nidaulquran.id-Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Tingkat Nasional XXXI Tahun 2026 resmi dibuka di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Kota Semarang, Jawa Tengah, pada Sabtu malam (12/9/2026). Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, membuka ajang ini mewakili Presiden Prabowo Subianto yang berhalangan hadir karena mengikuti pertemuan BRICS di India.
Prosesi pembukaan turut disaksikan Menteri Agama Prof KH Nasaruddin Umar, Wakil Menteri Agama, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti, serta sejumlah gubernur dan wakil gubernur dari berbagai daerah di Indonesia.
Rekor MURI dan Kemeriahan Pembukaan
Salah satu momen istimewa dalam pembukaan adalah pemecahan rekor dunia MURI untuk kategori menyanyikan Mars MTQ secara serentak dan hybrid dengan jumlah peserta terbanyak, yakni mencapai 288.262 orang. Wali Kota Semarang menerima sertifikat penghargaan tersebut, yang menurutnya dipersembahkan bagi para pelajar, mahasiswa, dan aparatur sipil negara yang ikut ambil bagian dalam menyanyikan mars secara bersama-sama.
Rangkaian acara pembukaan diawali dengan defile kafilah dari 37 provinsi peserta MTQ, yang tampil mengenakan busana adat masing-masing daerah dan menyita perhatian warga Semarang yang memadati lokasi acara. Suasana semakin khidmat dengan penampilan qari dan qariah terbaik MTQ edisi sebelumnya yang melantunkan ayat-ayat suci Al Quran. Usai seremoni pembukaan, panggung juga diramaikan sejumlah pertunjukan seni budaya, di antaranya tari Saman dari Aceh serta drama tari yang menggambarkan perjalanan sejarah peradaban di Tanah Jawa.
Dalam sambutannya, Pratikno menyampaikan bahwa para kafilah yang datang membawa nama daerah masing-masing pada dasarnya berada dalam satu rumah besar bernama Indonesia. Ia berharap MTQ dapat menjadi sarana menebar cahaya Al Quran dalam upaya mewujudkan Indonesia Emas yang diisi oleh manusia-manusia jujur, adil, kreatif, dan peduli terhadap sesama, sekaligus unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kehilangan kekuatan akhlak.
Bagi Jawa Tengah, penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI ini memiliki makna sejarah tersendiri. Gubernur Ahmad Luthfi menyebut momen ini istimewa karena setelah puluhan tahun, hajatan MTQ Nasional akhirnya kembali digelar di Pulau Jawa — tepatnya 47 tahun sejak terakhir kali Jawa Tengah dipercaya menjadi tuan rumah.
Menag: MTQ Harus Melahirkan Sikap Qurani, Bukan Sekadar Seremoni
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI harus menjadi momentum strategis untuk melahirkan sikap Qurani dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar perhelatan seremonial belaka. Ia mengingatkan bahwa Al Quran diturunkan untuk dibaca, dipahami, dan direnungkan pesan-pesannya, serta diimplementasikan mulai dari lingkup keluarga hingga kehidupan berbangsa dan bernegara.
Di ranah keluarga, menurut Menag, sikap Qurani tercermin dari kasih sayang, tanggung jawab, musyawarah, dan saling menjaga kehormatan. Ia menegaskan tidak ada ruang bagi kekerasan, penghinaan, maupun kesewenang-wenangan yang dibungkus dalih agama.
Di lingkungan kerja dan birokrasi, sikap Qurani diwujudkan lewat amanah, kedisiplinan, profesionalisme, serta pelayanan yang adil. Nasaruddin mengkritik fenomena di mana lantunan Al Quran hanya terdengar pada seremoni pembukaan acara, namun kehilangan pengaruhnya saat pengelolaan anggaran dan pengambilan keputusan berlangsung. Orang yang dekat dengan Al Quran, tegasnya, semestinya menjadi pribadi paling amanah, paling tekun bekerja, dan paling jauh dari praktik korupsi serta penyalahgunaan wewenang.
Dalam kehidupan bermasyarakat, sikap Qurani terwujud melalui semangat ta’aruf, ta’awun, dan tabayyun — saling mengenal, tolong-menolong dalam kebaikan, serta memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya. Sikap ini, kata Menag, secara tegas menolak fitnah, hoaks, ujaran kebencian, dan segala tindakan yang mencederai kehormatan serta persaudaraan.
Sementara dalam konteks berbangsa dan bernegara, sikap Qurani berarti menegakkan keadilan, menjaga persatuan, melindungi kelompok rentan, menghormati kemajemukan, dan mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi maupun golongan. “Semakin dekat seseorang kepada Al Quran, semestinya semakin mulia akhlaknya, semakin santun tutur katanya, semakin menghormati perbedaan, dan semakin besar kontribusinya bagi kerukunan dan persatuan Indonesia,” ujar Menag menutup sambutannya.
Tentang MTQ Nasional XXXI
MTQ Nasional XXXI mengusung tema “Menebar Cahaya Al-Qur’an dalam Harmoni Menuju Indonesia Emas yang Berkeadaban”. Ajang dua tahunan ini berlangsung pada 11–20 September 2026 dengan pertandingan tersebar di 12 arena di Kota Semarang. Sebanyak 2.242 peserta yang terdiri atas 1.751 peserta inti dan 491 peserta cadangan dari 37–38 provinsi berkompetisi dalam delapan cabang, 24 golongan, dan 48 kategori lomba. Secara keseluruhan, total orang yang terlibat dalam rangkaian kegiatan — termasuk kafilah dan panitia pendukung — diperkirakan mencapai sekitar 7.000 orang.













