NidaulQuran.id | Rencana penamaan Jalan Mustafa Kemal Pasha Ataturk di Menteng, Jakarta Pusat, menuai protes dari berbagai kalangan. Dilansir dari situs kanalsolo.com, salah satu protes datang dari ulama muda Solo, Ustaz Dr Hakimuddin Salim. Pihaknya mengatakan Kemal Ataturk tidak pantas mendapatkan kehormatan ini.
Menurut beliau, memberi nama sebuah jalan sangat strategis dalam menanamkan nilai tertentu pada anak-anak bangsa. “Karena penamaan jalan adalah sebuah monumen, maka seharusnya dengan nama tokoh yang memberi keteladanan dan menginspirasi kebaikan. Bukan sebalikanya,” ujar Direktur PPTQ Ibnu Abbas Klaten ini, Senin (18/10/21).
Lebih lanjut, kata beliau, jika yang dipilih adalah nama Mustafa Kemal Ataturk itu tidak tepat, bahkan tidak mendidik bagi anak bangsa. Pertama, karena secara asal-usul ia adalah orang Yahudi Dumamah yang merupakan kaki tangan Zionis dalam meruntuhkan kejayaan Khilafah Turki Utsmani yang saat itu setia menjaga Al-Quds. “Ini jelas bertentangan dengan spirit dan komitmen bangsa kita dalam mendukung kemerdekaan Palestina,” jelas Penasihat Sahabat Al-Aqsha ini.
Kedua, sejarah mencatat bahwa Kemal adalah penguasa yang tidak demokratis, dimana ia memaksa rakyatnya untuk menutup sekolah-sekolah yang berbau Islam, sekolah berbahasa Arab, melarang adzan, melarang penggunaan jilbab, dan simbol-simbol agama Islam yang lain. Ini adalah contoh kediktatoran dan intoleransi yang tidak pantas ditiru generasi muda kita.
Ketiga, ideologi sekuler yang ia usung dan ia terapkan di Turki sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut bangsa Indonesia. “Sekularisme telah difatwakan haram oleh Majelis Ulama Indonesia, juga sangat berlawanan dengan pembukaan UUD 1945 dan sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa,” tegas DRT Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) tersebut.
Ustaz Hakim mengusulkan nama tokoh Turki lain yang lebih layak. “Sebenarnya banyak pemimpin dan pahlawan Turki lain yang lebih inspiratif bagi generasi milenial kita. Seperti Muhammad Al-Fatih, sebagai sosok penakluk muda yang mendunia. Ada juga figur Sulaiman Al-Qonuni dan Sultan Abdul Hamid yang legendaris. Atau tokoh reformis Turki, Profesor Necmettin Erbakan. Bahkan nama Erdogan sekalipun sangat lanyak untuk dijadikan nama jalan,” tuturnya.
Beliau menyakini pemerintah Turki akan menghormati aspirasi kaum Muslimin Indonesia soal ini. Pihaknya juga mendukung penuh kerjasama erat antara dua negara Muslim terbesar di dunia, Turki dan Indonesia.[]













