Fondasi Kemenangan dalam Pembebasan Yerusalem

 Fondasi Kemenangan dalam Pembebasan Yerusalem

Source: hipwallpaper.com

NidaulQuran.id | Pada 638 M, Khalifah Umar bin Khattab menerima kunci kota Yerusalem dari Uskup Sophronius. Dasar kehidupan penuh toleransi dikukuhkan oleh Khalifah Umar. Ia menetapkan menetapkan jaminan keamanan untuk diri, kekayaan, gereja dan salib para penduduk non-muslim. Khalifah tidak akan memaksa mereka meninggalkan agamanya.

Setelah ratusan tahun di bawah kekuasaan kaum muslimin, akhirnya pada 1099 M Kota Yerusalem jatuh ke tangan Pasukan Salib. Kekuatan kaum muslim yang tercerai-berai menjadi satu penyebab jatuhnya Yerusalem. Kehidupan kota itu berubah mencekam.

Episode kehidupan yang tidak pernah diinginkan oleh penduduknya benar-benar terjadi. Berhari-hari kota Yerussalem dibanjiri darah umat muslim. Suasana mengerikan pasca penguasaan Pasukan Salib, diungkap oleh Jonathan Phillips dalam bukunya The Crusades, “It was impossible to look on the vast numbers of the slain without horror. Everywhere lay fragments of human bodies, and the very ground was covered with the blood of the slain.” (Mustahil untuk melihat sejumlah besar orang terbunuh tanpa rasa ngeri. Di mana-mana berserakan potongan-potongan tubuh manusia, dan tanahnya pun berlumuran darah orang-orang yang terbunuh.)

Berbagai upaya untuk menyelamatkan Yerusalem dari Pasukan Salib sudah dilakukan oleh entitas pemimpin kaum muslimin. Tetapi semua berujung kegagalan. Hingga akhirnya muncul cahaya terang pada masa kepemimpinan Sultan  Shalahuddin Al Ayyubi. Ia berhasil memimpin perjuangan kaum Muslim melawan pasukan salib.

Baca juga: Santri Sejati Ikuti Jejak Nabi

Shalahuddin Al Ayyubi lahir dengan nama Yusuf, ia lahir di Tikrit dan dibesarkan di Damaskus. Pada masa itu kota Damaskus adalah salah satu pusat keilmuan Islam. Ia menghafal Al-Qur’an dan hadis, mendalami bahasa arab, syair, serta ilmu-ilmu agama di bawah bimbingan para ulama. 

Shalahuddin mewarisi semangat jihad dari para ulama dan umara (pemimpin) sebelumnya. Ia menjadi penerus estafet perjuangan membebaskan kota suci Yerusalem.

Fondasi kemenangan sudah dibangun oleh para ulama dan umara  pendahulu. Sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Majid Irsan al Kilani, bahwa para ulama seperti  Imam Al Ghazali, Syekh Abdul Qadir Al Jailani, dan yang lain berperan besar dalam membangkitkan moral spiritual kaum muslimin setelah kekalahan pada Perang Salib pertama. Para ulama mendidik para generasi muda yang kelak bersama-sama dengan Shalahuddin membebaskan Al-Quds Yerusalem.

Ali bin Thahir as Sulami, seorang ulama besar pada masa itu menuliskan, bahwa satu-satunya solusi untuk menyelamatkan wilayah kaum muslimin dari Pasukan Salib adalah dengan menyeru kaum muslim kepada Jihad. Ada dua kondisi yang perlu dipersiapkan sebelumnya. Pertama, perbaikan moral kaum muslim dengan jihad an-nafs. Kedua, menyatukan kekuatan kaum muslimin untuk jihad qital melawan Pasukan Salib. Ia mengimbau agar para pemimpin muslim memimpin perjuangan tersebut.

Buah didikan para ulama mulai ranum pada masa Nurrudin Zengi, salah satu mentor Shalahuddin. Saat kepemimpinan Nurrudin Zengi, kaum muslim meraih pencapaian jihad yang gemilang. Ia berhasil menyatukan kekuatan muslim saat itu. Nikita Elissef, seorang pakar sejarah mengungkapkan, “The person who would realize the ideal of the jihad which as Sulami Ghazali, an the ‘ulama of Damascus had advocated, was Nurrudin.” (Orang yang akan mewujudkan cita-cita jihad yang diusung Sulami Al Ghazali, seorang ulama Damaskus, adalah Nurrudin)

Setelah Nurruddin Zengi wafat pada tahun 1174, estafet kepemimpinan kaum muslim dilanjutkan oleh Shalahuddin Al Ayyubi. Amanah perjuangan membebaskan kota suci senantiasa dijaga oleh Shalahuddin dan pasukannya.

Baca juga: Ataturk Tidak Pantas Dapat Kehormatan Nama Jalan di Indonesia

Pada Juli 1187, terjadi pertempuran besar antara Pasukan Muslim di bawah komando Shalahuddin melawan Pasukan Salib yang dipimpin Raja Guy de Lusignan. Kemenangan besar berpihak pada pasukan muslimin. Pertempuran yang dikenal dengan Perang Hittin tersebut menjadi pintu utama dalam upaya pembebasan Yerusalem.

Kemenangan di Hittin memuluskan jalan Shalahuddin dan pasukannya untuk menyapu bersih wilayah yang dikuasai Pasukan Salib. Selang dua bulan kemudian, pasukan Muslim sampai di depan benteng yang melindungi kota Yerusalem.

Shalahuddin bersama pasukan muslim mengepung Pasukan Salib berhari-hari. Selama masa pengepungan, pertempuran sengit terjadi di antara kedua belah pihak. Pasukan muslimin semakin hari semakin kuat, sementara pasukan Salib semakin melemah dan kekurangan logistik.

Hingga pada Jum’at, 27 Rajab 583 H/ 2 Oktober 1187 M bertepatan dengan peringatan Isra’ Mi’raj, kota suci Yerusalem secara resmi diserahkan kepada Shalahuddin Al Ayyubi. Berbeda jauh dengan perlakuan Pasukan Salib saat menguasai Yerusalem, Shalahuddin memperlakukan penduduk Yerusalem dengan sangat bijak. Ia memberikan kesempatan bagi penduduknya untuk keluar dari Yerusalem dengan aman dan selamat.

Sikap Shalahuddin yang menunjukkan rasa belas kasihan kepada lawan tersebut senantiasa dikenang oleh sejarah. Dalam satu artikel di World History Encyclopedia menyebut Shalahuddin Al Ayyubi, “… he has been ceaselessly eulogized not just by Muslims but by European Christian as well.” (… dia tak henti-hentinya dipuji tidak hanya oleh orang-orang muslim tetapi juga oleh Kristen Eropa)

Sepenggal kisah pembebasan Yerusalem itu meninggalkan pelajaran yang amat berharga. Betapa peran ulama di tengah umat memegang peran yang vital. Sudah menjadi sunatullah bahwa baik buruknya kualitas masyarakat sangat bergantung dengan lurus tidaknya para ulama yang membimbing.[]

Redaktur: Luthfi Nur Azizah

Yadhik Tanoto

Yadhik Tanoto

Peminat Sejarah Perjuangan Islam

Klik
Konsultasi Syari'ah
Assalamualaikum, ingin konsultasi syariah di sini? Klik bawah ini