Beranda / Kajian / Menjaga Lingkungan: Bentuk Syukur pada Allah

Menjaga Lingkungan: Bentuk Syukur pada Allah

nidaulquran.id-Para murid di setiap lembaga pendidikan diajarkan untuk menjaga kebersihan lingkungan dengan cara membuang sampah pada tempatnya. Mulai dari pendidikan tingkat paling dasar seperti pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi, materi tentang kebersihan sering disinggung untuk menanamkan bahwa lingkungan yang bersih itu perlu dijaga, lingkungan yang kotor perlu dibersihkan.

“Jagalah kebersihan!”, “Buanglah sampah pada tempatnya!” , “Kebersihan adalah bagian dari iman”, “Bersih itu sehat”, dan berbagai kalimat yang lainnya adalah pesan-pesan yang sering kita jumpai di setiap sudut taman, di dinding-dinding, di pinggir jalan, dan di tempat-tempat yang lainnya. Itu semua menunjukkan bahwa kita selaku masyarakat masih perlu diingatkan untuk menjaga kebersihan yang mana kebersihan merupakan kebutuhan kita sendiri.

Tak perlu jauh-jauh untuk melihat bagaimana potret masyarakat memperlakukan lingkungannya. Saat kita berkendara melewati suatu jalan, cobalah lihat di sisi kanan dan kiri, apakah masih ada tumpukan sampah plastik atau limbah rumah tangga yang dibuang sembarangan. Lihatlah bagaimana sampah plastik mencemari setiap tepi sungai yang ada di sekitar kampung kita, lihatlah betapa banyak masyarakat yang dengan tanpa rasa bersalah melempar sampahnya sembarangan ke pinggir jalan, ke sungai, atau tempat yang bukan semestinya.

Kita meyakini bahwa masyarakat yang membuang sampah sembarangan itu mengerti bahwa apa yang mereka lakukan (buang sampah sembarangan) adalah perbuatan yang tidak baik dan tidak bisa dibenarkan. Lalu mengapa masih banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan?

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Desi Natalia, Yudha Nur, dan Diansanto mengenai faktor penyebab perilaku masyarakat membuang sampah sembarangan di desa Kluncing, Banyuwangi adalah tidak tersedianya sarana dan prasarana dengan presentase sebesar 63%, tingkat pendidikan masyarakat yang rendah (tingkat sekolah dasar) sebesar 57%, dan kurangnya dukungan pemerintah desa dalam mengelolah sampah (Desi Natalia, dkk. 2022).

Berdasarkan penelitian tersebut diketahui bahwa ketiadaan atau kurangnya sarana dan prasarana untuk membuang sampah menjadi penyebab utama munculnya perilaku buang sampah sembarangan. Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat menjadi faktor kedua setelah sarana dan prasarana. Rendahnya pengetahuan mengenai pengolahan sampah berdampak pada rendahnya kesadaran masyarakat dalam melakukan pengolahan sampah seperti kebiasaan masyarakat dalam mengumpulkan, mengangkut, pengolahan, dan proses mendaur ulang sampah.

Kurangnya dukungan dari pemerintah desa untuk pengolahan sampah juga berdampak terhadap perilaku masyarakat membuang sampah sembarangan. Tidak adanya kebijakan terhadap pengolahan sampah di desa, tidak ada sanksi atau ada sanksi tetapi belum berjalan dengan baik juga berdampak terhadap perilaku masyarakat, serta kurangnya sosialiasi dan edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan.

Perilaku membuang sampah sembarangan dapat menyebabkan kerusakan lingkungan dan memberikan pengaruh tidak baik bagi kesehatan masyarakat. Di dalam al-Qur’an telah disinggung bahwa kerusakan lingkungan baik di darat maupun di laut ternyata bisa disebabkan oleh perilaku masyarakat itu sendiri. Allah berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar menjelaskan ayat di atas bahwa perilaku masyarakat bisa menjadi penyebab berbagai kerusakan di bumi. Polusi udara dan pencemaran lautan karena minyak atau pabrik-pabrik yang membawa limbah kimia kemudian dialirkan ke sungai-sungai dan berakhir di lautan dapat menyebabkan ikan-ikan mati di mana pada akhirnya akibatnya akan dirasakan juga oleh manusia. Di akhir ayat ini disebutkan kalimat “mudah-mudahan mereka kembali” maksudnya adalah setelah manusia merasakan berbagai kerusakan akibat ulah mereka sendiri selanjutnya diharapkan mereka menilik diri dan mengoreksi niat dan kembali memperbaiki hubungan dengan Tuhan dengan meninggalkan perbuatan merusak di bumi karena harapan belum putus (Hamka: 1982).

Selain merusak keindahan suatu tempat, perilaku membuang sampah sembarangan yang masih banyak dilakukan oleh masyarakat telah banyak menimbulkan pencemaran lingkungan. Sampah yang berserakan di mana-mana bisa menimbulkan bau tak sedap dan menjadi sarang dari berbagai kuman. Bila hal tersebut dibiarkan berlarut-larut, masyarakat sendirilah yang akan menanggung akibatnya. Berbagai penyakit akan muncul sebagai dampak sampah yang dibuang sembarangan.

Kebiasaan membuang sampah sembarangan berawal dari menganggap remeh meninggalkan atau melempar sampah kecil bukan pada tempatnya. “Cuma sebungkus plastik…”, “Cuma sebatang sedotan..”, “Cuma satu botol bekas minuman”, dan berbagai ungkapan lain yang menjadikan seseorang menganggap tidak apa-apa bila membuang sampah sembarangan. Perilaku permisif membuang sampah kecil sembarangan seperti ini lama-lama akan menjadi kebiasaan yang susah dibenahi. Parahnya, perilaku menyimpang ini bukan hanya dipraktikkan oleh segelintir orang saja, tetapi semakin hari semakin banyak orang yang mengikutinya.

Perubahan perlu dimulai dari diri kita sendiri

Kita sebagai orang yang tidak membuang sampah sembarangan pasti merasa sangat risih bila menyaksikan anggota keluarga, teman, atau orang lain yang gemar membuang sampah di tempat seenaknya sendiri. Kita sudah peduli lingkungan dengan cara tertib buang sampah di tempatnya tetapi mereka justru kebalikannya.

Tertib membuang sampah pada tempatnya merupakan perbuatan baik yang perlu dijaga dan ditularkan. Kita semua membutuhkan lingkungan yang bersih untuk hidup yang sehat.

Coba kita bayangkan bagaimana perasaan kita apabila rumah yang kita cintai tiba-tiba dijadikan tempat membuang sampah oleh orang-orang yang tidak peduli. Berbagai bungkus sampah plastik berserakan, limbah rumah tangga, dan berbagai sampah lainnya menumpuk dan menggunung di sekitar rumah kita. Apakah kita biarkan begitu saja sampah-sampah tersebut?

Bumi adalah tempat tinggal kita di dunia. Kewajiban merawat bumi ini ada di pundak kita semua sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah, Tuhan semesta alam.

Referensi:

Marpaung, Desi N, dkk. (2022) Analisis Faktor Penyebab Perilaku Buang Sampah Sembarangan Pada Masyarakat Desa Kluncing, Banyuwangi. Jurnal Preventif: Jurnal Kesehatan Masyarakat, Volume 13 (No. 1), hlm. 47-57.

Hamka. (1982). Tafsir Al Azhar. Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD.

Tag: