nidaulqura.id-Di setiap memasuki tahun ajaran baru, berbagai lembaga pendidikan dari berbagai tingkatan berbondong-bondong mempublikasi PPDB lembaganya masing-masing. Beberapa lembaga melabeli lembaganya sebagai sekolah unggulan, sekolah favorit, dan label-label menarik lainnya. Indikator yang digunakan pun berbeda-beda, tergantung label yang disematkan.
Label sekolah favorit di sebagian daerah misalnya merujuk kepada sekolah yang banyak diminati para pelajar. Hal itu ditandai dengan membludaknya jumlah pelajar yang mendaftar.
Salah satu alasan sekolah tersebut diminati dan menjadi buruan banyak pelajar karena sekolah itu menghasilkan banyak lulusannya yang diterima di sekolah-sekolah favorit pada jenjang yang lebih tinggi. SD favorit adalah SD yang lulusannya banyak diterima di SMP favorit, begitupun dengan SMP favorit, SMA favorit, dan perguruan tinggi favorit.
Jenjang tertinggi dalam hirarki pendidikan formal adalah perguruan tinggi. Perguruan tinggi favorit hari ini identik dengan perguruan tinggi yang melahirkan banyak lulusannya diserap oleh dunia kerja, oleh korporasi ternama, atau yang menjadi pejabat negara.
Tujuan-tujuan seperti itu tentunya sah-sah saja selama tidak menepikan tujuan utama pendidikan.
Masalah timbul ketika tujuan-tujuan ini menggerus proses pembentukan manusia beradab, yang beriman, bertakwa, serta berakhlak mulia, yang menjadi tujuan utama pendidikan Indonesia, sebagaimana digariskan dalam undang-undang negara kita.
Alih-alih sekolah memberi perhatian lebih pada pembentukan manusia beradab, yang terjadi justru fokus mengejar target-target korporat yang belum tentu sejalan dengan pembangunan negara.
Perhatian berlebih pada materi dengan mengejar target-target industri semakin menghambat proses pengembangan ilmu pengetahuan di negeri kita. Untuk menjadi tenaga kerja yang diserap korporasi, seorang pelajar cukup mempelajari materi yang dibutuhkan perusahaan, ia tidak merasa berkepentingan dengan pengembangan ilmu pengetahuan.
Kalau pun di lembaga pendidikan ada pembekalan ruhani, hal itu lagi-lagi dilakukan guna mengejar target-target materi. Pembekalan ruhani dijadikan alat pemenuhan hasrat materi.
Menyedihkannya lagi, manusia yang secara fitrah memiliki potensi ruhani yang besar diturunkan martabat kemanusiaannya pada dimensi fisik semata. Di korporasi nanti, ia pun akan menjadi budak korporasi yang dihargai berdasarkan kontribusinya dalam produksi.
Identitas manusia tidak lagi berada pada dirinya, melainkan pada korporat. Ia tidak lagi menjadi pribadi yang merdeka, tetapi tenggelam dalam kecepatan laju korporasi.
Kondisi seperti inilah yang menjadi kerisauan reflektif seorang Bertrand Russell, Solzhenitsyn, M. Iqbal, tentang proses dehumanisasi dari modernisasi teknologi tanpa batas.
Padahal akhir dari semua yang manusia perjuangkan adalah kebahagiaan hakiki, bukan kebahagiaan semu yang selama ini masif dipertontonkan. Kebahagiaan yang dipersempit maknanya pada pemenuhan materi saja, di mana keberlimpahan materi dijadikan penanda kebahagiaan manusia.
Konsep kebahagiaan semacam itu bukanlah kebahagiaan hakiki yang dimaksud Al-Quran. Kebahagiaan hakiki sebagaimana didefinisikan para ulama dan dikemas ulang oleh Prof. SMN. Al-Attas adalah kepercayaan atas kebenaran (yakin, qoth’i) yang diikuti dengan pengamalan atas kebenaran itu.
Keliru mendefinisikan bahagia berakibat keliru menempuh jalan bahagia. Keliru menempuh jalan berujung pada kehampaan, kekeringan jiwa, dan kenestapaan hidup, alih-alih meraih ketenangan jiwa dan kepuasan batin.
وكل من أخطأ الطريق ضل ولا ينال المقصود
Karena itu tidak mengherankan jika banyak lulusan lembaga pendidikan favorit maupun non favorit tidak bertambah pintar (al-kayyis, ulul albab), malah menjadi jahil murokkab, padahal ketika masuk ia masih jahil basith.
دخل جاهلا بسيطا وخرج جاهلا مركبا
Lembaga pendidikan yang menyimpang dari tujuan pendidikan Indonesia ikut berkontribusi melanggengkan kondisi memprihatinkan bangsa ini.
Tidak sedikit orang pandai di negeri ini, tapi kepandaian yang tidak disertai akhlak yang memadai, yang sedari awal memang tidak ditekankan dalam proses-proses pendidikan.
Walhasil, apakah sekolah favorit itu?
Wallohu a’lam













