Beranda / Kajian / Tarbawi / Mengajar Era 4.0

Mengajar Era 4.0

Nidaul Quran | “Pendidikan memang bukan segala-galanya, tetapi segala-galanya harus dengan pendidikan.” Demikianlah kata-kata bijak dan indah  yang tidak hanya patut direnungkan tetapi harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.  Untuk membangun masyarakat dan bangsa yang bermartabat dan beradab harus dengan memberi perhatian yang serius. Hal itu semua harus diawali dari dunia pendidikan. 

Masih ingatkan cerita dari Negeri Sakura yang sempat diluluhlantakkan tsunami? Namun dari peristiwa itu malah membuat banyak orang belajar dari negeri Jepang, tetang motivasi hidupnya yang tidak pernah pudar, kedisiplinannya, hingga tanggungjawabnya. Banyak orang yang mengakui ketangguhan Negeri Sakura ini. 

Ketika perang dunia II baru saja selesai kaisar Jepang bertanya kepada para menterinya, “ Berapa jumlah guru yang masih hidup di negeri ini?” Sebuah pertanyaan yang penuh makna dan menandakan sebuah bangsa yang cerdas dan paham tentang strategi bagaimana membangun suatu bangsa itu harus dimulai. 

Bangsa Jepang sangat paham bahwa untuk membangun suatu bangsa dan mengubah pola pikir masyarakat, mereka harus menomersatukan Pendidikan. Seorang guru merupakan aset termahal dan terpenting dalam sebuah proses pembelajaran dalam pendidikan.

Maju tidaknya suatu pembelajaran ditentukan seorang guru. Peran mereka tidak bisa digantikan oleh alat elektronik secanggih apapun. “Guru merupakan motivator, observer, diagnosticion, manager, organizer, fasilitator, counselor, and educator,”  kata Fullan( 1991) dalam Tagyong (2001). Itulah peranan multifungsi seorang guru. 

Maka dari itu, kalau ingin  pendidikan maju harus dimulai dari membenahi gurunya. Mereka harus mendapat perhatian yang lebih. Tidak hanya sekadar dihargai sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Lebih dari itu, harus benar-benar menjadi pahlawan yang berjasa.  Guru harus profesional dan menjadi idola anak didiknya agar anak didiknya   “betah” belajar dan bermain bersama karena gurunya memang ok!

Baca juga: Pendidikan yang Memanusiakan

Guru di Era Z , Peradaban Gelombang ke Empat 

Guru memiliki posisi yang vital dan tidak dapat diganti oleh alat secanggih apapun,  maka wajib bagi guru untuk terus meningkatkan kapabilitas yang mengikuti zaman. Budaya belajar bukan sekadar slogan, namun benar-benar menjadi nafas kehidupannya. Karena Guru setiap hari meminta anak didiknya untuk belajar, maka guru wajib belajar, agar tidak terkena ayat “Kabura Maktan”  As-Shaff: 2,  “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?”

Era revolusi teknologi atau peradaban gelombang ke 4 ini menurut pengagas Forum Ekonomi Dunia, Klaus Schwab dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution menjelaskan bahwa era tersebut ditandai dengan kemunculan super komputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, suntingan genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak. Oleh karena itu, zaman ini juga disebut sebagai bentuk era revolusi kecerdasan  

Menjadi seorang guru merupakan refleksi dari tugas kekhalifahan tentu banyak yang perlu dipersiapkan agar mampu mengajar dengan menginspirasi anak didiknya. Agar kemudian anak didiknya menjadi generasi yang cerdas dan produktif, sehingga mampu menghadapi tantangan zaman. 

Era generasi Z  dalam pembelajaran ini di tandai dengan anak-anak  yang memiliki karakter dan  gaya belajar sebagai berikut: menyukai format audio visual, bergantung dengan teknologi, mudah memahami contoh konkrit, kritis saat berpendapat, mampu belajar dengan baik kepada tutor yang memposisikan diri sebagai sahabat dan gemar berinovasi.

Dengan adanya karakter dari peserta didik tersebut,  seorang guru akan efektif ketika mengajar. Ia mampu bersikap sebagai seorang sahabat kepada santrinya dan mendengarkan keluhan santrinya. Tentu dalam komunikasi tersebut santri tetap dengan batasan hormat kepada gurunya.  Sikap seperti ini akan memunculkan rasa percaya santri terhadap gurunya. Sebab guru mampu berempati dengan permasalahan santri. Kalau sudah dipercaya santri, maka perintah guru apapun akan selalu ditaati.

Baca juga: Al-Qur’an Diturunkan Bukan untuk Membuat Kita Susah

Guru menjadi profesi yang terpanjang amal jariyahnya. Tidak akan pernah salah pilihan profesi ini, bila yang kita kehendaki adalah akhirat. Untuk itu, kita perlu mencontoh bagaimana Rasulullah sebagai seorang guru, dalam sikap dan tutur katanya saat berhadapan dengan murid-muridnya. Abdul Fattah Abu Ghuddah menuliskan dalam bukunya Rasulullah Sang Guru bisa kita gunakan sebagai referensi dalam kita mengajar. Beberapa hal yang menarik dalam buku tersebut tentang metode mengajar Rasulullah adalah sebagai berikut : 

  • Keteladanan dalam perilaku
  • Metode dialog dan tanya jawab
  • Menggunakan ilustrasi visual
  • Menggunakan canda dan humor
  • Menggunakan analog atau perumpamaan
  • Menggunakan substansi pengajaran
  • Mengedepankan  motivasi  daripada  ancaman 

Rasulullah mengajarkan agar mendidik anak kita sesuai dengan zamannya, maka pemanfaatan teknologi merupakan suatu keharusan. Demikianlah  mengajar era 4.0, teruslah menjadi guru yang mampu menginspirasi para santri. Hanya guru inspiratif yang dapat menjadikan kehidupan  ini bisa berubah. Maka dari itu, mengajar sebetulnya adalah ekspresi cinta dalam kehidupan. []

Redaktur: Riki Purnomo

Tag: