap anak, jutaan remaja yang tumbuh dalam kesepian digital, kecanduan gadget, kehilangan arah, bahkan tidak lagi akrab dengan nilai-nilai agama dan adab. Ini bukan sekadar statistik. Ini adalah ratapan luka dari generasi yang tumbuh tanpa kehangatan keluarga, tanpa bimbingan spiritual, dan tanpa arah moral yang jelas.

Inilah saatnya kita kembali belajar dari keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang dibangun dengan iman yang teguh dan komunikasi yang penuh cinta. Setiap anggota keluarga benar-benar menjalankan fungsinya dengan sempurna, baik sebagai ayah, sebagai ibu, maupun sebagai anak.

Dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kita belajar tentang seorang ayah hadir dalam kehidupan anaknya, tidak sekadar fisik, tapi ruhani. Dari Ismail ‘alaihissalam kita belajar tentang karakter seorang anak yang kuat dan taat. Dari Siti Hajar, kita berajar tentang menerima keputusan dan perintah Allah dengan iman yang kokoh, tekad yang besar, dan doa yang tak pernah putus.

Hadirin Jamaah Idul Adha yang Berbahagia

Di hari yang agung ini, kita perlu melihat kembali keluarga kita,

Dalam kondisi seperti saat ini apakah kita lebih mementingkan iman dan ketaatan kepada Allah, atau kita malah lebih peduli soal uang dan materi?

Apakah kita hadir dan berkomunikasi penuh cinta Ibrahim berbicara dengan Ismail, Ataukah ada jarak antara kita sebagai orang tua dengan anak-anak?

Apakah kita mendidik anak-anak kita dengan kasih sayang dan kesabaran? Ataukah penuh dengan kemarahan, bentakan dan ancaman?

Apakah rumah kita masih dipenuhi doa, Al-Qur’an, dan obrolan keimanan, atau sudah digantikan oleh layar dan kesibukan dunia?

Momentum Idul Adha adalah momentum terbaik untuk melakukan atas semua hal itu.

Ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menerima perintah Allah untuk meninggalkan istrinya Hajar dan putranya Ismail di lembah Bakkah atau Makkah, saat itu lembah tersebut tandus, kering, tanpa manusia, tanpa makanan, tanpa air. Hajar pun bertanya:  “Wahai Ibrahim, apakah engkau akan meninggalkan kami di sini… di tempat tak berpenghuni ini?”

Nabi Ibrahim diam, tidak menjawab

Lalu Hajar kembali bertanya: “Apakah ini perintah dari Allah?”

Barulah Ibrahim menjawab, “Na’am (ya).”

Dan dengan penuh iman, Hajar pun berkata: “Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Sebagai seorang ayah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tentu tidak tega melakukan hal ini. Tapi Nabi Ibrahim ‘alaihissalam lebih mendahulukan ketaatan kepada perintah Allah di atas rasa cinta kepada istri dan anaknya. Sementara Siti Hajar menerima takdir bukan dengan lemah, tetapi dengan iman dan keyakinan penuh bahwa perintah Allah harus dilaksanakan walau dengan pengorbanan sekaliupun.

Ketika air susu tak lagi cukup dan Ismail menangis kehausan, Hajar berlari tujuk kali bolak balik dari Shafa ke Marwah. Nafas tersengal. Hati menjerit. Tapi tidak ada sedikit pun keluhan kepada Allah. Hingga pada akhirnya, bukan dari puncak bukit, bukan dari air langit, tapi dari bawah kaki Ismail, Allah pancarkan Zamzam yang hingga hari ini menyirami jutaan jiwa yang datang ke tanah suci.

Siti Hajar adalah simbol perempuan mukminah yang kuat dalam doa dan tindakan. Tindakannya memberikan pelajaran bahwa ikhtiar yang lahir dari tauhid akan menghasilkan keberkahan yang kekal.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamd

 Ketika Ismail menginjak usia remaja, Ibrahim mendapat perintah yang mengguncang jiwa untuk menyembelih anaknya. Perintah ini tidak datang sebagai siksaan, tapi sebagai ujian: mana yang lebih dicintai, Allah atau anakmu sendiri?

Dihadapkan pada pilihan itu, Ibrahim tidak protes dan bertanya-tanya. Ia justru mengajak bicara Ismail dengan lembut:

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”

Ismail pun menjawab dengan kalimat yang menggetarkan:

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ

“Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapati aku termasuk orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Dan ketika Ibrahim mengangkat pisau dan Ismail terbaring siap disembelih, ketika keduanya telah terbukti ketulusan pengabdiannya kepada Allah, saat itulah Allah mengganti Ismail dengan sembelihan yang agung.

Hadirin Jamaah Idul Adha Yang Berbahagia

Ketika kini banyak ayah dan ibu sibuk dengan urusan kerja sehingga lupa membangun hubungan hati dengan anak-anaknya, ketika banyak anak-anak berlari ke media sosial karena tidak menemukan makna dan kasih sayang di rumah, ketika banyak yang tidak lagi mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan di rumah, maka momentum Idul Adha ini mari kita manfaatkan untuk kembali menguatkan komitmen bersama untuk menjadikan Allah sebagai prioritas tertinggi dalam kehidupan keluarga.

Kita berusaha menjadikan nilai-nilai Islam sebagai rujukan utama dalam keputusan, gaya hidup, dan arah pendidikan anak. Kita berusaha menata kembali komunikasi ruhani antara orang tua dan anak, menghidupkan dialog iman dan kasih sayang di rumah. Kita berikan perhatian yang sungguh-sungguh kepada harta kita yang paling berharga, yaitu keluarga. Kita ingat Kembali doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang memohon melahirkan generasi beriman dan beradab.

رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي

“Ya Tuhanku, jadikan aku dan anak cucuku orang-orang yang menegakkan shalat.” (QS. Ibrahim: 40)

Kita juga tidak lupa untuk ikut bersolidaritas kepada saudara-saudara kita di Palestina yang kehilangan keluarga mereka akibat penjajahan selama puluhan tahun. Kita bersama-sama menyuarakan perlawanan atas ketidakadilan yang terjadi di sana, ikut menjadi juru bicara persaudaraan dan kasih sayang, sekaligus pengingat bagi dunia bahwa perjuangan mereka harus ditanggapi dengan tindakan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd.

Hadirin Jamaah Idul Adha Yang Berbahagia

Iman adalah ikatan batin yang kuat antara kita dengan keluarga dan seluruh umat manusia. Iman mengantarkan kita kepada kasih sayang, sementara kasih sayang membawa kita kepada kebersamaan. Keimanan yang kuat kepada Allah dapat mengumpulkan urusan-urusan yang berserakan dan menyatukan hati-hati yang bermusuhan. Sementara kasih sayang menjadikan kita tidak jemu menebar kebaikan di mana pun kita berada.

Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk meneguhkan keyakinan, menjadi pribadi-pribadi yang shaleh dan selalu menebar kebaikan.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ.. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


Khutbah Kedua

 7xاَللهُ أَكْبَرُ 

لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ ، الله أكبر ،  وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ إِجْلَالًا لِشَأْنِهِ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
أَمَّا بَعْدُ، فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااالله  فِيْمَا أَمَرَ ، وَانْتَهُوْا عَمَّا زَجَرَ ،

 وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ فَقَالَ تَعاَلَى : “إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.”

 اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ ، وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ .اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْإِسْلَامَ والمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

 اللهُمَّ اهدِنَا بِهُدَاكَ وَاجۡعَلۡنَا مِمَّنۡ يُسَارِعُ فِى رِضَاكَ وَلاَ تُوَلِّنَا وَلِيًّا سِوَاكَ وَلاَتَجۡعَلۡنَا مِمَّنۡ خَالَفَ أمۡرَكَ وَعَصَاكَ وَحَسۡبُنَا اللهُ وَنِعۡمَ الوَكِيۡلُ وَلاَحَوۡلَ وَلاَ قُوَّةَ إلاَّ باللهِ العَلِيِّ العَظِيۡمِ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

 عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Format Pdf bisa download di klik link berikut

Tag: