Home / Warta / Dua Abad Ponpes Bahrul Ulum: Pesantren Tak Sekadar Tradisi, Tapi Motor Perubahan Sosial

Dua Abad Ponpes Bahrul Ulum: Pesantren Tak Sekadar Tradisi, Tapi Motor Perubahan Sosial

nidaulquran.id-Dua abad perjalanan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang bukan hanya catatan sejarah panjang, melainkan refleksi penting tentang peran pesantren sebagai institusi pendidikan, sosial, dan budaya di Indonesia. Berdiri sejak 1825, pesantren ini kini berusia 200 tahun pada 2025, menjadikannya salah satu lembaga pendidikan Islam tertua yang masih aktif dan berkembang.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, KH M. Wafiyul Ahdi, menyebut bahwa saat ini tercatat 14.000 santri menimba ilmu di bawah bimbingan hampir 100 kiai dan nyai. Selain mengelola pendidikan dasar hingga menengah, Bahrul Ulum juga menaungi tiga perguruan tinggi, bahkan sudah membuka program pascasarjana. “Ini bukan kebanggaan semata, melainkan amanah masyarakat yang mempercayakan putra-putrinya untuk dididik di sini,” ujarnya.

Namun, dalam konteks sosial dan pendidikan nasional, capaian ini lebih dari sekadar angka. Sekretaris Panitia Peringatan 2 Abad, KH Azam Choiruman Najib (Gus Heru), menekankan bahwa momen ini harus dilihat sebagai titik proyeksi ke depan. “Perayaan dua abad bukan hanya seremoni. Ia harus melahirkan gagasan strategis untuk transformasi pesantren dalam pendidikan, ekonomi, sosial, hingga teknologi,” jelasnya.

Mengutip dari jatim.nu.or.id, rangkaian acara peringatan dari September hingga puncak 25 Oktober 2025 disusun dengan pendekatan multidimensi: liga sepak bola santri untuk membangun sportivitas dan kesehatan, seminar nasional yang menghadirkan tokoh-tokoh bangsa, pameran UMKM pesantren untuk menunjukkan kemandirian ekonomi, serta Multaqo Santri Nusantara sebagai forum gagasan kolektif.

Dari perspektif analitis, langkah ini menandai pergeseran paradigma pesantren. Jika dahulu pesantren identik dengan pendidikan kitab kuning dan ritual keagamaan, kini Bahrul Ulum mencoba menegaskan diri sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. Dengan melibatkan seminar, ekonomi kreatif, hingga pemanfaatan teknologi, pesantren membuktikan dirinya relevan dengan tantangan abad ke-21.

Tokoh nasional yang dijadwalkan hadir, termasuk Wakil Gubernur Jatim, Menteri Agama, Menko PMK, hingga KH Ma’ruf Amin, menjadi simbol bahwa pesantren semakin masuk ke ruang kebijakan publik. Hal ini penting, sebab tantangan ke depan bukan hanya soal pendidikan agama, tetapi juga bagaimana pesantren menjadi benteng moral sekaligus motor perubahan sosial.

“Dua abad perjalanan Bahrul Ulum menunjukkan pesantren bukan sekadar penjaga tradisi, tetapi juga agen peradaban. Jika mampu mengelola potensi ini, pesantren bisa menjawab problem bangsa: krisis moral, ketimpangan sosial, dan tantangan digital,” ungkap Gus Heru.

Momentum dua abad ini dengan demikian bukanlah akhir dari perjalanan panjang, melainkan pintu masuk menuju babak baru peran pesantren dalam membangun bangsa yang berilmu, berakhlak, sekaligus berdaya saing global.

Tag: