Home / Warta / Refleksi Tahun Baru di Aceh: PWNU Tekankan Empati dan Kepedulian Sosial

Refleksi Tahun Baru di Aceh: PWNU Tekankan Empati dan Kepedulian Sosial

nidaulquran.id-Pergantian tahun di Aceh kali ini dimaknai berbeda menyusul bencana banjir bandang dan longsor yang masih menyisakan duka di berbagai daerah. Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh Tgk. H. Faisal Ali atau Abu Sibreh, mengajak masyarakat menjadikan momentum tahun baru sebagai waktu untuk menenangkan diri dan mendekatkan hati kepada Allah Swt. Ajakan tersebut disampaikan sebagai bentuk keprihatinan atas kondisi warga yang terdampak musibah sejak akhir 2025.

Dikutip dari nu.or.id, Abu Sibreh menilai suasana duka tidak selaras jika direspons dengan perayaan berlebihan. Ia mendorong masyarakat mengisi malam pergantian tahun dengan doa, zikir, dan muhasabah sebagai wujud empati sosial dan refleksi spiritual. Menurutnya, perubahan waktu sejatinya bukan sekadar pergantian kalender, tetapi kesempatan untuk menilai perjalanan hidup dan memperbaiki sikap ke depan.

Sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Abu Sibreh menekankan bahwa musibah mengandung pesan moral bagi umat. Ia memandang bencana bukan hanya ujian, tetapi juga peringatan agar manusia kembali memperbaiki akhlak, memperkuat ibadah, dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Doa yang dilakukan secara pribadi maupun bersama di rumah dan tempat ibadah diyakini mampu memberi ketenangan batin, terutama bagi para korban.

Baca juga:
Bencana Ekologis Sumatera dalam pandangan Imam Ghozali

Dalam pandangannya, kegembiraan tidak dilarang, namun harus ditempatkan secara proporsional. Di tengah kondisi pengungsian dan proses pemulihan yang masih berlangsung, empati dinilai lebih utama daripada hura-hura. Abu Sibreh juga mengingatkan pentingnya menjadikan tahun baru sebagai titik awal penguatan pendidikan keagamaan, khususnya bagi generasi muda, agar masyarakat Aceh semakin tangguh secara iman dan moral.

Ia turut mengapresiasi dukungan berbagai pihak yang telah membantu penanganan bencana, seraya mengingatkan bahwa solidaritas tidak boleh berhenti di masa darurat saja. Dukungan doa dan kerja nyata perlu terus berlanjut hingga pemulihan benar-benar tuntas. Dengan niat baik dan hati yang bersih di awal tahun, Abu Sibreh berharap Aceh dapat bangkit menjadi daerah yang lebih kuat, beriman, dan peduli.

Tag: