nidaulquran.id-Indonesia kembali mencatatkan prestasi yang membanggakan lewat sosok hafizah cilik, Aisyah Ar Rumy. Di usianya yang baru 10 tahun, putri asal Kabupaten Malang, Jawa Timur ini terpilih mewakili Indonesia dalam ajang bergengsi Dubai International Holy Quran Award 2026.
Keikutsertaannya menjadi bukti bahwa kualitas pendidikan tahfidz di tanah air mampu bersaing di tingkat dunia. Dari lebih dari 5.000 peserta yang datang dari 105 negara, Aisyah tampil pada kategori khusus “The Most Beautiful Quran Recitation for 2026”, sebuah kategori yang menuntut bukan hanya hafalan kuat, tetapi juga keindahan bacaan.
Baca juga: Syiar Ramadhan 1447 H: Santri Ibnu Abbas Klaten Terjun ke Masyarakat
Di ajang tersebut, Aisyah Ar Rumy berhasil meraih juara 2, sebuah capaian yang semakin mengukuhkan posisi Indonesia sejajar dengan negara-negara Timur Tengah yang selama ini dikenal memiliki tradisi kuat dalam melahirkan para penghafal Al-Quran. Prestasi ini bukan sekadar kemenangan pribadi, melainkan kebanggaan bagi bangsa dan bukti nyata bahwa generasi muda Indonesia memiliki potensi besar di panggung global.
Perjalanan Menuju Babak Final di Dubai
Langkah Aisyah di Dubai tidaklah mudah. Ia harus melewati dua tahap kualifikasi yang sangat ketat sebelum akhirnya berhasil menembus babak final atau tiga besar untuk kategori peserta perempuan. Di babak puncak ini, Aisyah bersaing dengan dua finalis tangguh lainnya, yaitu Jana Ehab Ramadan dari Mesir dan Sara Abdul Karim Al-Hallaq dari Suriah.
Keberhasilan Aisyah masuk ke jajaran elit penghafal Al-Quran dunia ini disambut hangat oleh masyarakat Indonesia, mengingat standarnya yang sangat tinggi dalam penilaian tajwid, kelancaran hafalan, serta keindahan suara. Kompetisi DIHQA sendiri dikelola di bawah naungan Yang Mulia Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, Wakil Presiden dan Penguasa Dubai.
Sosok di Balik Hafalan 26 Juz
Aisyah Ar Rumy lahir pada 19 November 2016 dan saat ini tercatat sebagai siswi kelas 4 di SD Tahfidz Al-Qur’an Daarul Ukhuwwah, Desa Asrikaton, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Di usianya yang masih sangat muda, Aisyah telah berhasil menghafal 26 juz Al-Quran secara mutqin.
Kemampuan luar biasa ini bukan didapatkan secara instan, melainkan melalui kedisiplinan tinggi yang ditanamkan sejak dini oleh kedua orang tuanya, Muhammad Qowiyul Huda dan Maisyaroh Cholila. Sebelum berangkat ke Dubai, nama Aisyah sudah lebih dulu dikenal publik tanah air saat ia menjadi salah satu finalis menonjol dalam program televisi populer “Hafiz Indonesia 2024”.
Kedisiplinan Murojaah dan Dukungan Keluarga
Kunci utama keberhasilan Aisyah terletak pada rutinitas murojaah atau mengulang hafalan yang sangat terjadwal. Setiap harinya, Aisyah mampu mengulang hafalan sebanyak 3 hingga 5 juz untuk menjaga kualitas hafalannya tetap kuat. Selain itu, ia menargetkan untuk menambah hafalan baru sebanyak satu halaman per hari.
Dukungan keluarga menjadi pilar penting; orang tuanya yang memiliki latar belakang usaha konveksi memberikan perhatian penuh pada pendidikan spiritual Aisyah. Sang ibu mengungkapkan bahwa Aisyah memiliki bakat alami dalam menghafal dengan cepat, namun tetap menjaga keceriaan layaknya anak-anak seusianya yang gemar bermain dan belajar bahasa Arab.
Dukungan Pemerintah dan Harapan Bangsa
Pemerintah Kabupaten Malang memberikan dukungan penuh terhadap perjuangan Aisyah di Uni Emirat Arab. Bupati Malang, HM Sanusi, secara langsung melepas keberangkatan Aisyah dan memberikan bantuan dana saku sebesar Rp32 juta sebagai bentuk apresiasi nyata.
Baca juga: Dakwah Ramadhan ke Aceh, Ibnu Abbas Klaten Kirim Santri dan Mahasantri sebagai Dai Kemanusiaan
Dukungan ini juga sejalan dengan program pemerintah daerah “Sekolah Plus Ngaji” yang mewajibkan siswa membaca Al-Quran sebelum memulai pelajaran di sekolah. Keberangkatan Aisyah didampingi oleh tim dari sekolah dan mendapatkan dukungan administratif dari Kementerian Agama Republik Indonesia, yang memastikan segala proses kualifikasi internasional berjalan lancar demi mengharumkan nama bangsa.












