Beranda / Warta / Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas Wafat: Mengenang Sang Pelopor Islamisasi Ilmu

Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas Wafat: Mengenang Sang Pelopor Islamisasi Ilmu

Profil dan Warisan Pemikiran Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas yang Wafat di Usia 94 Tahun

nidaulquran.id-Dunia Islam berduka atas berpulangnya salah satu pemikir paling berpengaruh di abad modern, Profesor Diraja Tan Sri Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas. Tokoh intelektual agung ini mengembuskan napas terakhirnya pada hari Ahad, 8 Maret 2026, pukul 18.47 waktu setempat di Kuala Lumpur, Malaysia.

Beliau wafat pada usia 94 tahun, meninggalkan warisan pemikiran yang sangat mendalam bagi peradaban Islam kontemporer. Kabar duka ini dikonfirmasi oleh berbagai pihak, termasuk Menteri di Departemen Perdana Menteri (Bidang Agama) Malaysia, Dr. Zulkifli Hasan, serta mendapat perhatian luas dari para pemimpin negara dan akademisi di seluruh dunia.

Prof. Al-Attas bukan sekadar seorang akademisi; ia dipandang sebagai seorang mujaddid atau pembaru yang berhasil menghidupkan kembali obor ilmu dan adab di tengah tantangan modernitas. Jenazah almarhum dijadwalkan akan disemayamkan di Masjid At-Taqwa, Taman Tun Dr Ismail (TTDI), sebelum dimakamkan di Pemakaman Islam Bukit Kiara.

Kepergiannya dianggap sebagai kehilangan besar bagi umat Islam, mengingat kontribusinya yang tak ternilai dalam mendefinisikan kembali identitas intelektual Muslim di tengah arus sekularisme global yang semakin kuat.

Baca juga: Kisah Ibn al-Haytham: Dari Tahanan Rumah hingga Menjadi Bapak Optik Modern

Warisan Pemikiran dan Kontribusi Bagi Peradaban Islam Modern

Selama masa hidupnya yang panjang, Prof. Al-Attas telah menghasilkan lebih dari 30 karya tulis monumental yang menjadi rujukan utama dalam studi filsafat, teologi, sejarah, dan metafisika Islam. Pemikirannya dikenal sangat mendalam karena berakar kuat pada tradisi Islam klasik namun tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman.

Beliau adalah sosok yang mampu menyelaraskan antara spiritualitas sufistik dengan ketajaman logika filsafat, menjadikannya salah satu dari 500 Muslim paling berpengaruh di dunia menurut The Royal Islamic Strategic Studies Centre di Yordania.

Selain sebagai pemikir, beliau juga merupakan seorang seniman, kaligrafer, dan arsitek yang merancang sendiri estetika bangunan institusi yang ia pimpin. Keahliannya yang multidisiplin ini mencerminkan konsep ‘Insan Kamil’ atau manusia sempurna yang selalu beliau tekankan dalam filsafat pendidikannya. Beliau percaya bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh dipisahkan dari nilai-nilai spiritual dan etika Islam.

Konsep Islamisasi Ilmu Pengetahuan dan Pendirian ISTAC

Salah satu kontribusi paling signifikan dari Prof. Al-Attas adalah gagasannya mengenai “Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer”. Beliau berargumen bahwa krisis yang dialami umat Islam saat ini berakar pada masalah epistemologis, yaitu masuknya pandangan alam (worldview) Barat yang sekuler ke dalam pemikiran Muslim. Baginya, solusi utama adalah melakukan de-sekularisasi ilmu pengetahuan dan mengembalikannya ke dalam kerangka tauhid. Konsep ini kemudian menjadi gerakan intelektual global yang memicu lahirnya berbagai institusi pendidikan Islam modern di berbagai belahan dunia.

Untuk mewujudkan visi tersebut, beliau mendirikan International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) di Kuala Lumpur pada tahun 1987. ISTAC bukan sekadar lembaga penelitian biasa; di bawah bimbingan Al-Attas, lembaga ini menjadi pusat keunggulan akademik yang menggabungkan keindahan arsitektur Islam dengan kurikulum yang sangat ketat.

Beliau juga memperkenalkan konsep atau hilangnya adab sebagai akar dari kebingungan intelektual dan kegagalan kepemimpinan di dunia Islam. Melalui ISTAC, beliau berupaya mencetak generasi cendekiawan yang memiliki kedalaman ilmu sekaligus keluhuran akhlak.

Baca juga: Kiprah Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia: 59 Tahun Mengabdi

Penghormatan dari Pemimpin Negara dan Komunitas Global

Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, memberikan penghormatan tinggi dengan menyebut Al-Attas sebagai “intelektual agung” yang telah memberikan jasa luar biasa bagi negara dan umat manusia. Pengaruhnya juga sangat terasa di Indonesia, tanah kelahirannya.

Lahir di Bogor pada tahun 1931, Al-Attas memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan Nusantara. Perjalanan pendidikannya yang membentang dari Akademi Militer Kerajaan Sandhurst di Inggris hingga Universitas McGill di Kanada dan SOAS di London, membentuk karakter intelektualnya yang sangat kritis dan berwibawa.

Pada Oktober 2024, beliau dianugerahi gelar Profesor Kerajaan (Royal Professor) oleh Yang di-Pertuan Agong Malaysia, sebuah gelar prestisius yang hanya diberikan kepada segelintir tokoh dengan kontribusi luar biasa bagi ilmu pengetahuan.

Kepergian Prof. Al-Attas meninggalkan ruang kosong yang sulit terisi dalam dunia pemikiran Islam. Namun, melalui buku-buku monumentalnya seperti “Islam and Secularism” dan “Prolegomena to the Metaphysics of Islam”, serta ribuan murid yang tersebar di seluruh dunia, pemikirannya akan terus hidup dan menjadi panduan bagi umat Islam dalam menavigasi kompleksitas dunia modern tanpa kehilangan jati diri spiritualnya.

Tag: