nidaulquran.id-Puncak peringatan harlah 100 tahun Nahdlatul Ulama (NU) versi kalender Masehi ditandai dengan penyelenggaraan Mujahadah Kubro yang berlangsung khidmat di Stadion Gajayana, Kota Malang, Jawa Timur.
Dalam momentum bersejarah tersebut, Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar, memimpin puluhan ribu jemaah Nahdliyin untuk melangitkan doa khusus bagi keselamatan dan kedamaian rakyat Palestina.
Acara ini menjadi simbol solidaritas kemanusiaan sekaligus refleksi spiritual organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut saat memasuki abad kedua perjuangannya.
Mujahadah Kubro sebagai Puncak Spiritual Satu Abad NU
Peringatan satu abad atau 100 tahun berdirinya Nahdlatul Ulama yang dihitung sejak 1926 hingga 2026 menjadi tonggak penting bagi organisasi ini. Mujahadah Kubro dipilih sebagai bentuk syukur sekaligus ikhtiar batiniah jemaah.
Sejak Sabtu malam, ribuan Nahdliyin dari berbagai penjuru Jawa Timur, khususnya wilayah Malang Raya, telah memadati kawasan Stadion Gajayana meskipun sempat diwarnai cuaca yang menantang. Kehadiran para kiai sepuh, pengurus PBNU, hingga jajaran pejabat negara memberikan warna tersendiri pada gelaran ini.
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, turut hadir di lokasi acara didampingi oleh sejumlah menteri Kabinet Merah Putih, Panglima TNI, dan Kapolri. Kehadiran pemimpin negara ini disambut antusias oleh jemaah yang memenuhi setiap sudut tribun hingga area lapangan stadion.
Solidaritas Kemanusiaan untuk Rakyat Palestina
Di tengah suasana yang penuh kekhusyukan, KH Miftachul Akhyar dalam arahannya menekankan bahwa doa adalah senjata dan solusi utama bagi umat beriman dalam menghadapi berbagai musibah yang melanda dunia. Beliau mengajak seluruh jemaah untuk menundukkan kepala sejenak, mengirimkan Al-Fatihah dan doa tulus bagi warga Palestina yang hingga kini masih berada dalam belenggu konflik dan penderitaan.
Menurut Rais Aam, apa yang terjadi di Palestina merupakan duka kemanusiaan yang mendalam, sehingga dukungan dalam bentuk spiritual harus terus diperkuat di samping bantuan materiil yang telah disalurkan. Doa tersebut dipanjatkan agar rakyat Palestina segera mendapatkan kemerdekaan, keamanan, dan perlindungan terbaik dari Tuhan Yang Maha Esa.
Memasuki Abad Kedua: Tantangan dan Harapan NU
Menutup rangkaian acara, pesan-pesan organisatoris juga disampaikan terkait peran NU di masa depan. Memasuki abad kedua, Nahdlatul Ulama diharapkan tetap konsisten sebagai penjaga tradisi keislaman yang moderat (wasathiyah) dan benteng pertahanan ideologi bangsa.
Tantangan global yang semakin kompleks menuntut NU untuk tidak hanya aktif dalam urusan keagamaan, tetapi juga berkontribusi nyata dalam perdamaian dunia dan kesejahteraan umat manusia secara universal.
Peringatan 100 tahun ini menjadi momentum bagi seluruh kader NU untuk memperkuat kemandirian organisasi dan meningkatkan pengabdian kepada masyarakat luas, sejalan dengan visi besar para pendiri NU terdahulu.












