nidaulquran.id-Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memberikan respons tegas terhadap eskalasi konflik militer yang melibatkan serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke wilayah kedaulatan Iran. Organisasi Islam terbesar di Indonesia ini tidak hanya menyampaikan kecaman diplomatik, tetapi juga menggerakkan kekuatan spiritual melalui instruksi resmi kepada jutaan warga Nahdliyin untuk melaksanakan doa Qunut Nazilah demi perdamaian dunia.
Kecaman Keras Ketua Umum PBNU atas Agresi Militer
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, secara terbuka mengutuk keras serangan udara yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran. Menurut Gus Yahya, tindakan militer tersebut merupakan bentuk agresi yang melanggar hukum internasional dan mengancam stabilitas keamanan global. Ia menilai bahwa kekerasan bersenjata hanya akan memicu siklus dendam yang sulit diputus serta merusak tatanan dunia yang sudah ada.
Gus Yahya juga menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam atas wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut. PBNU memandang bahwa serangan ini berpotensi membangkitkan kembali sel-sel radikalisme dan ekstremisme di berbagai belahan dunia sebagai reaksi atas ketidakadilan yang terjadi di Timur Tengah. Oleh karena itu, PBNU mendesak agar segala bentuk provokasi militer segera dihentikan untuk mencegah jatuhnya lebih banyak korban sipil.
Instruksi Resmi Pembacaan Doa Qunut Nazilah Serentak
Sebagai langkah konkret secara organisasi, PBNU mengeluarkan surat instruksi bernomor 51/PB.01/A.II.08.47/99/03/2026 tertanggal 1 Maret 2026. Surat ini ditujukan kepada seluruh jajaran Pengurus Wilayah (PWNU), Pengurus Cabang (PCNU), Pengurus Cabang Istimewa (PCINU) di luar negeri, hingga pengasuh pondok pesantren dan takmir masjid di bawah naungan Nahdlatul Ulama.
Baca juga: Peringatan 100 Tahun NU: Rais Aam PBNU Pimpin Doa Bersama untuk Palestina
Instruksi tersebut memerintahkan seluruh warga NU untuk menggalakkan kembali pembacaan doa Qunut Nazilah dalam setiap salat fardu, termasuk salat Jumat. Langkah ini diambil sebagai bentuk empati dan solidaritas kemanusiaan terhadap masyarakat yang terdampak konflik di Timur Tengah. PBNU menekankan bahwa di tengah ketidakberdayaan politik, doa adalah senjata spiritual yang kuat bagi umat beriman untuk memohon perlindungan dari Allah SWT.
Berikut doa Qunut Nazilah yang di tuliskan dalam instruksi PBNU:
اللّهُمَّ الْعَنِ الْكَفَرَةَ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ, وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ, وَيُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَاءَكَ
اللّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَيْهِمْ, وَاجْعَلْ عَلَيْهِمْ رِِجْزَكَ وَعَذَابَكَ. اللّهُمَّ خَالِفْ بَيْنَ كَلِمَاتِهِمْ. اللّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ، اللّهُمَّ مَزِّقْ جَمْعَهُمْ،
اللّهُمَّ زَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ، وَأنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِيْنَ لَا تَرُدُّهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِيْنَ.
وَصَلَّ اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Teknis Pelaksanaan dan Makna Spiritual Qunut Nazilah
Dalam surat instruksi yang ditandatangani oleh Rais Aam KH Miftachul Akhyar, Katib Aam KH Akhmad Said Asrori, Ketum KH Yahya Cholil Staquf, dan Sekjen Saifullah Yusuf, dijelaskan teknis pelaksanaan doa tersebut. Qunut Nazilah dibaca pada rakaat terakhir setiap salat fardu setelah iktidal. Khusus untuk salat Subuh, doa ini dibaca setelah doa qunut rutin.
Baca juga: Puncak Harlah NU ke-100: Semangat Kebersamaan dan Visi Peradaban Mulia
Secara esensial, Qunut Nazilah adalah doa yang dipanjatkan saat umat Islam menghadapi musibah besar atau ancaman keamanan. PBNU berharap melalui wasilah doa ini, Allah SWT memberikan keselamatan bagi bangsa-bangsa yang tertindas, meredam ambisi perang para pemimpin negara, dan menghadirkan keadilan yang menjadi fondasi perdamaian abadi.
Seruan untuk PBB dan Peran Aktif Pemerintah Indonesia
Selain instruksi spiritual, PBNU juga memberikan pernyataan politik dengan mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk berfungsi secara efektif sebagai penjaga tatanan internasional. Gus Yahya menegaskan bahwa PBB tidak boleh diam melihat pelanggaran kedaulatan negara yang dilakukan secara unilateral. Konsolidasi internasional sangat diperlukan untuk memaksa pihak-pihak yang bertikai kembali ke meja diplomasi.
PBNU juga mendorong Pemerintah Indonesia untuk mengambil peran aktif dalam upaya deeskalasi konflik. Sesuai amanat konstitusi untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia, Indonesia diharapkan dapat menjadi inisiator perdamaian di kawasan Timur Tengah. Dengan jaringan diplomasi yang luas, posisi Indonesia dinilai strategis untuk mendesak AS, Israel, dan Iran agar menahan diri dan mengutamakan solusi damai yang bermartabat bagi semua pihak.












