Beranda / Quranic / Problem of Evil: Hakikat Penderitaan, Keadilan Ilahi, dan Rahasia Ujian

Problem of Evil: Hakikat Penderitaan, Keadilan Ilahi, dan Rahasia Ujian

Problem of Evil: Hakikat Penderitaan, Keadilan Ilahi, dan Rahasia Ujian

nidaulquran.id-Dalam realita kontemporer, sering kita temui fenomena di mana seseorang mulai meragukan keberadaan Tuhan, bahkan sampai pada titik tidak percaya (ateisme), karena merasa didera penderitaan yang tak kunjung usai.

Muncul pertanyaan bernada gugatan: “Ke mana Allah ketika aku butuh? Mengapa Dia tidak membantuku padahal aku sudah rajin shalat, puasa, dan sedekah? Mengapa hidupku tetap begini-begini saja?”

Kekecewaan ini biasanya berakar pada cara pandang yang keliru terhadap agama, di mana ibadah dianggap sebagai “transaksi komersial” untuk mendapatkan kenyamanan duniawi, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak bisa didikte oleh hamba-Nya.

Dunia Sebagai Darul Ibtila’ (Negeri Ujian)

Pandangan Islam menegaskan bahwa dunia bukanlah tempat tinggal abadi yang bebas dari rasa sakit, melainkan Darul Ibtila’ (Negeri Ujian). Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahu manusia sejak awal bahwa rasa takut, lapar, dan kekurangan adalah bagian dari kurikulum kehidupan untuk menyaring siapa yang benar-benar beriman. Hal ini termaktub dalam firman-Nya:

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Surah Al-Baqarah: 155)

Jika penderitaan dianggap sebagai tanda Tuhan tidak sayang, maka para Nabi-lah yang seharusnya paling tidak disayangi. Namun kenyataannya, para Nabi—manusia pilihan yang paling dicintai Allah—adalah yang paling berat ujiannya. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah diboikot hingga makan dedaunan, kehilangan istri dan paman tercinta, hingga terusir dari tanah kelahirannya.

Ujian yang kita hadapi hari ini sejatinya tidak ada apa-apanya dibandingkan goncangan yang menimpa para kekasih Allah tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian yang serupa dengan mereka, kemudian yang serupa dengan mereka…” (HR. Tirmidzi)

Baca juga: Hakikat Islam: Antara Kepasrahan Bahasa dan Ketundukan Syariat

Logika Keadilan dan Maslahat di Balik Keburukan

Secara logis, penderitaan seringkali menjadi instrumen pembersihan dosa dan pengangkat derajat manusia. Apa yang tampak buruk dalam pandangan terbatas manusia, pada hakikatnya menyimpan maslahat besar dalam ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala yang maha luas. Manusia sering kali membenci sesuatu yang justru menjadi jalan keselamatan bagi mereka, karena manusia hanya melihat “detik ini” sedangkan Allah melihat “akhir segalanya”. Hal ini ditegaskan dalam dalil:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Kesalahan besar seorang hamba adalah mengharap semua balasan ibadahnya dibayar tunai di dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah menjanjikan bahwa dunia adalah tempat pembagian hasil yang sempurna. Dunia adalah ladang amal, sedangkan akhirat adalah tempat panen raya. Setiap kelelahan, tetesan air mata, dan kesabaran seorang mukmin akan dituntaskan balasannya tanpa ada yang terlewat sedikit pun di hari kiamat kelak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu…” (QS. Ali Imran: 185)

Menjaga Persangkaan Baik kepada Allah

Oleh karena itu, seorang mukmin diperintahkan untuk tetap berbaik sangka (husnudzon) dan tidak ragu terhadap janji Allah Subhanahu wa Ta’ala, meskipun pertolongan-Nya belum tiba di waktu yang diinginkan. Kesabaran adalah kunci untuk membuka pintu rahmat-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits qudsi:

“Allah Ta’ala berfirman: ‘Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca juga: Makna Syukur dalam Madarij as-Salikin karya Ibn Qayyim al-Jauziyyah

Tidak Ada ‘Keburukan’ Yang Murni 100%

Penderitaan berfungsi menjaga keseimbangan hidup agar manusia tidak melampaui batas dan tetap merasa butuh kepada Penciptanya. Tanpa adanya sakit, manusia tidak akan menghargai nikmat sehat, tidak akan pernah ada profesi dokter, perawat dan tenaga medis lainnya; tanpa adanya kematian maka betapa sesaknya bumi ini dipenuhi makhluk hidup sejak ribuan tahun lalu; tanpa adanya kemiskinan, pintu amal sedekah tidak akan terbuka.

Penderitaan bagi seorang mukmin adalah investasi kesabaran yang pahalanya tidak terbatas, sesuai dengan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Wallahul muwaffiq

Tag: