Beranda / Hikmah / Insight / Syariat yang Humanis: Keringanan Shalat dan Etika Nabi dalam Memimpin

Syariat yang Humanis: Keringanan Shalat dan Etika Nabi dalam Memimpin

Oleh: Mohammad Afin Masrija
Guru MAN 2 Kota Kediri

nidaulquran.id-Di antara sekian banyak peristiwa agung dalam sejarah Islam, Isra Mikraj menempati posisi yang unik. Ia bukan sekadar kisah mukjizat yang menembus batas ruang dan waktu, melainkan peristiwa teologis yang sarat pesan etis, sosial, dan kemanusiaan. Salah satu fragmen terpenting dalam peristiwa ini adalah dialog mengenai kewajiban shalat—dialog yang memperlihatkan wajah Islam sebagai agama yang bertumpu pada kasih sayang, bukan pada beban.

Ketika Nabi Muhammad SAW dimikrajkan, beliau menerima perintah shalat sebanyak 50 kali sehari semalam. Ini bukan angka simbolik, melainkan kewajiban nyata yang ditetapkan langsung di Sidratul Muntaha. Dari sudut pandang spiritual, perintah ini sepenuhnya dapat dijalani oleh seorang nabi. Bahkan, shalat bukanlah beban bagi Nabi Muhammad SAW, melainkan kenikmatan ruhani. Namun Islam tidak diturunkan hanya untuk Nabi, melainkan untuk umat manusia yang beragam, rapuh, dan terbatas.

Di sinilah muncul peran Nabi Musa AS. Ketika mengetahui jumlah shalat yang diwajibkan kepada umat Nabi Muhammad SAW, Nabi Musa menyarankan agar beliau kembali menghadap Allah untuk memohon keringanan. Saran ini sering dipahami secara sederhana, seolah Nabi Musa sekadar “menginterupsi” keputusan Tuhan. Padahal, jika dibaca lebih dalam, saran itu adalah ekspresi empati seorang rasul yang memahami betul watak umat manusia.

Nabi Musa AS bukan nabi sembarangan. Ia memimpin umat yang keras, kuat secara fisik, dan berani menghadapi tirani Fir’aun. Namun umat yang “gagah” itu pun berulang kali membangkang, mengeluh, bahkan menyembah patung anak sapi ketika ditinggal sebentar. Dari pengalaman panjang itulah Nabi Musa tahu bahwa beban ibadah yang terlalu berat berpotensi melahirkan kelelahan spiritual, bukan ketekunan.

Maka Nabi Muhammad SAW kembali menghadap Allah. Keringanan pun diberikan: dari 50 menjadi 45. Namun ketika Nabi Musa kembali menyarankan hal yang sama, proses itu berulang. Lima demi lima dikurangi, hingga akhirnya tersisa lima waktu shalat sehari semalam. Bahkan pada titik itu pun, Nabi Musa masih menyarankan agar meminta keringanan lagi. Akan tetapi, kali ini Nabi Muhammad SAW memilih berhenti. Rasa malu beliau kepada Allah—sebuah adab kenabian yang halus dan mendalam—mengalahkan keinginan untuk kembali meminta.

Di titik inilah Isra Mikraj memperlihatkan keindahan etika Islam. Kewajiban shalat lima waktu bukanlah hasil dari pemaksaan, melainkan buah dari dialog, empati, dan kasih sayang. Shalat lima waktu adalah kewajiban yang ringan dalam praktik, tetapi berat dalam makna. Ia adalah titik temu antara kehendak ilahi dan keterbatasan manusia.

Saran Nabi Musa AS jelas bukan tanpa alasan. Ia melihat umat Nabi Muhammad SAW sebagai umat yang secara historis akan menghadapi tantangan berat: lemah di banyak tempat, tertindas secara ekonomi, terpecah secara politik, dan lelah secara sosial. Nabi Musa berkaca pada umatnya sendiri: jika umat yang kuat saja sering gagal, bagaimana dengan umat yang lemah? Nabi Muhammad SAW memahami itu semua. Karena itu, pengurangan shalat bukanlah bentuk kompromi iman, melainkan puncak kebijaksanaan kenabian.

Dari peristiwa ini, kita melihat dengan jelas bahwa Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin yang sama sekali tidak egois secara spiritual. Beliau tidak memaksakan standar pribadinya kepada umat.

