Home / Warta / Melukis Kenangan

Melukis Kenangan

NidaulQuran.id | Sejauh apapun kita melangkah, akhirnya kepada kenangan masa kecil itu kita akan kembali jua. Itulah yang terasa saat dalam kesendirian, pada puncak kesuksesan, atau pada titik terdalam kesedihan. Akal dan hati akan kembali mengembara ke masa kanak-kanaknya dahulu.

Kenangan itu begitu kuat, sehingga selintas kejadian yang mirip, bau yang khas, rasa yang istimewa, suasana yang spesial, akan mampu menghadirkan kenangan yang telah lama berlalu itu. Bahkan tanpa itu semua, kenangan itu selalu hadir dengan jelas begitu saja.

Dari tempat saya duduk saat ini, masih tergambar jelas sekali dalam benak tentang jalan setapak tak beraspal yang saya lalui setiap kali berangkat ke sekolah dasar dahulu. Masih sangat terang dalam ingatan ini waktu saya baru belajar Iqra’ setiap habis maghrib kepada umi, sampai akhirnya bisa khatam baca Al-Qur’an. Pun tidak terlupa aneka bentuk permainan dan juga hukuman yang saya terima karena melanggar. 

Ternyata kenangan indah masa kecil itu yang menempel kuat dalam benak sahabat Abdullah bin Abbas, saat ia berulang kali didoakan oleh Rasulullah dan mendapatkan nasihat dari beliau. Dan kenangan itu tidak pernah hilang dari benak Imam Malik bin Anas, saat ibunya menyiapkan dirinya untuk belajar sambil memberinya nasihat. 

Kenangan yang tidak lepas dari ingatan Badiuzzaman Said Nursi tentang ayah dan ibunya di pegunungan Haizan, Anatolia Timur. Sampai ia berkata, “Sungguh aku telah bertemu ribuan guru dalam hidupku, namun pengajaran yang mereka sampaikan sesungguhnya hanya menjelaskan rangkaian nasihat ibuku waktu kecil dahulu.”

Bila kenangan itu bagi kita saat ini terasa sangat istimewa, maka begitu pula kelak yang akan dirasakan anak-anak kita pada suatu waktu di masa depan mereka. Sebagai orang tua dan guru, kita adalah bagian dari pelukis kenangan-kenangan itu. 

Maka kenangan apakah yang ingin kita lukiskan untuk mereka?

Apakah kenangan tentang ibu yang suka marah-marah, ataukah tentang sosok bunda yang sangat peduli dan penyayang kepada anaknya?

Apakah memori tentang bapak yang suka membentak-bentak, ataukah pribadi ayah teladan dan penuh cinta?

Di sinilah ada kalanya kita mesti berusaha keras menahan diri dari luapan emosi, agar ekspresi ketidakmampuan kita menahan diri itu tidak terlukis dalam kanvas hidup mereka. Kalaupun ada, semoga ketulusan kita untuk kebaikan mereka yang akan membuat kita tetap berlaku adil dan bijaksana.

Dalam kehidupan selanjutnya, mungkin akan ada dua hal yang paling berharga bagi mereka, yaitu adab yang mulia dan nama baik. Seperti kata seorang ulama:

 خَيْرُ مَا وَرَّثَ الرِّجَالُ بَنِيهِمْ * أَدَبٌ صَالِحٌ وَحُسْنُ الثَّنَاءِ

هُوَ خَيْرٌ مِنَ الدَّنَانِيرِ وَالأَوْ * رَاقِ فِي يَوْمِ شِدَّةٍ أَوْ رَخَاءِ

Sebaik-baik apa yang ditinggalkan orang-orang hebat kepada anak-anaknya adalah adab yang mulia dan nama baik orangtua.

Itu jauh lebih baik daripada dinar dan uang berlimpah, baik di masa sulit maupun senangnya.

Ya, nama baik kedua orang tua adalah segalanya bagi anak. Sebagai orang tua kita berusaha menjaga diri agar jangan sampai membuat luka, akibat rasa malu yang diderita anak tentang perbuatan buruk ayah atau ibunya. Nama baik kedua orang tua, itulah yang membuat kepala mereka tegak dan menghadapi hidup dengan percaya diri. Ya, saat dia merasa bangga dengan ayah dan ibunya.

Adab yang mulia, itulah peninggalan berikutnya yang berharga untuk mereka. Tentang tutur kata yang baik, sikap yang lemah lembut, perlakuan yang penuh kasih sayang. Itulah yang akan kekal meneguhkan hati anak-anak dan juga membentuk kebaikan pribadinya.

Hari-hari boleh berlalu. Kenangan biarlah datang silih berganti. Saat mereka besar mungkin kita tidak ada lagi. Tetapi yang abadi adalah kenangan kebaikan yang terpatri di dalam hati. 

Peluh lelah berjuang dengan senyum tetap tersungging manis indah untuk anak-anak tercinta. Itulah kenangan yang kelak abadi akan menemani kehidupan mereka.

Ya, seperti saat ini kita mengenangkan kebaikan dan ketulusan ayah bunda, semoga begitu pula kelak mereka akan mengenangkan kebaikan kita.[]

Redaktur: Luthfi Nur Azizah

Tag: