Beranda / Kajian / Tsaqofah / Bersyukur Penutup Kufur

Bersyukur Penutup Kufur

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَلكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ؛ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Artinya: “Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mu’min sejati. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya.” [HR. Muslim no.7692].

Bersyukur merupakan salah satu ajaran dalam agama Islam. Wujud syukur adalah merasa cukup atas setiap pemberian yang ada di kehidupan kita. Dengan bersyukur tentu akan menambah perasaan bahagia pada pribadi kita. Ada banyak hikmah yang dapat kita ambil dari beberapa cerita orang yang tidak beryukur, bahkan berimbas pada kehancuran. Semisal Qarun yang kufur dan merasa sombong akan hartanya lalu ia berakhir karam bersama hartanya. Kemudian Fira’un yang kufur dengan kekuasaan sebagai pemimpin negara yang diberikan Allah Swt. pada akhirnya ditenggelamkan di Laut Merah beserta para pengikutnya.

Baca Juga: Keteguhan Bilal dan Kedermawanan Abu Bakar

Ada satu kisah dalam buku karya Morgan Housel, seorang pengamat ekonomi. Dalam sebuah pesta yang diadakan oleh seorang miliarder mempertemukan dua orang penulis, Kurt Vonnegut dan Joseph Schaller. Sembari menikmati acara, kedua penulis tersebut mengobrol berdua. Di sela-sela obrolan, salah satu penulis mengutarakan bahwa pendapatannya sebagai seorang penulis dalam bertahun-tahun sama seperti pendapatan miliarder ini dalam sehari. Sehingga ia  tidak bisa memiliki rumah dan mobil mewah seperti miliarder ini. Kemudian, penulis lain berkata, “Iya, akan tetapi ada satu hal yang tidak dimiliki oleh miliarder, yaitu rasa cukup”. Dengan rasa cukup kita bisa lebih mensyukuri kenikmatan yang diberikan Allah Swt.

Gemerlap kehidupan modern dan globalisasi ini menuntut kita turut serta berubah dan mengikuti arusnya. Perubahan-perubahan sosial budaya di sekitar kita semakin tak terbendung dengan adanya globalisasi. Arus globalisasi yang semakin deras dan kencang berdampak bagi kehidupan masyarakat. Entah berupa sikap, masalah, kejadian, fenomena, peristiwa dan hal lainnya pasti mempunyai dampak, positif atau pun negatif.

Globalisasi memiliki dampak positif berupa percepatan informasi dan komunikasi, kemudahan tranpostasi, perkembangan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi), dan masih banyak lagi. Namun, globalisasi juga memiliki dampak laten yang tanpa disadari akan berpengaruh di kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah kapitalisme, yang bisa membentuk kelas-kelas ekonomi dan menimbulkan kesenjangan sosial ekonomi masyarakat. Hal ini membuat masyarakat marginal semakin terpinggirkan.

Kapitalisme disinyalir bisa membuat seseorang menjadi pribadi yang sombong dan jauh dari Allah Swt. Kepemilikan modal yang besar dan menjadi investor yang kuat di suatu wilayah akan berpotensi mendominasi perekonomian wilayah tersebut. Adapun kisah Qarun pun juga dilandasi dengan hal yang serupa, sampai dia lalai akan Allah Swt. yang telah memberikan dan mempermudah rezekinya. Sehingga hal tersebut mendatangkan mala petaka bagi dirinya.

Baca Juga: Membaca Syamail Nabi (1): Peneropongan Kognisi Islam

Istidraj adalah istilah yang digunakan untuk orang-orang yang jauh akan Allah Swt. namun selalu diberikan fasilitas serta dilimpahkan dengan kemewahan, kekuasaan, dan kekayaan duniawi. Dalam istilah Jawa-nya, “di elu-elu”.

Kemudahan-kemudahan duniawi sangat mudah diperoleh meski diri sangat jauh dari Allah Swt. Namun demikian, azab Allah Swt. akan jauh lebih pedih dan datangnya tidak bisa diperkirakan. Mungkin saja ketika seseorang berada di puncak kekuasaan, kejayaan dan kekayaannya  kemudian Allah menghinakan dia lebih hina dari yang dia kira, itulah bahaya dari istidraj.

Strategi dan upaya untuk menghadapi era globaliasasi tidak lepas dari peran agama. Agama sebagai pedoman manusia untuk memfilter adanya globalisasi. Tidak semua globalisasi berdampak positif, dan tidak semua globalisasi berdampak negatif sehingga bisa menghanyutkan manusia dalam kekufuran. Globaliasasi bisa dipilah dan difilter agar dapat diaplikasikan secara lurus dalam kehidupan. Dan tentu dengan tidak meninggalkan kaidah-kaidah dalam agama Islam. 

Semoga kita bisa menjadi seseorang yang tergolong dalam ‘abdan syakuran yaitu hamba yang bersyukur atas setiap kenikmatan yang Allah Swt. limpahkan kepada kita. Dihindarkan dari perasaan kufur akan nikmat, serta dijauhkan dari istidraj yang setiap saat bisa selalu mengintai kita. Amin. Wallahu’alam bi shawab. []

Redaktur: Ni’mah Maimunah

Tag: