Home / Quranic / Memahami Sejarah Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadr: Waktu dan Proses Turunnya Al-Qur’an

Memahami Sejarah Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadr: Waktu dan Proses Turunnya Al-Qur’an

nidaulquran nuzulul quran

nidaulquran.id-Bulan Ramadhan bagi umat Islam bukan sekadar waktu untuk menahan lapar dan dahaga, melainkan juga momentum sakral turunnya wahyu Ilahi yang menjadi pedoman hidup. Peristiwa ini sering dikaitkan dengan dua istilah penting: Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadr. Meski keduanya merujuk pada turunnya Al-Qur’an, terdapat perbedaan mendasar dalam fase dan waktu kejadiannya berdasarkan catatan sejarah dan tafsir para ulama.

Dua Fase Penurunan Al-Qur’an: Dari Langit ke Bumi

Para ulama, termasuk pakar tafsir, menjelaskan bahwa Al-Qur’an tidak turun begitu saja dalam satu waktu ke bumi. Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam Kitab At-Tibyan fi Ulumil Qur’an menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada dua fase atau tahapan. Pertama, yakni dari Lauh Mahfuzh ke langit dunia (Baitul Izzah) sekaligus pada malam Lailatul Qadar. Kemudian, fase kedua adalah dari langit dunia ke bumi secara bertahap selama 23 tahun.

Sebagian ulama menyebut fase ini dengan istilah Inzal dan Tanzil.

Baca juga: Dua Akses Sunatullah

Fase Inzal: Penurunan Sekaligus pada Lailatul Qadr

Tahap pertama adalah inzal, yaitu penurunan Al-Qur’an secara utuh (30 juz) dari Lauhul Mahfuz ke Baitul Izzah atau langit dunia. Peristiwa agung ini terjadi pada malam Lailatul Qadr, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Qadr ayat 1: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” Malam ini disebut lebih baik dari seribu bulan dan menjadi momen di mana Al-Qur’an ditempatkan di tempat yang mulia di langit dunia sebelum disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW.

Fase Tanzil: Wahyu Pertama di Gua Hira

Tahap kedua adalah tanzil, yakni proses turunnya Al-Qur’an dari Baitul Izzah kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur melalui perantara Malaikat Jibril. Peristiwa ini dimulai saat Nabi sedang melakukan tahannuts (menyendiri) di Gua Hira, Jabal Nur. Wahyu pertama yang turun adalah lima ayat dari Surah Al-Alaq, yang diawali dengan perintah “Iqra” atau “Bacalah”.

Baca juga: Doa: Senjata Orang Beriman untuk Meraih Pertolongan dan Kekuatan Allah

Peristiwa di Gua Hira ini secara luas diyakini terjadi pada tanggal 17 Ramadhan, saat Nabi Muhammad SAW genap berusia 40 tahun. Sejak saat itu, Al-Qur’an terus diturunkan secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun (13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah) untuk menjawab berbagai persoalan umat dan menguatkan hati Rasulullah.

Perbedaan Peringatan 17 Ramadhan dan Lailatul Qadr

Dari pemaparan ini menjadi jelas bahwa tidak ada dua peristiwa yang saling bertentangan. Lailatul Qadr adalah momentum turunnya Al-Qur’an tahap pertama secara keseluruhan ke langit dunia. Adapun Nuzulul Qur’an merujuk pada awal turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad Saw, yaitu dimulainya proses penurunan bertahap selama 23 tahun.

Di Indonesia, masyarakat umum memperingati Nuzulul Qur’an setiap tanggal 17 Ramadhan. Hal ini didasarkan pada pendapat bahwa pada tanggal tersebutlah wahyu pertama kali menyentuh bumi melalui Nabi Muhammad SAW. Sementara itu, Lailatul Qadr diperingati sebagai malam diturunkannya Al-Qur’an ke langit dunia, yang waktunya dirahasiakan namun dianjurkan untuk dicari pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.

Baca juga: Menikmati Interaksi Dengan Al Quran

Perbedaan waktu ini sebenarnya saling melengkapi dalam khazanah keilmuan Islam. Penurunan secara utuh pada Lailatul Qadr menunjukkan keagungan Al-Qur’an di sisi Allah, sementara penurunan secara berangsur-angsur sejak 17 Ramadhan menunjukkan fungsi Al-Qur’an sebagai petunjuk yang adaptif terhadap realitas kehidupan manusia.

Relevansi Nuzulul Qur’an sebagai Pedoman Hidup

Sejarah Nuzulul Qur’an mengajarkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi literasi dan ilmu pengetahuan. Perintah pertama “Iqra” menjadi fondasi bagi umat Islam untuk terus belajar dan memahami alam semesta. Al-Qur’an diturunkan sebagai Hudan lin-nas (petunjuk bagi manusia) dan Furqan (pembeda antara yang hak dan yang batil).

Memahami sejarah turunnya Al-Qur’an membantu umat Islam untuk menghargai setiap proses turunnya wahyu. Baik itu peringatan 17 Ramadhan maupun perburuan malam Lailatul Qadr, keduanya bermuara pada satu tujuan: menjadikan Al-Qur’an sebagai imam dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar hiasan di rak buku atau bacaan tanpa makna.

Wallahua’lam

Tag: