nidaulquran.id-Di tengah arus globalisasi dan disrupsi pendidikan modern, pesantren Indonesia menunjukkan wajah baru: terbuka, kolaboratif, dan siap bersaing di kancah dunia. Melalui International Islamic Edu Fair (IIEF) 2025 bertema “Dari Pesantren untuk Dunia”, semangat itu menemukan wujudnya.
Diselenggarakan oleh Forum Ma’ahid Quran Indonesia (Formaqin) di Edutorium K.H. Ahmad Dahlan UMS. IIEF 2025 tidak hanya menghadirkan lembaga pendidikan Islam dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga melibatkan ulama dan guru besar dari delapan negara: Malaysia, Mesir, Yaman, Suriah, Palestina, Sudan, Yordania, dan Indonesia. Kehadiran para masyayikh ini menjadi bukti bahwa dunia pendidikan Islam Indonesia semakin diakui secara global.
Ketua Panitia IIEF 2025, Akhen Amalageng, menjelaskan bahwa pameran ini lahir dari kebutuhan nyata para orang tua yang kerap kesulitan mencari informasi pendidikan Islam. “Biasanya mereka harus berkeliling dari satu pesantren ke pesantren lain, membutuhkan waktu berhari-hari. Melalui IIEF, kami ingin menghadirkan solusi praktis dengan mempertemukan berbagai lembaga pendidikan dan produk muslim dalam satu tempat,” ujarnya.
Tahun ini, IIEF 2025 memberikan perhatian khusus kepada pesantren dan lembaga pendidikan yang masih dalam tahap perintisan. Sebanyak 31 lembaga baru diberi kesempatan berpartisipasi secara gratis sebagai bentuk dukungan terhadap tumbuhnya ekosistem pendidikan Islam di Indonesia.
Selain itu, kegiatan ini juga disertai dengan pembagian 35.000 mushaf Al-Qur’an, terdiri atas 30.000 mushaf dari Ruang Baik, 5.000 dari Aksi Berbagi, serta tambahan 10.000 buku Iqra’. Program ini diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap literasi Al-Qur’an dan memperkuat semangat dakwah melalui pendidikan.
Ketua Formaqin, Dr. Umarul Faruq Abu Bakar, Lc., M.A., menegaskan bahwa IIEF bukan sekadar pameran, tetapi momentum pertemuan dakwah dan ilmu. “Yang paling penting dari forum ini adalah silaturahmi. Di sinilah pesantren, akademisi, dan umat bertemu untuk saling belajar dan berkolaborasi,” tuturnya.
Bagi K.H. Syihabuddin A.M. Al Hafizh, pembina Formaqin, IIEF adalah bukti nyata kekuatan silaturahmi pesantren yang kini menembus batas nasional. “Ini bukan hanya kegiatan tahunan, tapi gerakan transformasi dan kolaborasi global,” ujarnya. Melalui IIEF 2025, pesantren Indonesia menegaskan perannya bukan hanya sebagai penjaga tradisi, tetapi sebagai motor perubahan dunia Islam — menghadirkan harapan, ilmu, dan kemajuan dari pesantren untuk dunia.
Dengan konsep yang menggabungkan pameran, edukasi, dan dakwah, IIEF 2025 diharapkan mampu memperkuat peran pesantren dan sekolah Islam sebagai pilar pembentuk generasi beriman, berilmu, dan berkarakter Qur’ani.













