Home / Quranic / Pentingnya Mengajarkan Tauhid Pada Anak

Pentingnya Mengajarkan Tauhid Pada Anak

Oleh: Luthfi Nur Azizah

NidaulQuran.id | Seorang wanita yang beriman berati ia percaya bahwa Allah yang mengatur semesta alam. Meyakini juga bahwa Allah yang menciptakan seluruh makhluk di semesta ini tak terkecuali baik itu yang terlihat maupun yang gaib.

Makhluk yang gaib, walaupun tak terlihat kita harus mempercayai keberadaannya. Sebagaimana tauhid, ia adalah suatu yang abstrak dan tak terlihat namun keberadaannya ini menjadi manhaj yang harus dimiliki semua muslim. Tauhid ada pada dada manusia yang mengimani Allah sebagai Rabb dan Muhammad sebagai utusan-Nya.

Mengenalkan tauhid pada anak adalah hal yang paling utama dan harus diajarkan sejak dini. Walaupun tauhid ini bersifat abstrak setelah terucap oleh lisan, namun ia memiliki konsekuensi yang sangat dalam. Ketika kita telah mengenalkan pada mereka kalimat “laa ilaha illallah muhammadurrasulullah” saat itulah kita harus mendidik dan membimbing mereka menjadi muslim yang taat. Kita pahamkan makna al-wala’ wal bara’ kepada mereka. Artinya, kita dituntut menjadi ibunda ideologis dalam memahamkan Islam.

Disamping itu, penanaman akidah adalah hal yang harus ditanamkan sejak dini. Penanaman akidah akan menjadikan anak-anak akan memahami hal-hal yang di larang dan yang di perintah Allah. Menyirami hati-hati mereka dengan siraman keimanan sedari kecil, karena pada dasarnya keimanan itu memiliki 6o cabang atau 70 cabang, yang paling tinggi adalah “laa iaaha illallah” dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri atau gangguan di jalan.

Belajar dari Lukmanul Hakim

Lukmanul Hakim adalah sosok pendidik yang sukses dalam mendidik anak-anaknya dalam menanamkan tauhid. Ungkapan yang terdengar lembut dalam pengajarannya ia selalu mengawalinya dengan kalimat “yaa bunayya”—wahai  anakku—sehingga kekuatan taklim atau tarbiyah mengalir dan mengendap ke hati sang anak.

Di tengah-tengah maraknya ilmu-ilmu parenting yang sedang berkembang,  ada baiknya kita tidak lupa belajar bagaimana parenting Lukman dalam mendidik anak-anaknya. Metode Lukman ini merupakan pola asuh terbaik, sehingga Allah mengabadikannya dalam Qur’an surah Lukman.

Surah Lukman identik dengan tarbiyatul aulad. Dalam surat tersebut mengandung konsep pendidikan yang dibutuhkan anak-anak, karena cakupannya akan mengantarkan pada kebaikan di dunia maupun di akhirat.

Dalam surah tersebut terdapat pembelajaran yang penting mengenai pondasi akidah. Sebab itulah, yang pertama kali wajib kita tumbuhkan pada anak-anak kita adalah tentang tauhidullah, sehingga tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Lalu bagaimana caranya kita menanamkan makna itu pada jiwa anak-anak kita? Hendaknya kita selalu perlihatkan kepada mereka kerajaan (kekuasaan) Allah yang ada di alam semesta ini.

Kita ajak mereka berjalan-jalan untuk melihat berbagai pemandangan alam. Ini agar mereka mengetahui kekuasaan Allah dengan segala ciptaan-Nya. Dan mereka mengenal keagungan sang Khaliq, Allah swt. atas semua makhluknya

Perhatikan bagaimana cara Lukman mendidik putranya. Allah swt. berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kelainan yang besar.”(QS. Lukman: 13)

Ia memulai pelajaran dengan teori tentang larangan keras mengenai syirik. Setelah itu memulai dengan aplikasi amal. Allah swt. berfirman:

Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu langit atau didalam bumi, niscaya Allah akan membalasnya. Sesungguhnya Allah maha mengetahui.” (QS. Lukman: 16)

Dari ayat-ayat di atas terpapar bahwa pentingnya orang tua untuk menanamkan esensi tauhid kepada anak sejak dini. Jika tauhid itu telah bergemuruh dalam dadanya, ia akan senantiasa taat kepada Allah bahkan ia akan menyerahkan hidupnya di jalan Allah.

Penanaman tauhid, adab ataupun akhlak itu sungguh penting. Namun apabila tidak berawal dari sang pendidik ataupun orang tua, maka jangan berharap bahwa kita akan berhasil mencetak para generasi yang siap dengan misi Islam.

Sebagaimana Najmuddin Ayyub yang menginginkan keturunannya kelak adalah seseorang yang membebaskan Masjid Al-Aqsha, maka yang diupayakan olehnya adalah mencari pendamping yang sesuai dengan misinya yaitu ‘menjadikan keturunannya sang pembebas Masjid Al-Aqsha’. Dari sinilah lahir Shalahuddin Al-Ayubi yang berhasil membebaskan Masjid Al-Aqsha.

Siapa yang tak mengenal Muhammad Al-Fatih yang masa kecilnya selalu ditempa oleh Syaikh Al-Kurani dan Aaq Syamsudin yaitu ulama yang tersohor di bidang keilmuannya. Mereka ajarkan keilmuannya pada Muhammad Al-Fatih sampai melekat hingga jiwa Al-Fatihitu benar-benar bergemuruh. Saat Al-Fatih berusia masih muda, 22 tahun, telah berhasil menaklukkan Konstantinopel.

Siapa mereka? Mereka adalah para tokoh sejarah yang berperan besar untuk Islam dan telah Allah gariskan dalam hadits an-nubuwwah. Namun demikian, sedari kecil mereka telah dikenalkan akan tauhid, esensi,dan konsekuensinya.

Lalu bagaimana peran kita hari ini untuk mewujudkan anak-anak yang siap dengan misi Islam, wahai muslimah?[]