NidaulQuran.id | Keinginan manusia tidak bisa diukur tanpa dibatasi dengan rasa syukur. Dalam ilmu ekonomi terdapat ungkapan tentang kelangkaan, yang terjadi karena ketidakseimbangan antara kebutuhan manusia dengan sumbernya. Dengan kata lain, kebutuhan manusia tidak terbatas sedangkan ketersediaan sumbernya sangatlah terbatas. Hal ini tentu pernah kita pelajari di bangku sekolah pada mata pelajaran Ekonomi.
Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa hidup sederhana. Pengertian sederhana dengan miskin tentu sangat berbeda. Penulis ingat ketika menyaksikan stand up comedy di televisi yang dibawakan oleh Cak Lontong. Di sana Cak Lontong membedakan antara definisi sederhana dengan kemiskinan. Hidup sederhana adalah sikap yang dipilih seseorang untuk menjalani kehidupannya, sedangkan miskin adalah kondisi di mana seseorang sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Baca juga: Melindungi Diri dari Kezaliman
Kebutuhan manusia sendiri terbagi menjadi beberapa kategori sesuai dengan kelas sosial ekonomi seseorang. Dalam tulisan ini, penulis ingin menggaris bawahi tentang perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Di mana salah satu sifat manusia yang cenderung disepelekan adalah sifat serakah dan tamak. Sifat tersebut mendorong manusia agar terus melakukan kegiatan eksploitasi sumber daya apa pun yang ada di bumi ini.
Ketidakpuasan pada diri manusia menciptakan hipotesis atau prakiraan tentang kejadian setelah mengeksekusi suatu rencana. Ada dua akibat yang akan dialami seseorang ketika melakukan apa yang direncanakannya, yaitu keberuntungan dan risiko. Keduanya sebagai wujud dari ikhtiar dan keinginan seseorang.
Hanya ada dua pilihan kondisi yang absolut dari hasil jerih payah ikhtiar manusia, yaitu keberhasilan dan kegagalan. Keberhasilan sering dikaitkan dengan faktor keberuntungan yang mendasarinya, dan ini secara tidak langsung sudah menjadi suatu kesepakatan mayoritas masyarakat. Sedangkan kegagalan identik dengan konsekuensi dan risiko yang diperoleh dari eksekusi sesuatu yang direncanakan.
Dalam pandangan masyarakat Jawa, terdapat ungkapan-ungkapan dan istilah yang sering digunakan sebagai penengah antara keberuntungan dan risiko. Misal, narima ing pandum, urip sak madyo, sluman slumun slamet, alon-alon waton kelakon dan sebagainya. Dari ungkapan itulah masyarakat Jawa bisa memfilter diri dari rasa iri akan keberuntungan orang lain dan rendah diri akan risiko kegagalan yang menimpanya.
Pelbagai ungkapan tersebut sesuai dengan karakter masyarakat Jawa yang pernah ditulis dalam manuskrip oleh Jhon Joseph Stockdalle sekitar 1810-an, tentang penelitiannya pada kehidupan masyarakat di tanah Jawa. Dalam bukunya, Stockdalle mengungkapkan adanya perbedaan yang dimiliki masyarakat Jawa pada umumnya. Masyarakat Jawa dikenal sebagai sosok yang sangat santai dalam bekerja, menerima kehidupan apa adanya, dan mereka kurang berambisi untuk memperoleh sesuatu.
Beda halnya ketika Stockdalle mengamati perilaku masyarakat etnis Tionghoa dan orang-orang Belanda. Etnis Tionghoa dikenal sebagai sosok pekerja keras dan berhemat dalam mengatur keuangan mereka. Ada pun orang-orang Belanda dikenal sebagai sosok yang pelit dan serakah dalam konteks pekerjaan.
Akan tetapi, sekarang ini ada perubahan-perubahan sosial budaya pada perilaku masyarakat Jawa. Mereka yang dahulunya dikenal sebagai orang yang santai dan malas kini merubah perilaku dan karakternya menjadi pekerja yang rajin dan fleksibel. Hal tersebut juga tak luput dari peran agama dan pendidikan. Agama Islam selain mengajarkan hidup sederhana juga mengajarkan untuk bekerja, yang merupakan salah satu wujud ibadah seseorang.
Baca juga: Pendidikan yang Memanusiakan
Pada era masyarakat modern saat ini ungkapan dan istilah Jawa tidak serta merta menghilang, bahkan masih bisa diaplikasikan. Sebagaimana pada kondisi masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta saat ini. Eksistensi berbagai ungkapan Jawa tentang segala aktivitas manusia masih terasa sampai saat ini. Ungkapan-ungkapan tersebut muncul ketika dihadapkan dengan permasalahan manusia pada kegagalan atau keterhambatan melakukan rencananya.
Pada Maret 2021 jumlah penduduk miskin di Yogyakarta tercatat 506,45 ribu orang. Satu semester sebelumnya, pada September 2020 jumlah penduduk miskin di provinsi ini sebanyak 503,14 ribu penduduk atau 12,80 persen dari total penduduk Yogyakarta. Penduduk miskin di wilayah perkotaan meningkat sebanyak 5,5 ribu menjadi 358,66 ribu orang. Adapun penduduk miskin di wilayah pedesaan berkurang sebanyak 2,1 ribu menjadi 147,80 ribu orang. Indeks kedalaman kemiskinan meningkat menjadi 2,420 dan indeks keparahan kemiskinannya meningkat menjadi 0,649.
Masyarakat Yogyakarta dengan indeks kemiskinan yang cukup tinggi, mereka masih bisa bertahan hidup dan berkembang. Hal ini karena adanya penggabungan antara ungkapan Jawa dan ajaran Islam, yaitu menerapkan hidup sederhana dan selalu bersyukur. Rezeki yang diberikan Allah Swt. akan terasa lebih nikmat dan berkah jika dilandasi dengan rasa syukur. Akhir kata, semoga kita senantiasa mendapatkan keberkahan dalam setiap aktivitas. Amin. Wallahu’alam []
Redaktur: Ni’mah Maimunah