Padahal, secara kapasitas ruhani, Nabi Muhammad SAW tentu mampu menjalankan shalat 50 kali sehari semalam. Namun kepemimpinan sejati bukan soal kemampuan diri, melainkan kesanggupan memahami keterbatasan orang lain.

Inilah yang membedakan Nabi Muhammad SAW dari banyak figur otoritas keagamaan. Beliau tidak menjadikan kesalehan pribadi sebagai alat penindasan moral. Beliau justru menurunkan standar kewajiban agar umat mampu bertahan, bukan sekadar patuh sesaat lalu runtuh.

Karena itu, menjadi umat Nabi Muhammad SAW adalah anugerah besar. Kita hidup di bawah syariat yang penuh keringanan (taysir), bukan kerumitan. Amal kecil diberi pahala besar, dosa kecil bisa dihapus dengan taubat sederhana, dan niat baik saja sudah bernilai ibadah. Dalam bahasa yang sederhana, kita adalah umat yang “paling dimudahkan”.

Betapa tidak, kita ini umat yang kerap disebut lemah. Lemah disiplin, lemah konsistensi, lemah dalam menjaga nilai. Namun justru umat seperti inilah yang mendapatkan nabi paling agung. Keagungan Nabi Muhammad SAW tidak hanya tampak dalam mukjizat dan kemenangan, tetapi dalam empati dan keberpihakan pada yang lemah.

Quraish Shihab, dalam berbagai tafsirnya, menegaskan bahwa inti ajaran Islam bukanlah pada beratnya beban, melainkan pada kesinambungan hubungan dengan Tuhan. Shalat lima waktu, menurutnya, adalah “ritme spiritual” yang menjaga manusia agar tidak tercerabut dari nilai ilahi di tengah hiruk-pikuk dunia. Jika shalat terlalu banyak, ritme itu justru bisa berubah menjadi kelelahan.

Sementara Nurcholish Madjid mengingatkan bahwa keistimewaan umat Nabi Muhammad SAW bukanlah alasan untuk merasa superior. Justru karena dimudahkan, tanggung jawab moral kita lebih besar. Keringanan bukanlah tiket untuk bermalas-malasan, melainkan ruang untuk memperdalam kualitas ibadah, bukan sekadar kuantitas.

Pandangan ini sejalan dengan Yusuf al-Qaradawi yang menempatkan prinsip kemudahan sebagai roh syariat Islam. Menurutnya, setiap hukum Islam harus dibaca dalam kerangka rahmatan lil ‘alamin. Kisah pengurangan shalat dalam Isra Mikraj adalah dalil paling konkret bahwa Allah menghendaki kemudahan bagi umat Nabi Muhammad SAW, bukan kesulitan.

Namun di sinilah letak ironi kita hari ini. Ketika syariat telah dimudahkan sedemikian rupa, sebagian umat justru masih merasa berat menjalankan shalat lima waktu. Ini bukan lagi soal kemampuan, melainkan soal kesadaran. Bukan karena beban terlalu berat, tetapi karena hati terlalu penuh oleh hal-hal lain.

Isra Mikraj seharusnya tidak berhenti sebagai peringatan tahunan yang penuh seremoni. Ia adalah cermin etika kepemimpinan, pedagogi spiritual, dan teologi kasih sayang. Shalat lima waktu adalah hasil dari cinta yang dinegosiasikan di langit demi keberlangsungan iman di bumi.

Setiap kali kita berdiri untuk shalat, sesungguhnya kita sedang menikmati buah dari sebuah kepedulian besar: kepedulian Nabi Musa terhadap umat manusia, kepedulian Nabi Muhammad SAW terhadap umatnya, dan kasih sayang Allah terhadap hamba-hamba-Nya.

Shalat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan monumen dialog antara langit dan bumi—dialog yang menegaskan bahwa dalam Islam, kasih selalu mendahului beban. Dan melalui shalat sebenarnya kita sedang melakukan mi’raj ke khadirat Allah SWT sebagaimana hadis nabi yang mendefinisikan ihsan yang  berbunyi “ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan engkau melihat-Nya, maka bila engkau tak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatmu.” (HR Muslim) . Wallahu a’lam

Tag: