Mendidik Anak secara Bertahap

 Mendidik Anak secara Bertahap

Source: Media Ibnu Abbas

NidaulQuran.id | Dalam kitab Ar-Rasul Al-Mu’allim disebutkan bahwa Nabi Saw. sangat memperhatikan aspek tahapan (graduasi) dalam belajar. Beliau mengajarkan hal-hal yang penting secara bertahap, sedikit demi sedikit. Sehingga semua materi yang diajarkan dapat diterima dan dipahami dengan mudah. Tersimpan pada setiap hati orang yang belajar kepada beliau, baik secara hafalan maupun pemahaman.

Metode graduasi ini terdokumentasi dengan baik dalam beberapa hadits. Diriwayatkan dari Jundub bin Abdillah Ra, ia berkata,” Sewaktu kami masih remaja, kami pernah (belajar) bersama Rasulullah Saw. Materi yang kami pelajari terlebih dahulu adalah tentang keimanan. Setelah itu barulah kami mempelajari Al-Qur’an. Sehingga ketika kami usai mempelajari Al-Qur’an maka  keimanan kami semakin bertambah.” (HR. Ibnu Majah)

Baca juga: Keberkahan Ilmu Tergantung Adab pada Guru

Hadits lainnya, diriwayatkan dari Ibnu Abbas Ra, bahwasannya ketika Rasululullah mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman beliau bersabda: “Sesungguhnya kamu akan mendatangi ahlu kitab. Maka ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku (Muhammad) adalah utusan-Nya. Jika mereka menaati ajakan itu maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan shalat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka menerima ajakan tersebut maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan zakat atas mereka yang dipungut dari orang-orang kaya kemudian diberikan kepada orang-orang fakir di antara mereka. Jika mereka menaati kewajiban itu, hormatilah harta mereka. Serta takutlah terhadap doa orang orang yang teraniaya. Karena sungguh antara doa mereka dengan Allah tidak ada hijab (penghalang).” (HR. Bukhari Muslim)

Metode Rasulullah dalam sekolah nubuwwah (kenabian) sangat sederhana, beliau mendahulukan pondasi sebelum bangunan, akar sebelum batang dan yang pokok sebelum cabang atau ranting. Adapun tahapan utama yang didahulukan adalah  pendidikan iman, karena itulah pondasinya.

Syeikh Nasikh ‘Ulwan dalam kitabnya Tarbiyatul Aulad menjelaskan bahwa pendidikan iman ini mengikat anak dengan dasar-dasar keimanan sejak ia mengerti, membiasakannya dengan rukun Islam sejak ia memahami, dan mengajarkan dasar-dasar syariat sejak tamyiz. Beliau juga menjelaskan bahwa dasar keimanan adalah segala sesuatu yang ditetapkan melalui pemberitaan secara benar, berupa hakikat keimanan dan masalah gaib. 

Adapun yang dimaksud dengan rukun Islam adalah setiap ibadah yang bersifat badani maupun materi, yakni shalat, puasa, zakat dan haji bagi yang mampu melaksanakannya.  Sedangkan yang dimaksud dengan dasar-dasar syariat adalah segala yang berhubungan dengan sistem atau aturan ilahi dan ajaran ajaran Islam, yakni akidah, ibadah, akhlak, perundang-undangan, peraturan dan hukum.

Baca juga: Para Perintis Pembebasan Al Quds Yerusalem (1187)

Salah satu ajaran Nabi dalam pendidikan iman adalah metode tafakur akan kebesaran Allah. Dengan menjelaskan dari hal-hal yang konkret hingga yang abstrak, mulai dari yang khusus kepada yang umum dan dari yang sederhana kepada yang lebih kompleks. Oleh karena itu, untuk menguatkan keimanan anak-anak, mari kita berdialog dengan mereka wahai ayah!

Ayah : “Wahai anakku, tahukah bagaimana Allah memberikan kita makanan?”

Anak : “Bagaimana ayah?”

Ayah : “Ayo, kita lihat bersama di sawah depan rumah kita”

Anak : “Ayo yah!”

Ayah : “Coba lihat tanaman padi yang sudah menguning itu! Pak Tani menanam padi itu dari biji sejak 3 bulan yang lalu. Allah Ta’ala menurunkan hujan dari langit, kemudian air hujan itu mengairi persawahan. Padi pun tumbuh dengan sangat baik sehingga pak Tani siap memanen padinya hari ini.

Anak: “Subhanallah, Allah Maha memberi rizki ya, yah?

Ayah: “Iya, semua makhluk di bumi ini Allah yang mencukupi semua kebutuhan makanannya Termasuk burung-burung yang bisa menikmati biji padi itu. Nah, mulai sekarang bersyukurlah selalu kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan kepada kita. Jangan membuang nasi lagi ya! Ambil secukupnya dan habiskan. Semoga Allah memberkahi makanan kita.

Ayah : “Allah menjelaskan hal ini dalam Al-Qur’an surah ‘Abasa ayat 24-32: (Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, Kami-lah yang telah mencurahkan air, melimpah (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu di sana Kami tumbuhkan biji-bijian, dan anggur dan sayur-sayuran, dan zaitun dan pohon kurma, dan kebun-kebun (yang rindang), dan buah-buahan serta rerumputan.(Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu.”

Ya Allah, tumbuhkan dan kokohkan keimanan di hati anak-anak kami. ‘Ya muqollibal quluubi tsabbit qolbiy ‘alaa diinika, Ya mushorrifal quluub, shorrif quluubanaa ‘alaa tho’atika’ (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. Wahai Dzat yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami untuk selalu taat kepada-Mu).[]

Redaktur: Ni’mah Maimunah

Kusyaeni, S.Pd.I.

Kusyaeni, S.Pd.I.

Kepala Kuttab Ibnu Abbas

Klik
Konsultasi Syari'ah
Assalamualaikum, ingin konsultasi syariah di sini? Klik bawah ini