nidaulquran.id-Renovasi Masjid Ngadinegaran di kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta menandai kebangkitan baru bagi harmoni antara spiritualitas Islam dan budaya Jawa. Masjid yang berada di jantung peradaban filosofis Yogyakarta ini kini tampil megah dengan wajah arsitektur baru yang memadukan gaya Indis dan Jawa, tanpa kehilangan ruh keislamannya.
Melansir dari muhammadiyah.or.id, peresmian akan dilakukan langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, dengan disaksikan oleh jajaran pemerintah daerah dan tokoh masyarakat, termasuk Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Yogyakarta, Yunianto Dwisutono, yang hadir mewakili Wali Kota Hasto Wardoyo. Momentum ini bukan sekadar seremonial, tetapi wujud nyata dari komitmen masyarakat menjaga warisan spiritual dan budaya di tengah arus modernisasi kota.
“Masjid Ngadinegaran bukan hanya rumah ibadah, melainkan penanda spiritual dan kultural yang menyatukan nilai-nilai keislaman dengan filosofi harmoni hubungan manusia, Tuhan, dan alam semesta,” ujar Yunianto. Ia menambahkan, keberadaan masjid ini penting untuk memperkuat identitas Yogyakarta sebagai kota yang berbudaya sekaligus religius.
Masjid Ngadinegaran berdiri di atas tanah wakaf seluas 577 meter persegi dan pertama kali diresmikan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah AR Fachrudin pada tahun 1980. Namun seiring waktu, kapasitasnya tidak lagi mampu menampung jamaah. Maka, pada Januari 2024, dilakukan renovasi besar dengan biaya Rp 2,6 miliar yang diselesaikan pada Oktober 2025. Desain barunya tetap mempertahankan filosofi Jawa-Islam: atap tumpang tiga tanpa kubah yang melambangkan perjalanan spiritual manusia dari syariat, tarekat, hakikat, hingga ma’rifat.
Bagi Haedar Nashir, makna pembangunan ini jauh lebih dalam dari sekadar memperindah bangunan. “Renovasi ini adalah simbol hidupnya kembali semangat Islam berkemajuan yang berpadu dengan kebudayaan lokal. Islam dan budaya tidak bertentangan, keduanya justru saling menguatkan dalam membentuk peradaban,” ujarnya. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak berhenti pada simbol-simbol arsitektur, tetapi menggali nilai-nilai substansial seperti keikhlasan, kesederhanaan, dan keilmuan.
Mengutip dari dalbang.jogjakota.go.id, masjid ini juga menjadi masjid pertama di garis Sumbu Filosofi Yogyakarta, kawasan yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia. Karena itu, seluruh proses renovasi mengikuti arahan Dinas Kebudayaan dan Dewan Pelestarian Warisan Budaya DIY. Arsitektur masjid dirancang untuk menegaskan keterpaduan nilai Islam dan filosofi keraton Yogyakarta — cermin dari akar sejarah Kerajaan Mataram Islam yang menjadi fondasi kebudayaan Jawa hingga kini.
Dengan wajah barunya, Masjid Ngadinegaran diharapkan menjadi pusat dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Takmir masjid berencana menggelar kegiatan literasi Al-Qur’an, kajian budaya Islam-Jawa, serta pelatihan wirausaha santri. Harapannya, masjid ini bukan hanya tempat shalat, tetapi juga pusat peradaban yang menumbuhkan nilai rahmatan lil ‘alamin, di mana keindahan arsitektur berpadu dengan semangat spiritual untuk membangun masyarakat yang beriman, berilmu, dan berbudaya.













